Umat kristen kerap kali melecehkan Islam dengan meributkan kalimat "Insya Allah". Dengan hujjah bahwa TIDAK ADA KEPASTIAN DALAM ISLAM DENGAN KALIMAT INSYA ALLAH. Disini mereka hanya tidak mampu memahami makna yang bnar dari kalimat Insya Allah itu sendiri, untuk membaca makna kalimat Insya Allah silahkah baca DISINI
Merujuk pada penolakan umat kristen terhadap kalimat Insya Allah artinya kristen sama saja melanggar kitabnya sendiri dengan terang-terangan,
Simak ayat sebagai berikut,
Kisah para rasul fatsal 18 ayat 21; (1960)
Melainkan sambil meminta diri ia berkata: Insya Allah, aku akan kembali padamu.
TL (1954)
Kis 18:21 melainkan sambil meminta diri ia berkata, "Insya Allah aku akan kembali kepadamu." Lalu berlayarlah ia dari Epesus.
KSI (2000)
Kis 18:21
Ia berkata, “Insya Allah, aku akan kembali kepadamu nanti.” Kemudian ia berangkat dari Efesus dan berlayar.
Shellabear Draft (1912)
Kis 18:21
lalu bermohon juga serta berkata, Insya Allah aku akan berbalik pula kepadamu." Maka berlayarlah ia dari Epesus
Klinkert 1879 (1879)
Kis 18:21 Maka bermoehoenlah ija kapada mareka-itoe, katanja: Tadapat tidak akoe mendapati hari-raja, jang datang ini, di Jeroezalem, kemoedian akoe hendak balik kapada kamoe, insja' Allah. Hata maka berlajarlah ija dari Epesoes.
Leydekker Draft (1733)
Kis 18:21
Tetapi bermohonlah 'ija kapada marika 'itu, 'udjarnja: sakali 2 haros 'aku memegang masa raja jang datang 'itu di-Jerusjalejm: tetapi 'aku 'akan pulang kapada kamu, 'insja`-'allah. Maka berlajerlah 'ija deri pada 'Efsus.
Alkitab Sabda|Kis 18:21
Yakobus fatsal 4 ayat 13-17 (1960)
Hai kamu jang berkata: "Bahwa hari ini atau besoknja biarlah kita pergi kenegeri anu serta menahun disitu, dan berniaga dan mentjari laba"; pada halnja kamu tiada mengetahui apa jang akan djadi besoknja. Bahaimanakah hidupmu itu? Karena kamu hanja suatu uap, jang kelihatan seketika sahadja lamanja, lalu lenjap. Melainkan patutlah kamu berkata: "Insya Allah, kita akan hidup membuat ini atau itu". Tetapi dengan hal jang demikian kamu memegahkan dirimu dengan djemawanmu itu; maka semua kemegahan jang demikian itu djahat. Sebab itu, djikalau orang jang tahu berbuat baik, pada halnja tiada diperbuatnja, maka mendjadi dosalah baginja.
TL (1954)
Yak 4:15
Melainkan patutlah kamu berkata, "Insya Allah, kita akan hidup membuat ini atau itu.
KSI (2000)
Yak 4:15
Kalau begitu, hendaklah kamu berkata, “Insya Allah, kami akan hidup dan akan berbuat begini atau begitu.
Klinkert 1879 (1879)
Yak 4:15
Melainkan patoetlah kamoe berkata demikian: Insja' Allah dan kalau ada djandji kami, maka kami hendak memboewat ini ataw itoe.
Alkitab Sabda|Yak 4:15
1Kor 4:19 (1960)
Tetapi Insya Allah aku akan datang kepadamu dengan segera......dst.
TL (1954)
1Kor 4:19 Tetapi insya Allah aku akan datang kepadamu
dengan segeranya, dan aku akan mengetahui bukan perkataan mereka itu yang membesarkan diri sahaja, melainkan kuasanya itu
KSI (2000)
1Kor 4:19 Tetapi insya Allah, aku akan datang kepadamu sesegera mungkin. Dengan begitu aku akan mengetahui bukan saja perkataan dari orang-orang yang membesar- besarkan dirinya itu, melainkan juga kekuatan mereka.
Shellabear Draft (1912)
1Kor 4:19
tetapi insya Allah aku akan datang kepadamu dengan
segeranya, supaya dapat kuketahui dari hal orang yang membesarkanbdirinya itu bukan perkataannya melainkan kuasanya.
Klinkert 1879 (1879)
1Kor 4:19
Tetapi dengan sigera djoega akoe datang, insja' Allah, laloe akoe hendak mengetahoei, boekan perkataan mareka-itoe, jang menjombong dirinja, melainkan koewasanja;
Alkitab Sabda|1Kor 4:19
Begitu jelas dalam alkitab bahwa kalimat "Insya Allah" tercantum, lalu atas dasar apa mereka menolak kalimat tersebut ? Mungkin karena kebutaan mereka akan alkitab serta karena kebencian mereka terhadap Islam.
Wallahu’alam Bish-shawab..
Jumat, 21 Juni 2013
Makna Insya Allah Dalam Islam
Surah al-Kahfi : 23-24
"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut); 'Insya Allah'."
Asbabun Nuzul
Suatu hari, kaum Quraisy mengutus an-Nadlr bin al-Harts dan Uqbah bin Abi Mu'ith menemui seorang pendeta Yahudi di Madinah untuk menanyakan kenabian Muhammad. Lalu, kedua utusan itu menceritakan segala hal yang berkaitan dengan sikap, perkataan, dan perbuatan Muhammad.
Lalu, pendeta Yahudi berkata, "Tanyakanlah kepada Muhammad akan tiga hal. Jika dapat menjawabnya, ia Nabi yang diutus. Akan tetapi, jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku sebagai Nabi. Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. Kedua, tanyakan juga tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi padanya. Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang roh."
Pulanglah utusan itu kepada kaum Quraisy. Lalu, mereka berangkat menemui Rasulullah SAW dan menanyakan ketiga persoalan tersebut di atas. Rasulullah SAW bersabda, "Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok." Rasul menyatakan itu tanpa disertai kalimat "insya Allah".
Rasulullah SAW menunggu-nunggu wahyu sampai 15 malam, namun Jibril tak kunjung datang. Orang-orang Makkah mulai mencemooh dan Rasulullah sendiri sangat sedih, gundah gulana, dan malu karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada kaum Quraisy. Kemudian, datanglah Jibril membawa wahyu yang menegur Nabi SAW karena memastikan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan "insya Allah".
Merujuk pada ahli tafsir
Mufassir Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Kitab Jaami'ul Bayan menjelaskan, "Inilah pengajaran Allah kepada Rasulullah SAW agar jangan memastikan suatu perkara akan terjadi tanpa halangan apa pun, kecuali menghubungkannya dengan kehendak Allah SWT.
tafsir Jalalain
(Kecuali dengan menyebut "Insya Allah") artinya, mengecualikannya dengan menggantungkan hal tersebut kepada kehendak Allah,
Maka disini sangat jelas bahwa kalimat "Insya Allah" adalah memasrahkan dan menggantungkan kepastian sesuatu hal yang kita tidak mengetahuinya dengan mengucapkan "Insya Allah".
Sumber : Artikel Republika Online dengan sedikit perubahan
"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut); 'Insya Allah'."
Asbabun Nuzul
Suatu hari, kaum Quraisy mengutus an-Nadlr bin al-Harts dan Uqbah bin Abi Mu'ith menemui seorang pendeta Yahudi di Madinah untuk menanyakan kenabian Muhammad. Lalu, kedua utusan itu menceritakan segala hal yang berkaitan dengan sikap, perkataan, dan perbuatan Muhammad.
Lalu, pendeta Yahudi berkata, "Tanyakanlah kepada Muhammad akan tiga hal. Jika dapat menjawabnya, ia Nabi yang diutus. Akan tetapi, jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku sebagai Nabi. Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. Kedua, tanyakan juga tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi padanya. Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang roh."
Pulanglah utusan itu kepada kaum Quraisy. Lalu, mereka berangkat menemui Rasulullah SAW dan menanyakan ketiga persoalan tersebut di atas. Rasulullah SAW bersabda, "Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok." Rasul menyatakan itu tanpa disertai kalimat "insya Allah".
Rasulullah SAW menunggu-nunggu wahyu sampai 15 malam, namun Jibril tak kunjung datang. Orang-orang Makkah mulai mencemooh dan Rasulullah sendiri sangat sedih, gundah gulana, dan malu karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada kaum Quraisy. Kemudian, datanglah Jibril membawa wahyu yang menegur Nabi SAW karena memastikan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan "insya Allah".
Merujuk pada ahli tafsir
Mufassir Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Kitab Jaami'ul Bayan menjelaskan, "Inilah pengajaran Allah kepada Rasulullah SAW agar jangan memastikan suatu perkara akan terjadi tanpa halangan apa pun, kecuali menghubungkannya dengan kehendak Allah SWT.
tafsir Jalalain
(Kecuali dengan menyebut "Insya Allah") artinya, mengecualikannya dengan menggantungkan hal tersebut kepada kehendak Allah,
Maka disini sangat jelas bahwa kalimat "Insya Allah" adalah memasrahkan dan menggantungkan kepastian sesuatu hal yang kita tidak mengetahuinya dengan mengucapkan "Insya Allah".
Sumber : Artikel Republika Online dengan sedikit perubahan
Kamis, 20 Juni 2013
Shahih Al-Bukhari
SHAHIH AL-BUKHARI
Oleh: Ustadz Nur Kholis bin Kurdian
Publication: 1434 H_2013 M
SHAHIH AL-BUKHARI
Oleh: Ustadz Nur Kholis bin Kurdian
Sumber: Majalah As-Sunnah No.1 Thn. XVI_1433 H/2012 M
A. PENDAHULUAN
Hadits Rasulullah saw. adalah salah satu dari dua sumber pokok ajaran Islam, dan salah satu dari dua wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah saw. Sebagimana firman Allah swt.
Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. an-Najm/53:3-4)
Allah juga berfirman :
Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimn, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah (QS. al-Hasyr/59:7)
Hadits Rasulullah saw. jika dilihat dari sisi kodifikasinya maka ia telah dibukukan sejak zaman Rasulullah saw, akan tetapi masih bersifat personal, adapun kodifikasi hadits yang bersifat umum dan resmi dengan mendapat perintah dari seorang khalifah terjadi pada masa Tabiin, tepatnya pada masa Khalifah 'Umar bin Abdul 'Aziz rahimahullah (w. 101 H). Sedangkan al-Qur'an telah dikodifikasikan secara resmi pada masa sahabat dengan perintah Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq r.a.
Banyak opini yang menyebar dikalangan sebagian publik akademis bahwa hadits nabi selama satu abad penuh belum ditulis dan masih berupa hafalan yang ditransfer dari masa ke masa. Opini tersebut mungkin disebabkan perkataan sebagaian Ulama hadits yang menyatakan bahwa yang pertama kali mengkodifikasi hadits adalah Ibn Shihab alZuhri rahimahullah (w. 124 H) (setelah mendapat perintah dari Khalifah 'Umar bin Abd al-Aziz). Opini tersebut menyebar kira-kira 5 abad berturut-turut hingga datang masa Khatib al-Baghdadi yang telah meneliti dan mengumpulkan data otentik dari fakta-fakta yang ada, sehingga ia dapat menjelaskan kepada umat bahwa hadits Nabi telah dibukukan sejak abad pertama hijriyah. Penelitiannya tersebut ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul "Taqyid al-'Ilm ". (1)
Pada masa Rasulullah hadits nabi saw. telah ditulis, banyak data dan fakta yang membuktikan hal itu, diantaranya ;
1. Perkataan Abu Hurairah , "Tidak ada diantara para Sahabat Nabi yang lebih banyak haditsnya dariku kecuali Abdullah bin Amr karena ia menulis (hadits dari Rasulullah menulisnya." sedangkan aku tidak pernah (2)
2. Rasulullah saw. pernah memerintakan para Sahabat untuk menuliskan hadits kepada seorang laki-laki dari negeri Yaman seraya berkata, "Tuliskanlah hadits untuk Abu Syah.." (3)
3. Adanya penulisan hadits pada Suhuf (lembaranlembaran), seperti;
a. Lembaran Abu Bakar al-Shiddiq yang ada di dalamnya hadits-hadits tentang zakat.
b. Lembaran Ali bin Abi Thalib
c. Lembaran Abdullah bin Amr bin Ash sebagainya. (4)
4. Adanya dorongan untuk menghapal hadits dan menguatkan hapalan tersebut dengan cara menulis hadits terlebih dahulu dan menghapalnya. Setelah mereka hapal dan kuat hapalannya maka tulisan tersebut mereka hapus dengan tujuan agar mereka tidak bergantung dengan tulisan tersebut. (5)
5. Adanya surat menyurat antara mereka dalam menyampaikan hadits Nabi saw. Misalnya; Jabir bin Samurah menulis beberapa hadits dan mengirimkannya kepada Amir bin Sa'd bin Abi Waqqash atas permintaan darinya.
6 Kemudian datang generasi Tabi'in, pada priode ini hadits dikodifikasikan secara resmi atas perintah Khalifah Umar bin abdul Aziz. (7)
Al-Zuhri berkata, "Umar bin Abdul Aziz memerintahkan kepadaku untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi saw. Lalu setelah terkumpul aku menulisnya pada beberapa buku, dan beliau mengirimkannya kepada para pemimpin. (8)
Pada masa ini pula banyak sahifah (lembaran) yang telah ditulis memuat hadits-hadits Nabi saw, diantaranya:
a. Shahifah Sa'id bin Jubair (w. 95 H) murid Ibn Abbas .
b. Shahifah Bashir bin Nuhaik ia menulis dari Abu Hurairah.
c. Shahifah Mujahid bin Jabr murid Ibnu Abbas.
d. Shahifah Muhammad bin Muslim bin Tadrus (w. 126 H) murid Jabir bin Abdillah. Dan lain sebagainya. (10)
Kemudian datang generasi Tabiut Tabi'in. Pada masa ini muncullah mushannafat (buku-buku hadits) yang ditulis oleh para Ulama waktu itu, seperti kitab (buku-buku) alMuwattha', Sunan, Musannaf, Jami' (11) dan buku-buku Ajza'. (12)
Pada periode berikutnya yaitu periode Tabi'ul Atba' sekitar abad ke III H, pada periode ini buku-buku hadits ditulis dan dibukukan dengan memiliki corak yang berbeda dengan priode sebelumnya, seperti;
1. Munculnya buku-buku Musnad, seperti Musnad Abu Dawud al-Thayalisi (w. 204 H), Musnad al-Humaidi (w. 219 H), Musnad Ahmad bin Hambal (w. 241 H) dan lainlain.
2. Munculnya buku-buku Jawami', seperti al-Jami' alShahih karya Imam al-Bukhari (w. 256 H), al-Jami' karya Imam al-Tirmidzi (w. 279 H) dan lain-lain.
3. Munculnya buku-buku Sunan, seperti al-Sunan karya Imam Abu Dawud (w. 275 H), al-Sunan karya Imam Ibn Majah (w. 273 H) dan lain-lain.
4. Munculnya buku buku Mukhtalif al-Hadits, seporti 'ihtilaful hadits karya Imam Syafi'i (w. 204 H), Ta'wil
Mukhtaliful hadits karya Ibn Qutaibah (w. 276 H), dan lain-lain. (13)
Penulisan hadits tersebut terus berlangsung dari masa ke masa dengan corak yang berbeda-beda hingga pada abad ini. Dari sekilas runtutan sejarah kodifikasi hadits diatas dapat diketahui posisi Shahih al-Bukhari (al-Jami' al-Shahih) karya Imam al-Bukhari. Kitab ini termasuk kitab hadits yang ditulis pada abad ke-3 H.
B. LATAR BELAKANG PENULISAN SHAHIH BUKHARI
Tidak asing lagi bagi siapa saja yang menulis suatu karya ilmiah baik skripsi, tesis maupun desertasi, maka sudah pasti disana ada yang namanya latar belakang masalah. Bagian ini mengungkapkan latar belakang dan segala seluk beluk persoalan yang berkaitan dengan masalah, baik teoritis maupun gejala empiris, yang rnenjelaskan mengapa masalah itu perlu diteliti atau ditulis. Hal tersebut merupakan bagian dari metode para Ulama sejak dahulu dalam menulis suatu buku atau kitab.
Imam al-Bukhari dalam menulis kitabnya al-Jami' alShahih memiliki tiga hal yang melatarbelakangi penulisan buku tersebut, yaitu:
1. 1.Belum adanya kitab hadits yang khusus memuat haditshadits shahih dan mencakup berbagai bidang dan permasalahan. al-Hafidz Ibn Hajar al-'Asqalani berkata, "Ketika beliau melihat buku-buku hadits yang ditulis sebelumnva telah memuat bermacam-macam hadits, ada yang shahih, hasan dan banyak pula yang dliaif, maka tidak dapat disamakan (atau dijadikan satu) antara hadits dhaif dengan hadits shahih, oleh sebab itu beliau tertarik untuk mengumpulkan hadits-hadits shahih saja. (14)
2. Ada motivasi dan guru beliau yakni Ishak bin Rahuyah . Ibnu Hajar berkata, "Dan keinginannya tersebut menjadi kuat setelah ia mendengar gurunya yang termasuk pakar dalam bidang hadits dan fikih yaitu Ishak bin Rahuyah, ia berkata, 'Andaikata engkau menulis satu buku hadits yang berisikan haditshadits shahih (maka hal itu sangat baik)". Kemudian Imam Bukhari berkata, "Perkataan tersebut membekas dalam hatiku, kemudian aku mengumpulkan hadits-hadits shahih dalam kitab tersebut". (15)
3. Ada motivasi dari mimpi baiknya. Imam Bukhari pernah bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw.
Beliau berkata, "Aku pernah bermimpi bertemu Rasulullah saw, aku berdiri dihadapannya dan mengipasinya, kemudian aku menanyakan mimpi tersebut kepada orang yang ahli menta'bir mimpi, ia menjawab, "Kamu menolak kedustaan yang disandarkan kepada Rasulullah saw.
Hal itulah yang menyebabkan aku menulis al-Jami' al-Shahih (Shahih Bukhari). (16)
C. KRITERIA HADITS SHAHIH MENURUT IMAM BUKHARI
Pada dasarnya kreteria hadits Shahih ada dua macam. Pertama, kriteria yang munttafaq alaiha yaitu kreteria yang disepakati oleh para Ulama, baik Imam al-Bukhari maupun yang lainnya. Kedua, kriteria yang mukhtalafun fiha yaitu kreteria yang masih diperselisihkan oleh para Ulama. (17)
Kriteria shahih yang munttafaq ada lima macam, yaitu: hadits
1. Ittishalus Sanad (sanadnya bersambung).
Artinya sebuah hadits dapat dimasukkan dalam kategori shahih jika sanadnya bersambung, yakni setiap perawi benarbenar meriwayatkanya langsung dari gurunya, (18) dan gurunya langsung dari gurunya, demikianlah hingga bersambung kepada Rasulullah saw.
2. 'Adalatur Ruwah (para perawinya adil).
Maksudnya perawinya harus seorang Muslim, mukallaf, berakal, baligh, selamat dari kefasikan atau dosa besar dan tidak terus menerus melakukan dosa-dosa kecil, dan menjaga martabat atau muru'ah. (19) Menjaga muru'ah maksudnya menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak martabat dan menurunkan harga diri seseorang meskipun tidak berdosa secara syara'.
3. Tamamudh Dhabth.
Yaitu super kuat dalam menjaga hafalan dan perawatan naskah. Dhabth ini ada dua macam, yaitu Dhabthu Shadr, maksudnya adalah kuatnya hafalan terhadap hadits yang sudah didengarkan dari gurunya, ia ingat terhadap hapalannya itu kapan saja diperlukan. Dan Dhabtu Kitab, maksudnya adalah sangat berhati-hati dalam menjaga tulisan hadits yang dipelajari dari gurunya, setelah ia mentashihnya, baik dengan cara memperdengarkannya kepada sang guru atau teman seprofesinya, jika ada kesalahan dalam tulisannya, ia segera membetulkannya. Ia menjaganya sampai ia meriwayatkannya kepada muridnya. (20)
4. Ghairu Syadz.
Yaitu perawinya tidak bertolak belakang dan bertentangan dengan periwayatan perawi lain yang semisalnya yang jumlahnya lebih banyak atau lebih tsiqah darinya. (21)
5. Ghairu Mu'allal. Hadits shahih harus selamat dari 'illah qadihah, yaitu suatu cacat yang tersembunyi dibalik hadits yang dapat merusak keshahihan hadits tersebut, sekalipun secara dhahir tampaknya tidak ada masalah. (22)
Adapun kriteria hadits shahih yang mukhtalaf fiha cukup banyak diantaranya :
- Perawi harus masyhur (terkenal) menurut al-Hakim.
- Perawi harus lebih dari satu orang menurut mu'tazilah.
- Perawi harus faqih menurut Imam Abu Hanifah.
- Pada hadits mu'an'an, Imam Bukhari mensyaratkan bahwa semua perawi harus bertemu dengan gurunya meskipun satu kali, artinya hadits mu'an'an tersebut masuk kategori hadits shahih atau muttashil sanadnya, jika memenuhi kreteria-kreteria hadits shahih yang muttafaq alaiha ditambah dengan kreteria lain yaitu semua perawinya harus bertemu dengan gurunya meskipun satu kali, tidak cukup hanya hidup satu masa mu'asharah) dan Imkanul Liqa' (memungkinkan bertemu antara keduanya).
- Dan masih banyak lagi kriteria-kriteria lain yang mukhtalafun fiha. (23)
Akan tetapi, kriteria hadits shahih yang mukhtalaf fiha ini sudah mendapat jawaban dari para Ulama bahwasanya kriteria hadits shahih yang muttafaq alaiha (disepakati) sudah mewakili kriteria hadits shahih yang mukhtalaf fiha (diperselisihkan). Adapun kreteria yang disyaratkan oleh Imam al-Bukhari tersebut menurut mereka bukanlah kriteria hadits yang hanya mendapatkan label shahih akan tetapi merupakan kriteria hadits yang paling shahih. (24)
Mengenai hadits mu'an'an, jumhur Ulama berpendapat bahwasannya hadits tersebut dapat dikatakan shahih atau muttashil sanadnya, jika memiliki dua syarat.
Pertama; perawi (mu'an'in) (25) bukan seorang mudallis. (26)
Kedua; antara perawi (mu'an'in) dan gurunya (mu'an'an 'anhu) memungkinkan untuk bertemu dan hidup dalam saru masa (mu'asharah). Adapun Imam al-Bukhari tidak demikian, syarat beliau lebih ketat dibandingkan syarat jumhur, sebagaimana yang tersebut di atas beliau mensyaratkan liqa' (bertemu antara perawi dan gurunya), oleh sebab itu Shahih Bukhari lebih unggul dibandingkan yang lainnya. (27 i
Kemudian dalam hal perawi, Imam al-Bukhari memilih perawi tingkat pertama dalam hal ke-dhabithan dan keitqanan (kesempurnaan) serta thulul mulazamah (lamanya belajar hadits kepada gurunya) yakni perawi yang sangat kuat hafalannya dan sangat lama ber-mulazamah kepada gurunya (perawi semacam ini beliau jadikan sebagai inti kitabnya). Kemudian beliau memilih tingkatan dibawahnya dalam hal itqan dan mulazamah sebagai ittishal dan ta'liq (dan syawahid serta mutaba'ah). Adapun Imam Muslim , murid Imam al-Bukhari , beliau menjadikan tingkatan kedua ini sebagai inti kitabnya sebagaimana yang telah disebutkan oleh al-Hazimi. (28) Oleh sebab itu Shahih Bukhari secara global lebih unggul dibandingkan Shahih Muslim.
D. PENUTUP
Sebagai penutup, Penulis di sini menyebutkan beberapa kesimpulan yang dapat dipetik dari uraian diatas, antara lain:
1. Shahih al-Bukhari adalah kitab hadits yang pertama kali memuat hadits-hadits shahih saja, setelah itu muncul Shahih Muslim. Dan keduanya tersebut merupakan kitab yang paling shahih setelah al-Qur'an.
2. Shahih al-Bukhari lebih shahih dibandingkan dengan Shahih Muslim, karena Syarat Imam Bukhari lebih ketat dibandingkan dengan Imam Muslim.
3. Ketatnya syarat Imam al-Bukhari tampak jelas pada ittishalus sanad (persambungan sanad) dalam hadits Mu'an'an beliau mensyaratkan liqa' antara perawi (mu'an'in) dan gurunya (mu'an'an 'anhu), dan terlihat pula dalam memilih perawi hadits ia memilih perawi peringkat pertama dari sisi dhabth, itqan dan thulul mulazamah.
4. Syarat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya jika dibandingkan dengan syarat para penulis kitab Sunan, maka sudah jelas syarat Imam al-Bukhari jauh lebih ketat, karena ia hanya memasukkan hadits-hadits shahih saja sebagai inti kitab, berbeda dengan para penulis sunan, mereka memasukkan bermacam-macam hadits dalam kitab-kitab mereka, ada yang shahih ada yang hasan dan ada pula yang dhaif maupun dhaif jiddan.
________________________
1 ) Tadwinus Sunnah, Nasy'atuh wa Tathawwuruh, Muhammad bin Matar al-Zahrani, (Madinah; Dar al-Khudairi, 1998), hlm. 74.
2 ) al-Jami'us Shahih [Shahih Bukhari], Tahqiq Dr. Musthafa Dib alBugha, Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, (Beirut: Dar Ibn Katsir, 1407 H/1987 M), 1/54.
3 ) Ibid. 2/857
4 ) Tadwinus Sunnah.., al-Zahrani, hlm. 90-91, bittasharruf yasir.
5 ) Taqyid al-'Ilm, Ahmad bin 'Ali al-Khatib al-Baghdadi, (t.tp: Dar Ihya' al-Sunnah al-Nabawiwah, 1978 M), hlm. 58.
6 ) Lihat al-Musnad, Ahmad bin Hanbal al-Shaibani, 34/421 (Beirut: Muassasat al-Risalah, 1420 H/1999 M)
7 ) Tadwinus Sunnah wa Manzilatuha, Abdulmun'im al-Sayyid Najm, (Madinah: al-Jami'ah al-Islamiyyah, 1399 H), hlm. 42
8 ) Jami' Bayan al-Ilm wa Fadhlihi, Yusuf bin Abdillah Ibn Abdil Barr, 1/331 (Arab Saudi: Dar Ibn al-Jauzi, 1414 H)
9 ) Tadwinus Sunnah....., al-Zahrani, hlm. 96.
10 ) Buhuts fi Tarikh al-Sunnah al-Musharrafah, Akram Dhiya' al-'Umary, (Madinah; Maktabat al-'Ulum wa al-Hikam, 1994), hlm. 230.
11 ) Buhuts fi Tarikh...,al-'Umary, hlm. 301.
12 ) Tadwinus Sunnah..., al-Zahrani, hlm. 103.
13 ) Tadwinus Sunnah... al Zahrani, hlm. 112. Dengan sedikit tambahan dari penulis.
14 ) Hadyus Sari, Muqaddimah Shahih al-Bukhari, Ahmad bin Ali bin Hajar Al-'Asqalani, 1/6 (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H),
15 ) Ibid. Lihat Tadrib al-Rawi Shar Taqrib al-Nawawi, Abdurrahman bin Abu Bakr al-Suyuthi, 1/92 (Riyadh: Dar Taibah, 1422 H). Lihat Tarikh Baghdad, Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khatib al-Baghdadi, 2/326 (Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1422 H). Lihat Tarikh Dimasyq, Ali bin al-Hasan terkenal dengan sebutan Ibn 'Asakir, 52/72 (Beirut: Dar alFikr, 1415 H). Lihat Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, Yahya bin Syaraf al-Nawawi, 1/74 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.th). Lihat Tahdzib al-Kamal, Yusuf bin Abdurrahman al-Mizzi, 24/442 (Beirut: Muassasa al-Risalah, 1400 H). Lihat Siyar A'lam al-Nubala', Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi, 10/84 (Cairo: Dar al-Hadits, 1427 H)
16 ) Hadyus Sari ..,al-Asqalani, 1/7. Lihat Tahdzib al-Asma'..., al-Nawawi, 1/74. Lihat Tadrib al-Rawi..., al-Suyuthi, 1/92.
17 ) Lihat Tadrib al-Rawi Syarh Taqrib al-Nawawi, Abdurrahman bin Abu Bakr al-Suyuthi, 1/61-69 (Riyadh: Dar Thaibah, 1422 H). Dengan diringkas oleh penulis.
18 ) al-Ta'liqat al-Atsariyah ala al-Mandzumah al-Baiquniyyah, Ali bin Hasan al-Halabi (Arab Saudi: Dar Ibn al-Jauzi, 1428 H), hlm. 21.
19 ) Dhawabth al-Jarh wa al-Ta'dil, Abdul Aziz bin al-abdul Latif (Riyadh: Maktabah al-'Ubaikan, 1426 H), hlm. 23.
20 ) Fathul Mughits Syarh Alfiyatil Hadits, Muhammad bin Abdurrahman alSakhawi, 1/28 (Mesir: Maktabatus Sunnah, 1424 H). Bittasharruf yasir minal katib.
21 ) al-Ta'liqat al-Atsariyah ala al-Mandzumah al-Baiquniyyah, Ali bin Hasan al-Halabi, hlm. 21
22 ) Ibid. Lihat Taisir Musthalah hadits, Mahmud al-Thahhan (Riyadh: Maktabah al-Ma'arif, 1417 H), hlm. 99
23 ) Tadrib al-Rawi Syarh Taqrib al-Nawawi, Abdurrahman bin Abu Bakr al-Suyuthi, 1/68-69 (Riyadh: Dar Thaibah, 1422 H). Dengan diringkas oleh penulis.
24 ) Ibid.
25 ) Perawi yang menggunakan نع dalam meriwayatkan hadits. 26 Perawi yang melakukan tadlis.
27 Lihat Taisir Musthalah hadits, Mahmud al-Thahhan (Riyadh: Maktabah al-Ma'arif, 1417 H), hlm. 87.
28 Lihat Syuruth al-Aimmah al-Khamsah, Muhammad bin Musa al-Hazimi (Beirut: Darul Hijrah, 1408 H), hlm. 57-58. Lihat Tadrib al-Rawi Syarh Taqrib al-Nawawi, Abdurrahman bin Abu Bakr al-Suyuthi, 1/97 (Riyadh: Dar Thaibah, 1422 H).
Oleh: Ustadz Nur Kholis bin Kurdian
Publication: 1434 H_2013 M
SHAHIH AL-BUKHARI
Oleh: Ustadz Nur Kholis bin Kurdian
Sumber: Majalah As-Sunnah No.1 Thn. XVI_1433 H/2012 M
A. PENDAHULUAN
Hadits Rasulullah saw. adalah salah satu dari dua sumber pokok ajaran Islam, dan salah satu dari dua wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah saw. Sebagimana firman Allah swt.
Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. an-Najm/53:3-4)
Allah juga berfirman :
Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimn, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah (QS. al-Hasyr/59:7)
Hadits Rasulullah saw. jika dilihat dari sisi kodifikasinya maka ia telah dibukukan sejak zaman Rasulullah saw, akan tetapi masih bersifat personal, adapun kodifikasi hadits yang bersifat umum dan resmi dengan mendapat perintah dari seorang khalifah terjadi pada masa Tabiin, tepatnya pada masa Khalifah 'Umar bin Abdul 'Aziz rahimahullah (w. 101 H). Sedangkan al-Qur'an telah dikodifikasikan secara resmi pada masa sahabat dengan perintah Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq r.a.
Banyak opini yang menyebar dikalangan sebagian publik akademis bahwa hadits nabi selama satu abad penuh belum ditulis dan masih berupa hafalan yang ditransfer dari masa ke masa. Opini tersebut mungkin disebabkan perkataan sebagaian Ulama hadits yang menyatakan bahwa yang pertama kali mengkodifikasi hadits adalah Ibn Shihab alZuhri rahimahullah (w. 124 H) (setelah mendapat perintah dari Khalifah 'Umar bin Abd al-Aziz). Opini tersebut menyebar kira-kira 5 abad berturut-turut hingga datang masa Khatib al-Baghdadi yang telah meneliti dan mengumpulkan data otentik dari fakta-fakta yang ada, sehingga ia dapat menjelaskan kepada umat bahwa hadits Nabi telah dibukukan sejak abad pertama hijriyah. Penelitiannya tersebut ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul "Taqyid al-'Ilm ". (1)
Pada masa Rasulullah hadits nabi saw. telah ditulis, banyak data dan fakta yang membuktikan hal itu, diantaranya ;
1. Perkataan Abu Hurairah , "Tidak ada diantara para Sahabat Nabi yang lebih banyak haditsnya dariku kecuali Abdullah bin Amr karena ia menulis (hadits dari Rasulullah menulisnya." sedangkan aku tidak pernah (2)
2. Rasulullah saw. pernah memerintakan para Sahabat untuk menuliskan hadits kepada seorang laki-laki dari negeri Yaman seraya berkata, "Tuliskanlah hadits untuk Abu Syah.." (3)
3. Adanya penulisan hadits pada Suhuf (lembaranlembaran), seperti;
a. Lembaran Abu Bakar al-Shiddiq yang ada di dalamnya hadits-hadits tentang zakat.
b. Lembaran Ali bin Abi Thalib
c. Lembaran Abdullah bin Amr bin Ash sebagainya. (4)
4. Adanya dorongan untuk menghapal hadits dan menguatkan hapalan tersebut dengan cara menulis hadits terlebih dahulu dan menghapalnya. Setelah mereka hapal dan kuat hapalannya maka tulisan tersebut mereka hapus dengan tujuan agar mereka tidak bergantung dengan tulisan tersebut. (5)
5. Adanya surat menyurat antara mereka dalam menyampaikan hadits Nabi saw. Misalnya; Jabir bin Samurah menulis beberapa hadits dan mengirimkannya kepada Amir bin Sa'd bin Abi Waqqash atas permintaan darinya.
6 Kemudian datang generasi Tabi'in, pada priode ini hadits dikodifikasikan secara resmi atas perintah Khalifah Umar bin abdul Aziz. (7)
Al-Zuhri berkata, "Umar bin Abdul Aziz memerintahkan kepadaku untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi saw. Lalu setelah terkumpul aku menulisnya pada beberapa buku, dan beliau mengirimkannya kepada para pemimpin. (8)
Pada masa ini pula banyak sahifah (lembaran) yang telah ditulis memuat hadits-hadits Nabi saw, diantaranya:
a. Shahifah Sa'id bin Jubair (w. 95 H) murid Ibn Abbas .
b. Shahifah Bashir bin Nuhaik ia menulis dari Abu Hurairah.
c. Shahifah Mujahid bin Jabr murid Ibnu Abbas.
d. Shahifah Muhammad bin Muslim bin Tadrus (w. 126 H) murid Jabir bin Abdillah. Dan lain sebagainya. (10)
Kemudian datang generasi Tabiut Tabi'in. Pada masa ini muncullah mushannafat (buku-buku hadits) yang ditulis oleh para Ulama waktu itu, seperti kitab (buku-buku) alMuwattha', Sunan, Musannaf, Jami' (11) dan buku-buku Ajza'. (12)
Pada periode berikutnya yaitu periode Tabi'ul Atba' sekitar abad ke III H, pada periode ini buku-buku hadits ditulis dan dibukukan dengan memiliki corak yang berbeda dengan priode sebelumnya, seperti;
1. Munculnya buku-buku Musnad, seperti Musnad Abu Dawud al-Thayalisi (w. 204 H), Musnad al-Humaidi (w. 219 H), Musnad Ahmad bin Hambal (w. 241 H) dan lainlain.
2. Munculnya buku-buku Jawami', seperti al-Jami' alShahih karya Imam al-Bukhari (w. 256 H), al-Jami' karya Imam al-Tirmidzi (w. 279 H) dan lain-lain.
3. Munculnya buku-buku Sunan, seperti al-Sunan karya Imam Abu Dawud (w. 275 H), al-Sunan karya Imam Ibn Majah (w. 273 H) dan lain-lain.
4. Munculnya buku buku Mukhtalif al-Hadits, seporti 'ihtilaful hadits karya Imam Syafi'i (w. 204 H), Ta'wil
Mukhtaliful hadits karya Ibn Qutaibah (w. 276 H), dan lain-lain. (13)
Penulisan hadits tersebut terus berlangsung dari masa ke masa dengan corak yang berbeda-beda hingga pada abad ini. Dari sekilas runtutan sejarah kodifikasi hadits diatas dapat diketahui posisi Shahih al-Bukhari (al-Jami' al-Shahih) karya Imam al-Bukhari. Kitab ini termasuk kitab hadits yang ditulis pada abad ke-3 H.
B. LATAR BELAKANG PENULISAN SHAHIH BUKHARI
Tidak asing lagi bagi siapa saja yang menulis suatu karya ilmiah baik skripsi, tesis maupun desertasi, maka sudah pasti disana ada yang namanya latar belakang masalah. Bagian ini mengungkapkan latar belakang dan segala seluk beluk persoalan yang berkaitan dengan masalah, baik teoritis maupun gejala empiris, yang rnenjelaskan mengapa masalah itu perlu diteliti atau ditulis. Hal tersebut merupakan bagian dari metode para Ulama sejak dahulu dalam menulis suatu buku atau kitab.
Imam al-Bukhari dalam menulis kitabnya al-Jami' alShahih memiliki tiga hal yang melatarbelakangi penulisan buku tersebut, yaitu:
1. 1.Belum adanya kitab hadits yang khusus memuat haditshadits shahih dan mencakup berbagai bidang dan permasalahan. al-Hafidz Ibn Hajar al-'Asqalani berkata, "Ketika beliau melihat buku-buku hadits yang ditulis sebelumnva telah memuat bermacam-macam hadits, ada yang shahih, hasan dan banyak pula yang dliaif, maka tidak dapat disamakan (atau dijadikan satu) antara hadits dhaif dengan hadits shahih, oleh sebab itu beliau tertarik untuk mengumpulkan hadits-hadits shahih saja. (14)
2. Ada motivasi dan guru beliau yakni Ishak bin Rahuyah . Ibnu Hajar berkata, "Dan keinginannya tersebut menjadi kuat setelah ia mendengar gurunya yang termasuk pakar dalam bidang hadits dan fikih yaitu Ishak bin Rahuyah, ia berkata, 'Andaikata engkau menulis satu buku hadits yang berisikan haditshadits shahih (maka hal itu sangat baik)". Kemudian Imam Bukhari berkata, "Perkataan tersebut membekas dalam hatiku, kemudian aku mengumpulkan hadits-hadits shahih dalam kitab tersebut". (15)
3. Ada motivasi dari mimpi baiknya. Imam Bukhari pernah bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw.
Beliau berkata, "Aku pernah bermimpi bertemu Rasulullah saw, aku berdiri dihadapannya dan mengipasinya, kemudian aku menanyakan mimpi tersebut kepada orang yang ahli menta'bir mimpi, ia menjawab, "Kamu menolak kedustaan yang disandarkan kepada Rasulullah saw.
Hal itulah yang menyebabkan aku menulis al-Jami' al-Shahih (Shahih Bukhari). (16)
C. KRITERIA HADITS SHAHIH MENURUT IMAM BUKHARI
Pada dasarnya kreteria hadits Shahih ada dua macam. Pertama, kriteria yang munttafaq alaiha yaitu kreteria yang disepakati oleh para Ulama, baik Imam al-Bukhari maupun yang lainnya. Kedua, kriteria yang mukhtalafun fiha yaitu kreteria yang masih diperselisihkan oleh para Ulama. (17)
Kriteria shahih yang munttafaq ada lima macam, yaitu: hadits
1. Ittishalus Sanad (sanadnya bersambung).
Artinya sebuah hadits dapat dimasukkan dalam kategori shahih jika sanadnya bersambung, yakni setiap perawi benarbenar meriwayatkanya langsung dari gurunya, (18) dan gurunya langsung dari gurunya, demikianlah hingga bersambung kepada Rasulullah saw.
2. 'Adalatur Ruwah (para perawinya adil).
Maksudnya perawinya harus seorang Muslim, mukallaf, berakal, baligh, selamat dari kefasikan atau dosa besar dan tidak terus menerus melakukan dosa-dosa kecil, dan menjaga martabat atau muru'ah. (19) Menjaga muru'ah maksudnya menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak martabat dan menurunkan harga diri seseorang meskipun tidak berdosa secara syara'.
3. Tamamudh Dhabth.
Yaitu super kuat dalam menjaga hafalan dan perawatan naskah. Dhabth ini ada dua macam, yaitu Dhabthu Shadr, maksudnya adalah kuatnya hafalan terhadap hadits yang sudah didengarkan dari gurunya, ia ingat terhadap hapalannya itu kapan saja diperlukan. Dan Dhabtu Kitab, maksudnya adalah sangat berhati-hati dalam menjaga tulisan hadits yang dipelajari dari gurunya, setelah ia mentashihnya, baik dengan cara memperdengarkannya kepada sang guru atau teman seprofesinya, jika ada kesalahan dalam tulisannya, ia segera membetulkannya. Ia menjaganya sampai ia meriwayatkannya kepada muridnya. (20)
4. Ghairu Syadz.
Yaitu perawinya tidak bertolak belakang dan bertentangan dengan periwayatan perawi lain yang semisalnya yang jumlahnya lebih banyak atau lebih tsiqah darinya. (21)
5. Ghairu Mu'allal. Hadits shahih harus selamat dari 'illah qadihah, yaitu suatu cacat yang tersembunyi dibalik hadits yang dapat merusak keshahihan hadits tersebut, sekalipun secara dhahir tampaknya tidak ada masalah. (22)
Adapun kriteria hadits shahih yang mukhtalaf fiha cukup banyak diantaranya :
- Perawi harus masyhur (terkenal) menurut al-Hakim.
- Perawi harus lebih dari satu orang menurut mu'tazilah.
- Perawi harus faqih menurut Imam Abu Hanifah.
- Pada hadits mu'an'an, Imam Bukhari mensyaratkan bahwa semua perawi harus bertemu dengan gurunya meskipun satu kali, artinya hadits mu'an'an tersebut masuk kategori hadits shahih atau muttashil sanadnya, jika memenuhi kreteria-kreteria hadits shahih yang muttafaq alaiha ditambah dengan kreteria lain yaitu semua perawinya harus bertemu dengan gurunya meskipun satu kali, tidak cukup hanya hidup satu masa mu'asharah) dan Imkanul Liqa' (memungkinkan bertemu antara keduanya).
- Dan masih banyak lagi kriteria-kriteria lain yang mukhtalafun fiha. (23)
Akan tetapi, kriteria hadits shahih yang mukhtalaf fiha ini sudah mendapat jawaban dari para Ulama bahwasanya kriteria hadits shahih yang muttafaq alaiha (disepakati) sudah mewakili kriteria hadits shahih yang mukhtalaf fiha (diperselisihkan). Adapun kreteria yang disyaratkan oleh Imam al-Bukhari tersebut menurut mereka bukanlah kriteria hadits yang hanya mendapatkan label shahih akan tetapi merupakan kriteria hadits yang paling shahih. (24)
Mengenai hadits mu'an'an, jumhur Ulama berpendapat bahwasannya hadits tersebut dapat dikatakan shahih atau muttashil sanadnya, jika memiliki dua syarat.
Pertama; perawi (mu'an'in) (25) bukan seorang mudallis. (26)
Kedua; antara perawi (mu'an'in) dan gurunya (mu'an'an 'anhu) memungkinkan untuk bertemu dan hidup dalam saru masa (mu'asharah). Adapun Imam al-Bukhari tidak demikian, syarat beliau lebih ketat dibandingkan syarat jumhur, sebagaimana yang tersebut di atas beliau mensyaratkan liqa' (bertemu antara perawi dan gurunya), oleh sebab itu Shahih Bukhari lebih unggul dibandingkan yang lainnya. (27 i
Kemudian dalam hal perawi, Imam al-Bukhari memilih perawi tingkat pertama dalam hal ke-dhabithan dan keitqanan (kesempurnaan) serta thulul mulazamah (lamanya belajar hadits kepada gurunya) yakni perawi yang sangat kuat hafalannya dan sangat lama ber-mulazamah kepada gurunya (perawi semacam ini beliau jadikan sebagai inti kitabnya). Kemudian beliau memilih tingkatan dibawahnya dalam hal itqan dan mulazamah sebagai ittishal dan ta'liq (dan syawahid serta mutaba'ah). Adapun Imam Muslim , murid Imam al-Bukhari , beliau menjadikan tingkatan kedua ini sebagai inti kitabnya sebagaimana yang telah disebutkan oleh al-Hazimi. (28) Oleh sebab itu Shahih Bukhari secara global lebih unggul dibandingkan Shahih Muslim.
D. PENUTUP
Sebagai penutup, Penulis di sini menyebutkan beberapa kesimpulan yang dapat dipetik dari uraian diatas, antara lain:
1. Shahih al-Bukhari adalah kitab hadits yang pertama kali memuat hadits-hadits shahih saja, setelah itu muncul Shahih Muslim. Dan keduanya tersebut merupakan kitab yang paling shahih setelah al-Qur'an.
2. Shahih al-Bukhari lebih shahih dibandingkan dengan Shahih Muslim, karena Syarat Imam Bukhari lebih ketat dibandingkan dengan Imam Muslim.
3. Ketatnya syarat Imam al-Bukhari tampak jelas pada ittishalus sanad (persambungan sanad) dalam hadits Mu'an'an beliau mensyaratkan liqa' antara perawi (mu'an'in) dan gurunya (mu'an'an 'anhu), dan terlihat pula dalam memilih perawi hadits ia memilih perawi peringkat pertama dari sisi dhabth, itqan dan thulul mulazamah.
4. Syarat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya jika dibandingkan dengan syarat para penulis kitab Sunan, maka sudah jelas syarat Imam al-Bukhari jauh lebih ketat, karena ia hanya memasukkan hadits-hadits shahih saja sebagai inti kitab, berbeda dengan para penulis sunan, mereka memasukkan bermacam-macam hadits dalam kitab-kitab mereka, ada yang shahih ada yang hasan dan ada pula yang dhaif maupun dhaif jiddan.
________________________
1 ) Tadwinus Sunnah, Nasy'atuh wa Tathawwuruh, Muhammad bin Matar al-Zahrani, (Madinah; Dar al-Khudairi, 1998), hlm. 74.
2 ) al-Jami'us Shahih [Shahih Bukhari], Tahqiq Dr. Musthafa Dib alBugha, Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, (Beirut: Dar Ibn Katsir, 1407 H/1987 M), 1/54.
3 ) Ibid. 2/857
4 ) Tadwinus Sunnah.., al-Zahrani, hlm. 90-91, bittasharruf yasir.
5 ) Taqyid al-'Ilm, Ahmad bin 'Ali al-Khatib al-Baghdadi, (t.tp: Dar Ihya' al-Sunnah al-Nabawiwah, 1978 M), hlm. 58.
6 ) Lihat al-Musnad, Ahmad bin Hanbal al-Shaibani, 34/421 (Beirut: Muassasat al-Risalah, 1420 H/1999 M)
7 ) Tadwinus Sunnah wa Manzilatuha, Abdulmun'im al-Sayyid Najm, (Madinah: al-Jami'ah al-Islamiyyah, 1399 H), hlm. 42
8 ) Jami' Bayan al-Ilm wa Fadhlihi, Yusuf bin Abdillah Ibn Abdil Barr, 1/331 (Arab Saudi: Dar Ibn al-Jauzi, 1414 H)
9 ) Tadwinus Sunnah....., al-Zahrani, hlm. 96.
10 ) Buhuts fi Tarikh al-Sunnah al-Musharrafah, Akram Dhiya' al-'Umary, (Madinah; Maktabat al-'Ulum wa al-Hikam, 1994), hlm. 230.
11 ) Buhuts fi Tarikh...,al-'Umary, hlm. 301.
12 ) Tadwinus Sunnah..., al-Zahrani, hlm. 103.
13 ) Tadwinus Sunnah... al Zahrani, hlm. 112. Dengan sedikit tambahan dari penulis.
14 ) Hadyus Sari, Muqaddimah Shahih al-Bukhari, Ahmad bin Ali bin Hajar Al-'Asqalani, 1/6 (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H),
15 ) Ibid. Lihat Tadrib al-Rawi Shar Taqrib al-Nawawi, Abdurrahman bin Abu Bakr al-Suyuthi, 1/92 (Riyadh: Dar Taibah, 1422 H). Lihat Tarikh Baghdad, Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khatib al-Baghdadi, 2/326 (Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1422 H). Lihat Tarikh Dimasyq, Ali bin al-Hasan terkenal dengan sebutan Ibn 'Asakir, 52/72 (Beirut: Dar alFikr, 1415 H). Lihat Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, Yahya bin Syaraf al-Nawawi, 1/74 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.th). Lihat Tahdzib al-Kamal, Yusuf bin Abdurrahman al-Mizzi, 24/442 (Beirut: Muassasa al-Risalah, 1400 H). Lihat Siyar A'lam al-Nubala', Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi, 10/84 (Cairo: Dar al-Hadits, 1427 H)
16 ) Hadyus Sari ..,al-Asqalani, 1/7. Lihat Tahdzib al-Asma'..., al-Nawawi, 1/74. Lihat Tadrib al-Rawi..., al-Suyuthi, 1/92.
17 ) Lihat Tadrib al-Rawi Syarh Taqrib al-Nawawi, Abdurrahman bin Abu Bakr al-Suyuthi, 1/61-69 (Riyadh: Dar Thaibah, 1422 H). Dengan diringkas oleh penulis.
18 ) al-Ta'liqat al-Atsariyah ala al-Mandzumah al-Baiquniyyah, Ali bin Hasan al-Halabi (Arab Saudi: Dar Ibn al-Jauzi, 1428 H), hlm. 21.
19 ) Dhawabth al-Jarh wa al-Ta'dil, Abdul Aziz bin al-abdul Latif (Riyadh: Maktabah al-'Ubaikan, 1426 H), hlm. 23.
20 ) Fathul Mughits Syarh Alfiyatil Hadits, Muhammad bin Abdurrahman alSakhawi, 1/28 (Mesir: Maktabatus Sunnah, 1424 H). Bittasharruf yasir minal katib.
21 ) al-Ta'liqat al-Atsariyah ala al-Mandzumah al-Baiquniyyah, Ali bin Hasan al-Halabi, hlm. 21
22 ) Ibid. Lihat Taisir Musthalah hadits, Mahmud al-Thahhan (Riyadh: Maktabah al-Ma'arif, 1417 H), hlm. 99
23 ) Tadrib al-Rawi Syarh Taqrib al-Nawawi, Abdurrahman bin Abu Bakr al-Suyuthi, 1/68-69 (Riyadh: Dar Thaibah, 1422 H). Dengan diringkas oleh penulis.
24 ) Ibid.
25 ) Perawi yang menggunakan نع dalam meriwayatkan hadits. 26 Perawi yang melakukan tadlis.
27 Lihat Taisir Musthalah hadits, Mahmud al-Thahhan (Riyadh: Maktabah al-Ma'arif, 1417 H), hlm. 87.
28 Lihat Syuruth al-Aimmah al-Khamsah, Muhammad bin Musa al-Hazimi (Beirut: Darul Hijrah, 1408 H), hlm. 57-58. Lihat Tadrib al-Rawi Syarh Taqrib al-Nawawi, Abdurrahman bin Abu Bakr al-Suyuthi, 1/97 (Riyadh: Dar Thaibah, 1422 H).
Rabu, 19 Juni 2013
Wird Allathif Beserta Syarahnya
WIRD ALLATHIF HUJJATUL ISLAM AL IMAM ABDULLAH BIN ALWIALHADDAD (teks arab tidak saya lampirkan, sebab teks Arab hasil copy paste terbalik)
Oleh Alfaqir Munzir Almusawa
Beliau adalah seorang pakar hadits termasyhur dan telah mencapai gelar Hujjatul Islam, dan gelar hujjatul islam hanya diberikan pada mereka yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya.
Surat Al Ikhlas
1. Katakanlah : Dialah Allah, Yang Maha Esa,
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadnya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
Surat Al Falaq
1. Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai Subuh,
2. Dari kejahatan makhluknya,
3. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
4. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul
5. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.
Surat An Naas
1. Katakanlah : aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2. Raja manusia
3. Sembahan manusia
4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi
5. Yang membisikan (kejahatan) kedalam dada manusia
6. Dari (golongan) Jin dan manusia.
Rabbi ‘audzubika min hamadzatisysyayatin * wa’audzubika Rabbi an yahdhurun (3X)
Artinya,
Dan katakanlah wahai Tuhan aku berlindung pada-Mu dari bisikan dan godaan syaitan, dan aku belindung dari kehadiran mereka (3x).
Afahasibtum annamaa kholaknaakum ‘abatta wa annakum ilayna laaturja’un
Artinya,
Apakah kalian mengira sesungguhnya kalian ini diciptakan dengan sia-sia dan sungguh apakah kalian mengira kalian tidak akan dikembalikan kepada kami.
Fata’alallahulmalikulhaqqu laa ilaha illa hua Rabbul arsyil kariim.
Artinya,
Maka maha luhurlah Allah, maha Raja, Maha Benar, tiada Tuhan selain-Nya, Maha pemilik Arsy yang agung.
Waman yad’u ma’allahi ilahan akhoro laa burhaana lahu bihi fainnamaa hisaabuhu ‘indarabbihi innahu laa yuflihulkaaafiruun.
Artinya,
Dan barang siapa yang menyeru oleh selain Allah SWT berupa Tuhan yang lain maka dia tidak akan mendapatkan petunjuk dan kemuliaan dan sungguh perhitungannya kelak disisi Allah SWT, sungguh Dia Allah tidak akan membuat orang-orang kafir mendapat keberuntungan.
Wa qul rabbighfir warham wa anta khairurrahimiin
Artinya,
Dan katakanlah wahai Tuhanku ampunilah dan kasihanilah kami dan Kau lah sebaik-baik yang menyayangi.
Fasubhaanallahi hiina tumsuuna wa hiina tushbahuun.
Artinya,
Maka Maha Suci Allah SWT mulai sore hari hingga malam hari.
Walahulhamdu fissamawaati wal ardhi wa ‘asyiyyaa wa hiina tudzhiruun.
Artinya,
Dan milik-Nya lah segala puji disetiap tingkatan-tingkatan langit dan bumi sepanjang petang dan ketika kalian dimunculkan.
Yukhrijulhayya minalmayyiti wa yukhrijul mayyita minalhayyi wa yuhyil ardho ba’da mautihaa wa kadzalika tukhrojuun.
Artinya,
Allah SWT mengeluarkan dari yang mati, mengeluarkan kehidupan dari kematian dan mengeluarkan kematian dari kehidupan, dan menghidupkan bumi setelah kematiannya, dan demikianlah mereka akan dikeluarkan kelak dihari Kiamat.
A’udzubillahissamii’il ‘aliim minasysyaitonnirrajiim.
Artinya,
Aku berlindung kepada Allah SWT yang Maha mendengar dan Maha mengetahui daripada syetan yang terkutuk (3x).
Lau anzalnaa hadzal qur ana ‘ala jabalin laraitahu khoosyi’an mutashoddi’an min khosyyatillahi wa tilkal amtsalu nadhribuhaa linnaasi la’allahum yatafakkaruun.
Artinya,
Kalau sekiranya kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaanperumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.
Huwallahulladzii laa ilaha illa huwa ‘alimul ghoibi wasysyahaadati huwarrahmanurrahiim. Huwallahulladzi laa ilaha illa huwalmalikul quddususus salaamul mu’minul muhaiminul ‘azizull jabbaarul mutakabbiru subhaanallahi ‘ammaa yusyrikuun.
Artinya,
Dia-lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha suci, Yang Maha sejahtera, Yang mengaruniakan keamanan, Yang memelihara, Yang Maha perkasa, Yang Maha kuasa, Yang memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Huwallahul khooliqul baariul mushawwiru lahul asmaaul husna yusabbihu lahu maa fissamawaati wal ardhi wahuwal ‘azizul hakiim.
Artinya,
Dia-lah Allah yang menciptakan, Yang mengadakan, Yang membentuk Rupa, Yang mempunyai nama-nama, Yang paling baik. Bertasbih kepadanya apa yang ada dilangit dan dibumi. Dan Dia-lah yang Maha perkasa lagi maha bijaksana.
Salaamu ‘ala nuuhi fil ‘aalamin
Artinya,
Salam sejah terah atas Nabi Nuh dialam semesta.
Innaa kadzalika najzil muhsiniin.
Artinya,
Sungguh demikianlah kami memberi balasan kemuliaan kepada orang-orang yang beramal baik
Innahu min ‘ibadinaal mu’miniin.
Artinya,
Dan sungguh Nabi Nuh as itu adalah diantara hamba- hamba kami yang beriman.
audzu bikalimaatillahittaammaati min syarri maa kholaq
Artinya,
Aku berlindung dengan kalimat Allah swt yang Sempurna dari keburukan-keburukan ciptaannya.
Bismillahilladzii laa yadurru ma’asmihi syaiun fil ardhi walaa fissamaa i wahuwassamii’ul ‘aliim.
Artinya,
Dengan nama Allah yang tiada akan membawa mudhorot dosa apapun yang ada dilangit dan dibumi dan Dialah yang Maha mendengar dan Maha mengetahui (3x).
Allahumma inna ashbahtu minka fi ni’matin wa ‘afiyatin wa sitrin faatmim ni’mataka ‘alayya wa’afiyataka wasitraka fiddunya wal akhiroh.
Artinya,
Wahai Allah sungguh aku melewati pagi ini dariMu dalam kenikmatan, dalam kesembuhan dan afiah, dalam perlindungan maka sempunkanlah nikmatan-Mu atasku dan kesembuhanmu yang Kau berikan kepadaku dan lindungilah aku didunia dan akhirat.
Allahumma innii ashbahtu usyhiduka wausyhidu hamalata ‘arsyika wamalaaikataka wajami’I kholqika innaka antallaha laa ilaha illa anta wahdaka laa syarikalak,waanna sayyidanaa muhammadan ‘abduhu warosuuluk.
Artinya,
Wahai Allah sungguh aku melewati pagi ini disaksikan oleh-MU dan disaksikan oleh para penopang ArsyMu dari pada para Malaikat dan seluruh MalaikatMu dan seluruh ciptaanMU, mereka semua menyaksikan aku, bahwa sungguh Engkau adalah Allah yang tiada Tuhan selainMu yang Maha Tunggal dan tiada sekutu bagiMu, Dan sungguh Sayyidina Muhammad adalah hambaMu dan RasulMu. (mengucapkan syahadat disaksikan oleh seluruh Malaikat dan seluruh makhluk).
Alhamdulillahi robbil ‘alamiina hamdan yuwaafi ni’amahu wayukaafi maziidah.
Artinya,
Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam, pujian yang mencakup seluruh kenikmatannya dan mencakup seluruh kelebihan kenikmatan (3x)
Amantu billahil ‘adziim,wakafartu biljibti watthoghuuti wastamsaktu bil’urwatil wutsqoo lanfishooma laha wallahu samii’un ‘aliim
Artinya,
Segala Puji bagi Allah yang Maha Agung, dan aku berpaling dari pada semua kejahatan dan sesembahan selain Allah dan aku berpegang teguh dengan tali yang erat, dan Allah Maha mendengar dan Maha mengetahui (3x).
Radhitu billahi rabba wabil islaami diinaa wabi muhammadin shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallama nabiyya warasuulaa
Artinya,
ku ridho dengan Allah sebagai Tuhan dan Islam sebagai agama dan Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul (3x).
Hasbiyallahu laa ilaha illaa huwa ‘alaihi tawakkaltu wahuwa rabbul ‘arsyil ‘adziim
Artinya,
Cukuplah bagiku Allah, Tiada Tuhan selain-Nya, kepada-Nya aku bertawakal dan Dialah pemilik Arsy yang Agung.
Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammadin wa alihi wa shohbihi wasallim.
Artinya,
Ya Allah limpahkanlah sholawat untuk Sayyidina Muhammad dan keluarganya dan sahabatnya dan limpahkan baginya salam.
Allahumma innii as aluka min fujaa atil khoir, wa ‘audzubika min fujaa atisy syar.
Artinya,
Wahai Allah sungguh aku minta kepadaMU kejutan kebaikan dan aku berlindung kepada-Mu dari kejutan- kejutan yang buruk.
Allahumma anta robbiy laa ilaha illa anta kholaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wawa’dika mastatho’tu, a’idzubika min syarri maa shona’tu abu u laka bini’matika ‘alayya wa abuu u bidzanbii faghfirlii fainnahu laa yaghfirudzdzunuba illa anta
Artinya,
Wahai Allah Engkaulah Tuhanku tiada Tuhan selai-Mu, Engkaulah yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu dan aku berada dalam perjanjian-Mu dan ikatan kesetiaanku pada-Mu semampuku, aku berlindung dari buruknya perbuatanku dan aku sadar kenikmatan-kenikmatanMu padaku dan aku sadar atas dosa-dosaku, dan ampunilah aku maka sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau.
Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta ‘alaika tawakkaltu wa anta robbil ‘arsyil ‘adziim, ma syaaa allahu kaana wamaa lam yasya’ lam yakun, wala haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adziim. A’lamu annallaha ‘ala kulli syaiin qodiir, wa annallaha qod ahatho bikulli syaiin ‘ilma. Allahumma innii a’udzuika min syarri nafsii wamin syarri kulli daaabbatin anta aakhidzu bina shiyatiha, inna robbii ‘ala shirotin mushtaqiim.
Artinya,
Wahai Allah sungguh Engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan selai-Mu, pada-Mu aku bertawakal dan Engkaulah pemilik Arsy yang Agung, apa-apa yang dikhendaki Allah SWT akan terjadi dan yang tidak yang dikehendaki Allah tidak akan terjadi, tiada daya dan upaya selain dengan kekuatan Allah yang Maha tinggi dan Maha Agung, aku tau sungguh Allah itu berkuasa atas segala sesuatu dan sungguh Allah itu meliputi segala sesuatu dengan pengetahuannya (Maha tahu atas segala sesuatu). Wahai Allah aku sungguh aku berlindung dari buruknya diriku dan dari kejahatan semua makhluk dan ciptaan-Mu sungguh Engkau mengenggam semua ubun-ubun mereka (kepala), sungguh Tuhanku berada pada jalan yang benar.
Yaa hayyu yaa qoyyumu birahmatika astaghitsu wamin ‘adzabika astakhiiru ashlih lii sya’nii kullahu walaa takilni ila nafsii walaa ilaa ahadin min kholqika thorfata ‘ainin. Allahumma inni ‘audzubika minal hammi wal hazani, wa ‘audzubika minal ‘ajdzi wal kasal wa ‘audzubika minal jubni wal bukhli wa ‘audzubika min gholabatiddaini wa qohrirrijaal.
Artinya,
Wahai yang Maha hidup dan Maha berdiri sendiri aku beristighotsah dan mohon bantuan pada Rahmat-Mu, Dan aku berlindung kepada-Mu dan mohon dijauhkan dari siksa, perbaikilah keadaanku semuanya, dan janganlah Engkau palingkan aku pada diriku dan jangan Kau palingkan aku pada ciptaan-ciptaanMu sekejappun selalulah aku didalam khusyuk kepadamu. Wahai Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-MU dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu daripada sifat pengecut dan sifat kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari terjebak oleh hutang-hutang dan didholimi oleh penguasa.
Allahumma innii asalukal ‘afwa wal ‘afiyah fiddunya wal akhiroh
Artinya,
Wahai Allah sungguh aku meminta kepadamu kesembuhan dan afiah, dunia dan akhirat.
Allahumma innii asalukal ‘afwa wal’afiyah wal mu’afatiddaaimah fii diinii wadunyaa wa ahlii wa maalii
Artinya,
Wahai Allah sungguh aku meminta kepadamu maaf-Mu, dan afiah-Mu dan atas segala yang mengganggu kita jasad kita dan ruh kita dan penjagaan dan pemeliharaan yang abadi dalam agamaku, duniaku, keluargaku, hartaku
Allahummastur ‘aurootii wa aamin rou’aatii.
Artinya,
Wahai Allah tutupilah auratku dan kejahatan- kejahatanku dan jagalah aku Dari apa yang kurisaukan
Allahummahfadznii min baini yadayya wamin kholfii wa’an yamiinii, wa’an syimaalii, wamin fauqii. Wa ‘audzu bi’adzomatika an ughtaala min tahti.
Artinya,
Wahai Allah jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku ,dari atasku dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari pada kejahatan yang datang dari bawahku (fitnah dari bumi/ sihir).
Allahumma anta kholaqtanii waanta tahdiinii waanta tuth’imunii waanta tusqiinii waanta tumitunii waanta tuhyiinii waanta ‘ala kulli syaiin qodiir.
Artinya,
Wahai Allah sungguh Engkaulah yang menciptakan aku dan Engkau yang memberi aku hidayah, Engkau yang memberiku makanan, Engkau yang memberiku minuman dan Engkaulah yang menghidupkan aku dan engkaulah yang mematikanku dan Engkaulah yang berkuasa ats segala sesuatu
Ashbahnaa ‘ala fitrotil islaami wa ‘ala kalimatil ikhlaashi wa ‘ala diini nabiyyanaa muhammadin shollallahu ‘alaihi wa alihi wasallam.
Artinya,
Aku lewati pagi ini dengan kesucian islam dan kulewati pagi ini dalam kalimat yang ikhlas pada agama Nabi Muhammad saw.
Allahumma bika ashbahnaa wabika amsainaa wabika nahyaa wabika namuutu.
Artinya,
Wahai Allah bersama-Mu kami melewati pagi ini dan bersama-Mu kami melewati sore ini dan denganmu kami hidup dan denganmu pula kami wafat.
Wa’alaika natawakkalu wa ilaikannasyuuru
Artinya,
Dan kepada-Mu kami bertawakal dan kepadamu pula kami akan kembali.
Ashbahnaa wa ashbahal mulku lillahi walhamdulillahi robbil ‘aalamiin
Artinya,
Kami melewati pagi ini dan kami lewati pagi ini sedangkan kerajaan alam semesta tetap milik Allah dan segala puji untuk Allah.
Allahumma innii as aluka khoiro hadzal yaumi fathahu wa nashrohu wa nuurohu wa barakatahu wa hudahu.
Artinya,
Wahai Allah sungguh aku meminta kebaikan hari ini, kemenangannya, pertolongannya, cahayanya, keberkahannya, dan petunjuk hidayahnya yang ada di hari ini .
Alahumma innii as aluka khoiro hadzal yaumi wa khoiro maa fiihi wa khoiro maa qoblahu wa khoiro maa ba’dahu.
Artinya,
Sungguh Allah aku meminta kepada-Mu kebaikan hari ini dan kebaikan yang apa-apa tersimpan hari ini dan kebaikan pada hari yang lain dan kebaikan yang ada pada hari esok.
Wa’audzubika min syarri hadzal yaumi, wa syarri maa fiihi wa syarri maa qoblahu wa syarri maa ba’dahu.
Artinya,
Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang pada hari ini dan keburukan yang tersimpan pada hari ini dan keburukan atau kejahatan yang ada pada hari yang lain dan yang ada pada hari esok.
Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au bi ahadin min kholqika. Faminka wahdaka laa syariikalak, falakal hamdu walakasysyukru ‘ala dzalik. (1)
Artinya,
Wahai allah apa-apa yang kutemukan dipagi ini dari kenikmatan datang dari salah satu ciptaan-Mu maka itu adalah hakekatnya dari-Mu Tunggal, tiada sekutu atas-Mu dan atas-Mulah segala pujian dan bagimulah segala terimakasih atas segala nikmat yang datang pada hari ini.
(1) Ketika sore kata Subuh diganti Masa' dan Al-yaum dengan Lail dan an-Nusyur dengan Al-Masir
Subhanallahi wabihamdihi ‘adada kholqih, wa ridho nafsihi wa zinata ‘arsyihi, wa midaada kalimaatih.
Artinya,
Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya, sebanyak ciptaan-Nya, sebanyak keridhoan dzat-Nya, dan sebanyak kemegahan perhiasan Arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-kaliamat-Nya (3x).
Subhanallahil ‘adziimi wabihamdihi ‘adada kholqihi waridho nafsihi wazinata ‘arsyihi wamidaada kalimaatih.
Artinya,
Maha Suci Allah yang Maha Agung bersama segala pujian untuk-Nya, sebanyak ciptaan-Nya, sebanyak keridhoan dzat-Nya, dan sebanyak kemegahan perhiasan Arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-kaliamat-Nya (3x).
Subhanallahi ‘adada maa kholaqo fissamaa’
Artinya,
Maha Suci Allah sebanyak ciptaan langit.
Subhanallahi ‘adada maa kholaqo fil ardhi’
Artinya,
Maha Suci Allah sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi.
Subhanallahi ‘adada maa baina dzalik,
Artinya,
Maha Suci Allah sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan dibumi.
Subhanallahi ‘adada maa huwa khooliq,
Artinya,
Maha Suci Allah sebanyak apa-apa yang diciptakan-
Alhamdulillahi ‘adada maa kholaqo fissama’.
Artinya,
Segala Puji bagi Allah sebanyak ciptaan langit.
Alhamdulillahi ‘adada maa kholaqo fil ardh,
Artinya,
Segala Puji bagi Allah sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi.
Alhamdulillahi ‘adada maa baina dzalik.
Artinya,
Segala Puji bagi Allah sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan dibumi.
Alhamdulillahi ‘adada maa huwa khooliq.
Artinya,
Segala Puji bagi Allah sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya.
Laa ilaha illallahu’adada maa kholaqo fissamaa’.
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak ciptaan langit.
Laa ilaha illallahu ‘adada maa kholaqo fil ardhi,
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi.
Laa ilaha illallahu ‘adada maa baina dzalik,
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan dibumi.
Laa ilaha illallahu ‘adada maa huwa khooliq.
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya.
Allahu akbar ‘adada maa kholaqo fissama’.
Artinya,
Allah Maha Besar sebanyak ciptaan langit.
Alhamdulillahi ‘adada maa huwa khooliq.
Artinya,
Segala Puji bagi Allah sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya.
Laa ilaha illallahu’adada maa kholaqo fissamaa’.
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak ciptaan langit.
Laa ilaha illallahu ‘adada maa kholaqo fil ardhi,
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak Ciptaan-Nya di bumi
Laa ilaha illallahu ‘adada maa baina dzalik,
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan dibumi.
Laa ilaha illallahu ‘adada maa huwa khooliq.
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya.
Allahu akbar ‘adada maa kholaqo fissama’.
Artinya,
Allah Maha Besar sebanyak ciptaan langit.
Allahu akbar ‘adada maa kholaqo fil ardhi,
Artinya,
Allah Maha Besar sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi.
Allahu akbar ‘adada maa baina dzalik.
Artinya,
Allah Maha Besar sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan dibumi.
Allahu akbar ‘adada maa huwa khooliq.
Artinya,
Allah Maha Besar sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya.
Laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adziim ‘adada maa kholaqo fissama’.
Artinya,
Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung sebanyak ciptaan langit.
Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adziim ‘adada maa kholaqo fil ardh,
Artinya,
Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi.
Laa haulaa walaa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adziim ‘adada maa baina dzalik.
Artinya,
Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan dibumi
Laa haulaa walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim ‘adada maa huwa khooliq.
Artinya,
Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya.
Laa ilaha illallahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyii wayumiitu wahuwa ‘ala kulli syaiin qodiir ‘adada kulli dzarrotin alfa marroh.
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah Maha Tunggal dan tiada sekutu bagi Nya, bagi Nya Kerajaan alam semesta dan bagi Nya segala pujian. Maha menghidupkan dan Maha mewafatkan dan Dia Allah berkuasa atas segala sesuatu, sebanyak semua debu dan butiran-butiran dan seribu kali.
Allahumma sholli wasalim ‘ala sayyidinaa muhammadin miftaahi baabi rohmatillahi ‘adada maa fii ‘ilmillahi sholaatan wasalaaman daaimaini bidawaami mulkillahi, wa’ala alihi washohbih, ‘adada kulli dzarrotin alfa marroh.
Artinya,
Wahai Allah limpahkan sholawat dan salam atas Sayyidina Muhammad saw, membuka pintu Rahmatnya Allah, sebanyak apa-apa yang diketahui Allah, sholawat serta salam yang berkesinambungan, selama kerajaan Allah dan atas keluarganya dan sahabatnya, sebanyak semua debu dan butiran-butiran dan seribu kali.
SYARAH RIWAYAT DAN ARTI WIRD ALLATHIF
Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yg membaca Al Ikhlas dan Alfalaq dan Annaas ketika sore dan pagi maka ia akan terjaga dari segala sesuatu” (Berkata Attirmidziy hadits hasan Shahih).
Firman Allah : “DAN KATAKANLAH WAHAI TUHAN AKU BERLINDUNG PADA MU DARI BISIKAN DAN GODAAN SYAITAN, DAN AKU BERLINDUNG DARI KEHADIRAN MEREKA” (QS Almukminun 97,98)
Rasul saw menasihati kami dalam suatu peperangan, maka kami diperintahkan membaca diwaktu sore dan pagi : AFAHASIBTUM ANNAMA…, maka kami membacanya, dan kami pulang dengan kemenangan dan ghanimah (HR Ibn Sunniy)
berkata Ibn Abbas ra dari Rasulullah saw : “Barangsiapa yg berkata dipagi hari : “FASUBHANALLAHI HIINA TUMSIY… (QS Arrum 17-18),
maka Allah akan mengembalikan apa apa yg hilang darinya dihari itu, dan barangsiapa yg membacanya disore hari maka Allah akan mengembalikan apa apa yg hilang darinya di malam hari (hilang darinya bisa berupa pahala yg tercabut, rizki yg tertahan dll) (HR Abu Dawud)
Dari Nabi saw yg bersabda : “Barangsiapa yg berkata dipagi hari 3X : Audzubillahissami’il’aliim minassyaythaanirrajiim, dan diteruskan dengan 3 ayat terakhir surat Alhasyr, (Law Anzalna… dst) maka Allah wakilkan baginya 70.000 malaikat yg bershalawat untuknya hingga sore, jika ia wafat dihari itu maka ia wafat sebagai syahid, barangsiapa yg membacanya di sore hari maka mendapat manzilah itu pula (hadits hasan gharib)
barangsiapa yg berkata: salamun ala nuhin fil alamiin…dst, maka ia tak akan disengat kalajengking dan Ular” (Alkassyaaf wal bayaan lil Imam Attsa’labiy)
Dari Abu Hurairah ra : “datang seorang lelaki kepada nabi saw dan berkata : wahai Rasulullah, aku semalam disengat kalajengking.., maka Rasul saw bersabda : Jika kau berdoa di sore hari (atau pagi) : Audzu bikalimatillahittammaati min syarri maa khalaq, maka tak akan menyakitimu” (HR Muslim), pada riwayat Ibn Sunniy dijelaskan 3X
Diriwayatkan oleh Ibn Sunniy dan Attirmidziy, dari Utsman bin Affan ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Tiadalah seorang hamba berdoa dipagi setiap hari dan sore setiap petang : Bismillahilladzi….(dst) sebanyak 3X maka ia tak akan diganggu sesuatu” berkata Imam Tirmidziy hadits ini hasan shahih, dan ini lafadh riwayat Tirmidzy, dan pada lafadh riwayat Abu Dawud : Barangsiapa yg membacanya maka ia tak akan mendapat musibah yg datang tiba tiba/dikagetkan musibah.
Dari Ibn Abbas ra barangsiapa yg berdoa : Allahumma Inniy Ashbahtu….dst, 3X dipagi hari dan di sore hari, maka merupakan kepastian bahwa Allah swt akan menyempurnakan baginya hari itu (HR Ibnussunniy dari Ibn Abbas ra)
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad Jayyid (baik) dan ia tidak mendhoifkannya, dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yg berdoa ketika pagi atau sore : Allahumma Inniy Ashbahtu Usyhiduka…dst, maka Allah bebaskan seperempatnya dari neraka, jika ia membacanya 2X maka Allah bebaskan setengah tubuhnya dari neraka, jika ia membacanya 3X maka Allah bebaskan tiga perempat tubuhnya dari neraka, barangsiapa membacanya 4X maka Allah bebaskan ia dari neraka. (Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari)
Dari Muhammad bin Annadhr ra berkata : Berkata Adam as : “Wahai Tuhan, aku disibukkan pekerjaanku, maka ajarilah aku sesuatu yg menjadi perpaduan pujian dan tasbih”, maka Allah swt wahyukan padanya : “Wahai Adam, jika dipagi hari maka ucapkanlah 3X : Alhamdulillahi…dst. Maka Itu adalah kumpulan pujian dan Tasbih. (Addurrul Mantsur Lilhafidh Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy, dan adzkar shabah wal masa’ Linnawawiy).
Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yg berucap di pagi hari dan sore : Radhiina…, kecuali telah berhak Allah meridhoinya” (HR sunan Abu Dawud).
Dijelaskan pada Attarghiib wattarhiib bahwa dzikir ini jika dibaca 3X dipagi hari dan sore maka akan menjaga dari gangguan Jin. َ
Dari Abu Darda ra : barangsiapa dipagi hari atau sore membaca Hasbiyallah…dst 7X, maka Allah akan melindunginya dari apa apa yg dirisaukannya, apakah ia membacanya dengan kesungguhan atau tidak dengan kesungguhan(HR Abu Dawud)
Dari Anas ra bahwa Rasulullah saw berdoa dengan doa doa ini jika pagi dan sore : Allahumma inniy as’aluka…dst, sungguh seorang hamba tak tahu apa yg akan menimpanya dipagi atau sore” (Musnad Abi Ya’la Almuushiliy)
Diriwayatkan pada shahih Bukhari dari syaddad bin Aus ra dari nabi saw yg bersabda : “Pemimpin semua Istghfar adalah : Allahumma anta rabbiy…dst, jika dibaca saat sore lalu ia wafat di malam itu maka ia masuk sorga, jika dibaca dipagi hari lalu ia wafat hari itu maka ia masuk sorga".
Diriwayatkan oleh Imam Ibn Sunniy, dari Thalq bin Hubaib yg berkata : telah datang seorang lelaki kepada Abu darda ra bahwa rumahmu telah terbakar, maka berkata Abu Darda ra : rumahku tidak akan terbakar!, tiada Allah swt akan menjatuhkan hal itu karena kalimat kalimat yg kudengarkan dari Rasul saw, barangsiapa yg membacanya dipagi hari maka ia tak akan terkena musibah hingga petang, barangsiapa mengucapkannya di akhir petang maka tak akan terkena musibah hingga pagi, yaitu Allahumma anta Rabbiy…dst. Dan diriwayatkan pada jalur lainnya dari seorang lelaki dari sahabat Nabi saw bahwa orang itu datang lagi pada Abu Darda ra dengan mengabarkan hal kebakaran rumahnya, maka Abu Darda ra menjawab : Tidak terbakar, karena Aku dengar dari Rasul saw bahwa barangsiapa yg membaca dipaginya kalimat kalimat ini maka tak akan terkena ia, tidak pula keluarganya, tidak pula hartanya, hal hal yg tak disukainya”, maka kami bersama sama menjenguk rumahnya, sungguh telah terbakar sekitar rumahnya, dan rumahnya tak disentuh api.
Dari anas ra : bersabda Rasulullah saw pada Fathimah Azzahra ra : kiranya tak ada yg menghalangimu dari apa apa yg kuajarkan agar kau membaca dipagi hari dan sore hari : Yaa Hayyu Yaa Qayyum…dst.(hadits hasan) (Al Adzkar Imam Nawawi)
Rasul saw masuk ke masjid, maka terlihatlah seorang lelaki dari Anshar yg bernama Abu Umamah ra, maka bersabda Rasulullah saw : Wahai Abu Umamah, mengapa kulihat maku duduk di masjid di selain waktu shalat..?”, ia menjawab : “gundah.. aku dijerat hutang wahai Rasulullah..”, maka bersabda Rasulullah saw : ”maukah kau kuajari kalimat yg jika kau ucapkan maka Allah akan menghilangkan gundahmu dan terselesaikan hutangmu?”, maka Abu Umamah ra : “ajari aku wahai Rasulullah..”, maka Rasul saw bersabda : “Jika di pagi harimu dan sore harimu ucapkanlah : Allahumma inniy…dst. Maka berkata Abu Umamah ra : kulakukan itu maka Allah menghilangkan gundahku dan dan terselesaikan hutangku” (Hadits hasan). (Al Adzkar Imam Nawawi)
Berkata Ibn Umar ra : bahwa Nabi saw tak pernah meninggalkan doa doa ini ketika pagi dan sore, Allahumma inniy… dst Berkata Imam Hakim hadits ini sanadnya Shahih. (Al Adzkar Imam Nawawi)
Berkata hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhum, dari Samurah bin Jundub ra : maukah kukabarkan hadits dari Rasulullah saw yg kudengar berkali kali, dan dari Abubakar ra berkali kali, dan dari Umar ra berkali kali?, Barangsiapa dipagi hari membaca : Allahumma…dst. Tiadalah ia minta sesuatu pada Allah swt kecuali diberi Nya. (Ma’jamul Ausath Al Imam Tabrani)
Dan bahwa Rasulullah saw jika dipagi hari berdoa : Ashbahna ala….dst. (Al Adzkar Imam Nawawi)
Dan dari Nabi saw bahwa jika pagi beliau saw berdoa : Allahumma bika ….dst
Dan jika sore : Allahumma bika amsayna…dst (Berkata Imam Tirmidziy hadits hasan. . (Al Adzkar Imam Nawawi)
Dan kami riwayatkan pada Sunan Abu Dawud dengan sanad yg tidak didhoifkannya dari Malik Al Asy’ariy ra bahwa Sungguh Rasulullah saw bersabda : Jika kalian dipagi hari maka ucapkanlah : Ashbahna….dst, dan jika sore maka ucapkanlah pula seperti itu” (Al Adzkar Imam Nawawi)
Dan kami riwayatkan oleh Sunan Abu Dawud dengan sanad baik, dan ia tak mendhoifkannya, dari Abdullah bin Ghannaam Albayadhiy ra : Sungguh Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa berdoa di pagi hari : Allahumma Maa Ashbaha biy….dst (Al Adzkar Imam Nawawi)
Dari Juwairiyah ra : Sungguh Nabi saw keluar menuju shalat subuh dan Juwayriyah berdzikir di tempat sujudnya, lalu Rasul saw pulang selepas dhuha, dan Juwairiyah ra masih duduk di tempatnya, lalu Rasul saw bersabda :”kau masih duduk disini sejak subuh tadi?”, maka Juwairiyah berkata : betul, maka Rasul saw : “Aku sudah berdzikir sesudahmu dengan hanya 4 kalimat saja 3X, jika ditimbang maka lebih berat dari semua dzikirmu sedari tadi, ucapkanlah : Subhanallah…. Dst. (Riyadhusshalihin oleh Imam Annawawiy)
Dari hadits abu Hurairah ra sabda Rasulullah saw : Subhanallahil ‘adhiim….dst, diriwayatkan Imam Muslim dan Imam 4, dari hadits Ibn Abbas ra. (Ma’arijul Qabul).
Dari Aisyah binti sa’ad bin Abi Waqqash ra dari ayahnya, bahwa ia masuk bersama Rasulullah saw pada seorang wanita dihadapannya terdapat banyak biji atau batu untuk menghitung berdzikir, maka Rasul saw bersabda : Kuberitahu engkau dengan yg lebih mudah dari itu/lebih afdhal?, maka ucapkanlah Subhanallah adada maa…dst, dan Allahu Akbar seperti itu pula, dan Alhamdulillah seperti itu pula, dan Laa ilaha Illallah seperti itu pula, dan Laa haula walaa quwwata illa billahil aliyyil adhim seperti itu pula” (Syi’bul iman oleh Imam Albaihaqiy).
Dari Abu Hurairah ra, Sungguh Rasulullah saw bersabda : “Laa ilaaha illallahu wahdahu…dst, dalam suatu hari 100X, maka baginya pahala membebaskan 10 orang budak, dan dituliskan 100 pahala, dan dihapus darinya 100 dosa, dan ia dijaga dari syaitan di hari itu hingga sore, dan tiadalah orang lain yg mempunyai amal lebih darinya di hari itu kecuali yg beramal lebih banyak dari itu” (Shahih Bukhari dan shahih Muslim) Dalam dzikir ini Imam Haddad meringkasnya 1X saja namun diakhiri dg kalimat : “adada kulli dzarrah alf marrah” (sebanyak setiap debu, 1000X).
Oleh Alfaqir Munzir Almusawa
Beliau adalah seorang pakar hadits termasyhur dan telah mencapai gelar Hujjatul Islam, dan gelar hujjatul islam hanya diberikan pada mereka yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya.
Surat Al Ikhlas
1. Katakanlah : Dialah Allah, Yang Maha Esa,
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadnya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
Surat Al Falaq
1. Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai Subuh,
2. Dari kejahatan makhluknya,
3. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
4. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul
5. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.
Surat An Naas
1. Katakanlah : aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2. Raja manusia
3. Sembahan manusia
4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi
5. Yang membisikan (kejahatan) kedalam dada manusia
6. Dari (golongan) Jin dan manusia.
Rabbi ‘audzubika min hamadzatisysyayatin * wa’audzubika Rabbi an yahdhurun (3X)
Artinya,
Dan katakanlah wahai Tuhan aku berlindung pada-Mu dari bisikan dan godaan syaitan, dan aku belindung dari kehadiran mereka (3x).
Afahasibtum annamaa kholaknaakum ‘abatta wa annakum ilayna laaturja’un
Artinya,
Apakah kalian mengira sesungguhnya kalian ini diciptakan dengan sia-sia dan sungguh apakah kalian mengira kalian tidak akan dikembalikan kepada kami.
Fata’alallahulmalikulhaqqu laa ilaha illa hua Rabbul arsyil kariim.
Artinya,
Maka maha luhurlah Allah, maha Raja, Maha Benar, tiada Tuhan selain-Nya, Maha pemilik Arsy yang agung.
Waman yad’u ma’allahi ilahan akhoro laa burhaana lahu bihi fainnamaa hisaabuhu ‘indarabbihi innahu laa yuflihulkaaafiruun.
Artinya,
Dan barang siapa yang menyeru oleh selain Allah SWT berupa Tuhan yang lain maka dia tidak akan mendapatkan petunjuk dan kemuliaan dan sungguh perhitungannya kelak disisi Allah SWT, sungguh Dia Allah tidak akan membuat orang-orang kafir mendapat keberuntungan.
Wa qul rabbighfir warham wa anta khairurrahimiin
Artinya,
Dan katakanlah wahai Tuhanku ampunilah dan kasihanilah kami dan Kau lah sebaik-baik yang menyayangi.
Fasubhaanallahi hiina tumsuuna wa hiina tushbahuun.
Artinya,
Maka Maha Suci Allah SWT mulai sore hari hingga malam hari.
Walahulhamdu fissamawaati wal ardhi wa ‘asyiyyaa wa hiina tudzhiruun.
Artinya,
Dan milik-Nya lah segala puji disetiap tingkatan-tingkatan langit dan bumi sepanjang petang dan ketika kalian dimunculkan.
Yukhrijulhayya minalmayyiti wa yukhrijul mayyita minalhayyi wa yuhyil ardho ba’da mautihaa wa kadzalika tukhrojuun.
Artinya,
Allah SWT mengeluarkan dari yang mati, mengeluarkan kehidupan dari kematian dan mengeluarkan kematian dari kehidupan, dan menghidupkan bumi setelah kematiannya, dan demikianlah mereka akan dikeluarkan kelak dihari Kiamat.
A’udzubillahissamii’il ‘aliim minasysyaitonnirrajiim.
Artinya,
Aku berlindung kepada Allah SWT yang Maha mendengar dan Maha mengetahui daripada syetan yang terkutuk (3x).
Lau anzalnaa hadzal qur ana ‘ala jabalin laraitahu khoosyi’an mutashoddi’an min khosyyatillahi wa tilkal amtsalu nadhribuhaa linnaasi la’allahum yatafakkaruun.
Artinya,
Kalau sekiranya kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaanperumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.
Huwallahulladzii laa ilaha illa huwa ‘alimul ghoibi wasysyahaadati huwarrahmanurrahiim. Huwallahulladzi laa ilaha illa huwalmalikul quddususus salaamul mu’minul muhaiminul ‘azizull jabbaarul mutakabbiru subhaanallahi ‘ammaa yusyrikuun.
Artinya,
Dia-lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha suci, Yang Maha sejahtera, Yang mengaruniakan keamanan, Yang memelihara, Yang Maha perkasa, Yang Maha kuasa, Yang memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Huwallahul khooliqul baariul mushawwiru lahul asmaaul husna yusabbihu lahu maa fissamawaati wal ardhi wahuwal ‘azizul hakiim.
Artinya,
Dia-lah Allah yang menciptakan, Yang mengadakan, Yang membentuk Rupa, Yang mempunyai nama-nama, Yang paling baik. Bertasbih kepadanya apa yang ada dilangit dan dibumi. Dan Dia-lah yang Maha perkasa lagi maha bijaksana.
Salaamu ‘ala nuuhi fil ‘aalamin
Artinya,
Salam sejah terah atas Nabi Nuh dialam semesta.
Innaa kadzalika najzil muhsiniin.
Artinya,
Sungguh demikianlah kami memberi balasan kemuliaan kepada orang-orang yang beramal baik
Innahu min ‘ibadinaal mu’miniin.
Artinya,
Dan sungguh Nabi Nuh as itu adalah diantara hamba- hamba kami yang beriman.
audzu bikalimaatillahittaammaati min syarri maa kholaq
Artinya,
Aku berlindung dengan kalimat Allah swt yang Sempurna dari keburukan-keburukan ciptaannya.
Bismillahilladzii laa yadurru ma’asmihi syaiun fil ardhi walaa fissamaa i wahuwassamii’ul ‘aliim.
Artinya,
Dengan nama Allah yang tiada akan membawa mudhorot dosa apapun yang ada dilangit dan dibumi dan Dialah yang Maha mendengar dan Maha mengetahui (3x).
Allahumma inna ashbahtu minka fi ni’matin wa ‘afiyatin wa sitrin faatmim ni’mataka ‘alayya wa’afiyataka wasitraka fiddunya wal akhiroh.
Artinya,
Wahai Allah sungguh aku melewati pagi ini dariMu dalam kenikmatan, dalam kesembuhan dan afiah, dalam perlindungan maka sempunkanlah nikmatan-Mu atasku dan kesembuhanmu yang Kau berikan kepadaku dan lindungilah aku didunia dan akhirat.
Allahumma innii ashbahtu usyhiduka wausyhidu hamalata ‘arsyika wamalaaikataka wajami’I kholqika innaka antallaha laa ilaha illa anta wahdaka laa syarikalak,waanna sayyidanaa muhammadan ‘abduhu warosuuluk.
Artinya,
Wahai Allah sungguh aku melewati pagi ini disaksikan oleh-MU dan disaksikan oleh para penopang ArsyMu dari pada para Malaikat dan seluruh MalaikatMu dan seluruh ciptaanMU, mereka semua menyaksikan aku, bahwa sungguh Engkau adalah Allah yang tiada Tuhan selainMu yang Maha Tunggal dan tiada sekutu bagiMu, Dan sungguh Sayyidina Muhammad adalah hambaMu dan RasulMu. (mengucapkan syahadat disaksikan oleh seluruh Malaikat dan seluruh makhluk).
Alhamdulillahi robbil ‘alamiina hamdan yuwaafi ni’amahu wayukaafi maziidah.
Artinya,
Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam, pujian yang mencakup seluruh kenikmatannya dan mencakup seluruh kelebihan kenikmatan (3x)
Amantu billahil ‘adziim,wakafartu biljibti watthoghuuti wastamsaktu bil’urwatil wutsqoo lanfishooma laha wallahu samii’un ‘aliim
Artinya,
Segala Puji bagi Allah yang Maha Agung, dan aku berpaling dari pada semua kejahatan dan sesembahan selain Allah dan aku berpegang teguh dengan tali yang erat, dan Allah Maha mendengar dan Maha mengetahui (3x).
Radhitu billahi rabba wabil islaami diinaa wabi muhammadin shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallama nabiyya warasuulaa
Artinya,
ku ridho dengan Allah sebagai Tuhan dan Islam sebagai agama dan Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul (3x).
Hasbiyallahu laa ilaha illaa huwa ‘alaihi tawakkaltu wahuwa rabbul ‘arsyil ‘adziim
Artinya,
Cukuplah bagiku Allah, Tiada Tuhan selain-Nya, kepada-Nya aku bertawakal dan Dialah pemilik Arsy yang Agung.
Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammadin wa alihi wa shohbihi wasallim.
Artinya,
Ya Allah limpahkanlah sholawat untuk Sayyidina Muhammad dan keluarganya dan sahabatnya dan limpahkan baginya salam.
Allahumma innii as aluka min fujaa atil khoir, wa ‘audzubika min fujaa atisy syar.
Artinya,
Wahai Allah sungguh aku minta kepadaMU kejutan kebaikan dan aku berlindung kepada-Mu dari kejutan- kejutan yang buruk.
Allahumma anta robbiy laa ilaha illa anta kholaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wawa’dika mastatho’tu, a’idzubika min syarri maa shona’tu abu u laka bini’matika ‘alayya wa abuu u bidzanbii faghfirlii fainnahu laa yaghfirudzdzunuba illa anta
Artinya,
Wahai Allah Engkaulah Tuhanku tiada Tuhan selai-Mu, Engkaulah yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu dan aku berada dalam perjanjian-Mu dan ikatan kesetiaanku pada-Mu semampuku, aku berlindung dari buruknya perbuatanku dan aku sadar kenikmatan-kenikmatanMu padaku dan aku sadar atas dosa-dosaku, dan ampunilah aku maka sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau.
Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta ‘alaika tawakkaltu wa anta robbil ‘arsyil ‘adziim, ma syaaa allahu kaana wamaa lam yasya’ lam yakun, wala haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adziim. A’lamu annallaha ‘ala kulli syaiin qodiir, wa annallaha qod ahatho bikulli syaiin ‘ilma. Allahumma innii a’udzuika min syarri nafsii wamin syarri kulli daaabbatin anta aakhidzu bina shiyatiha, inna robbii ‘ala shirotin mushtaqiim.
Artinya,
Wahai Allah sungguh Engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan selai-Mu, pada-Mu aku bertawakal dan Engkaulah pemilik Arsy yang Agung, apa-apa yang dikhendaki Allah SWT akan terjadi dan yang tidak yang dikehendaki Allah tidak akan terjadi, tiada daya dan upaya selain dengan kekuatan Allah yang Maha tinggi dan Maha Agung, aku tau sungguh Allah itu berkuasa atas segala sesuatu dan sungguh Allah itu meliputi segala sesuatu dengan pengetahuannya (Maha tahu atas segala sesuatu). Wahai Allah aku sungguh aku berlindung dari buruknya diriku dan dari kejahatan semua makhluk dan ciptaan-Mu sungguh Engkau mengenggam semua ubun-ubun mereka (kepala), sungguh Tuhanku berada pada jalan yang benar.
Yaa hayyu yaa qoyyumu birahmatika astaghitsu wamin ‘adzabika astakhiiru ashlih lii sya’nii kullahu walaa takilni ila nafsii walaa ilaa ahadin min kholqika thorfata ‘ainin. Allahumma inni ‘audzubika minal hammi wal hazani, wa ‘audzubika minal ‘ajdzi wal kasal wa ‘audzubika minal jubni wal bukhli wa ‘audzubika min gholabatiddaini wa qohrirrijaal.
Artinya,
Wahai yang Maha hidup dan Maha berdiri sendiri aku beristighotsah dan mohon bantuan pada Rahmat-Mu, Dan aku berlindung kepada-Mu dan mohon dijauhkan dari siksa, perbaikilah keadaanku semuanya, dan janganlah Engkau palingkan aku pada diriku dan jangan Kau palingkan aku pada ciptaan-ciptaanMu sekejappun selalulah aku didalam khusyuk kepadamu. Wahai Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-MU dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu daripada sifat pengecut dan sifat kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari terjebak oleh hutang-hutang dan didholimi oleh penguasa.
Allahumma innii asalukal ‘afwa wal ‘afiyah fiddunya wal akhiroh
Artinya,
Wahai Allah sungguh aku meminta kepadamu kesembuhan dan afiah, dunia dan akhirat.
Allahumma innii asalukal ‘afwa wal’afiyah wal mu’afatiddaaimah fii diinii wadunyaa wa ahlii wa maalii
Artinya,
Wahai Allah sungguh aku meminta kepadamu maaf-Mu, dan afiah-Mu dan atas segala yang mengganggu kita jasad kita dan ruh kita dan penjagaan dan pemeliharaan yang abadi dalam agamaku, duniaku, keluargaku, hartaku
Allahummastur ‘aurootii wa aamin rou’aatii.
Artinya,
Wahai Allah tutupilah auratku dan kejahatan- kejahatanku dan jagalah aku Dari apa yang kurisaukan
Allahummahfadznii min baini yadayya wamin kholfii wa’an yamiinii, wa’an syimaalii, wamin fauqii. Wa ‘audzu bi’adzomatika an ughtaala min tahti.
Artinya,
Wahai Allah jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku ,dari atasku dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari pada kejahatan yang datang dari bawahku (fitnah dari bumi/ sihir).
Allahumma anta kholaqtanii waanta tahdiinii waanta tuth’imunii waanta tusqiinii waanta tumitunii waanta tuhyiinii waanta ‘ala kulli syaiin qodiir.
Artinya,
Wahai Allah sungguh Engkaulah yang menciptakan aku dan Engkau yang memberi aku hidayah, Engkau yang memberiku makanan, Engkau yang memberiku minuman dan Engkaulah yang menghidupkan aku dan engkaulah yang mematikanku dan Engkaulah yang berkuasa ats segala sesuatu
Ashbahnaa ‘ala fitrotil islaami wa ‘ala kalimatil ikhlaashi wa ‘ala diini nabiyyanaa muhammadin shollallahu ‘alaihi wa alihi wasallam.
Artinya,
Aku lewati pagi ini dengan kesucian islam dan kulewati pagi ini dalam kalimat yang ikhlas pada agama Nabi Muhammad saw.
Allahumma bika ashbahnaa wabika amsainaa wabika nahyaa wabika namuutu.
Artinya,
Wahai Allah bersama-Mu kami melewati pagi ini dan bersama-Mu kami melewati sore ini dan denganmu kami hidup dan denganmu pula kami wafat.
Wa’alaika natawakkalu wa ilaikannasyuuru
Artinya,
Dan kepada-Mu kami bertawakal dan kepadamu pula kami akan kembali.
Ashbahnaa wa ashbahal mulku lillahi walhamdulillahi robbil ‘aalamiin
Artinya,
Kami melewati pagi ini dan kami lewati pagi ini sedangkan kerajaan alam semesta tetap milik Allah dan segala puji untuk Allah.
Allahumma innii as aluka khoiro hadzal yaumi fathahu wa nashrohu wa nuurohu wa barakatahu wa hudahu.
Artinya,
Wahai Allah sungguh aku meminta kebaikan hari ini, kemenangannya, pertolongannya, cahayanya, keberkahannya, dan petunjuk hidayahnya yang ada di hari ini .
Alahumma innii as aluka khoiro hadzal yaumi wa khoiro maa fiihi wa khoiro maa qoblahu wa khoiro maa ba’dahu.
Artinya,
Sungguh Allah aku meminta kepada-Mu kebaikan hari ini dan kebaikan yang apa-apa tersimpan hari ini dan kebaikan pada hari yang lain dan kebaikan yang ada pada hari esok.
Wa’audzubika min syarri hadzal yaumi, wa syarri maa fiihi wa syarri maa qoblahu wa syarri maa ba’dahu.
Artinya,
Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang pada hari ini dan keburukan yang tersimpan pada hari ini dan keburukan atau kejahatan yang ada pada hari yang lain dan yang ada pada hari esok.
Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au bi ahadin min kholqika. Faminka wahdaka laa syariikalak, falakal hamdu walakasysyukru ‘ala dzalik. (1)
Artinya,
Wahai allah apa-apa yang kutemukan dipagi ini dari kenikmatan datang dari salah satu ciptaan-Mu maka itu adalah hakekatnya dari-Mu Tunggal, tiada sekutu atas-Mu dan atas-Mulah segala pujian dan bagimulah segala terimakasih atas segala nikmat yang datang pada hari ini.
(1) Ketika sore kata Subuh diganti Masa' dan Al-yaum dengan Lail dan an-Nusyur dengan Al-Masir
Subhanallahi wabihamdihi ‘adada kholqih, wa ridho nafsihi wa zinata ‘arsyihi, wa midaada kalimaatih.
Artinya,
Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya, sebanyak ciptaan-Nya, sebanyak keridhoan dzat-Nya, dan sebanyak kemegahan perhiasan Arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-kaliamat-Nya (3x).
Subhanallahil ‘adziimi wabihamdihi ‘adada kholqihi waridho nafsihi wazinata ‘arsyihi wamidaada kalimaatih.
Artinya,
Maha Suci Allah yang Maha Agung bersama segala pujian untuk-Nya, sebanyak ciptaan-Nya, sebanyak keridhoan dzat-Nya, dan sebanyak kemegahan perhiasan Arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-kaliamat-Nya (3x).
Subhanallahi ‘adada maa kholaqo fissamaa’
Artinya,
Maha Suci Allah sebanyak ciptaan langit.
Subhanallahi ‘adada maa kholaqo fil ardhi’
Artinya,
Maha Suci Allah sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi.
Subhanallahi ‘adada maa baina dzalik,
Artinya,
Maha Suci Allah sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan dibumi.
Subhanallahi ‘adada maa huwa khooliq,
Artinya,
Maha Suci Allah sebanyak apa-apa yang diciptakan-
Alhamdulillahi ‘adada maa kholaqo fissama’.
Artinya,
Segala Puji bagi Allah sebanyak ciptaan langit.
Alhamdulillahi ‘adada maa kholaqo fil ardh,
Artinya,
Segala Puji bagi Allah sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi.
Alhamdulillahi ‘adada maa baina dzalik.
Artinya,
Segala Puji bagi Allah sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan dibumi.
Alhamdulillahi ‘adada maa huwa khooliq.
Artinya,
Segala Puji bagi Allah sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya.
Laa ilaha illallahu’adada maa kholaqo fissamaa’.
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak ciptaan langit.
Laa ilaha illallahu ‘adada maa kholaqo fil ardhi,
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi.
Laa ilaha illallahu ‘adada maa baina dzalik,
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan dibumi.
Laa ilaha illallahu ‘adada maa huwa khooliq.
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya.
Allahu akbar ‘adada maa kholaqo fissama’.
Artinya,
Allah Maha Besar sebanyak ciptaan langit.
Alhamdulillahi ‘adada maa huwa khooliq.
Artinya,
Segala Puji bagi Allah sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya.
Laa ilaha illallahu’adada maa kholaqo fissamaa’.
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak ciptaan langit.
Laa ilaha illallahu ‘adada maa kholaqo fil ardhi,
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak Ciptaan-Nya di bumi
Laa ilaha illallahu ‘adada maa baina dzalik,
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan dibumi.
Laa ilaha illallahu ‘adada maa huwa khooliq.
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya.
Allahu akbar ‘adada maa kholaqo fissama’.
Artinya,
Allah Maha Besar sebanyak ciptaan langit.
Allahu akbar ‘adada maa kholaqo fil ardhi,
Artinya,
Allah Maha Besar sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi.
Allahu akbar ‘adada maa baina dzalik.
Artinya,
Allah Maha Besar sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan dibumi.
Allahu akbar ‘adada maa huwa khooliq.
Artinya,
Allah Maha Besar sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya.
Laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adziim ‘adada maa kholaqo fissama’.
Artinya,
Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung sebanyak ciptaan langit.
Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adziim ‘adada maa kholaqo fil ardh,
Artinya,
Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung sebanyak Ciptaan-Nya di Bumi.
Laa haulaa walaa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adziim ‘adada maa baina dzalik.
Artinya,
Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan dibumi
Laa haulaa walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim ‘adada maa huwa khooliq.
Artinya,
Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung sebanyak apa-apa yang diciptakan-Nya.
Laa ilaha illallahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyii wayumiitu wahuwa ‘ala kulli syaiin qodiir ‘adada kulli dzarrotin alfa marroh.
Artinya,
Tiada Tuhan selain Allah Maha Tunggal dan tiada sekutu bagi Nya, bagi Nya Kerajaan alam semesta dan bagi Nya segala pujian. Maha menghidupkan dan Maha mewafatkan dan Dia Allah berkuasa atas segala sesuatu, sebanyak semua debu dan butiran-butiran dan seribu kali.
Allahumma sholli wasalim ‘ala sayyidinaa muhammadin miftaahi baabi rohmatillahi ‘adada maa fii ‘ilmillahi sholaatan wasalaaman daaimaini bidawaami mulkillahi, wa’ala alihi washohbih, ‘adada kulli dzarrotin alfa marroh.
Artinya,
Wahai Allah limpahkan sholawat dan salam atas Sayyidina Muhammad saw, membuka pintu Rahmatnya Allah, sebanyak apa-apa yang diketahui Allah, sholawat serta salam yang berkesinambungan, selama kerajaan Allah dan atas keluarganya dan sahabatnya, sebanyak semua debu dan butiran-butiran dan seribu kali.
SYARAH RIWAYAT DAN ARTI WIRD ALLATHIF
Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yg membaca Al Ikhlas dan Alfalaq dan Annaas ketika sore dan pagi maka ia akan terjaga dari segala sesuatu” (Berkata Attirmidziy hadits hasan Shahih).
Firman Allah : “DAN KATAKANLAH WAHAI TUHAN AKU BERLINDUNG PADA MU DARI BISIKAN DAN GODAAN SYAITAN, DAN AKU BERLINDUNG DARI KEHADIRAN MEREKA” (QS Almukminun 97,98)
Rasul saw menasihati kami dalam suatu peperangan, maka kami diperintahkan membaca diwaktu sore dan pagi : AFAHASIBTUM ANNAMA…, maka kami membacanya, dan kami pulang dengan kemenangan dan ghanimah (HR Ibn Sunniy)
berkata Ibn Abbas ra dari Rasulullah saw : “Barangsiapa yg berkata dipagi hari : “FASUBHANALLAHI HIINA TUMSIY… (QS Arrum 17-18),
maka Allah akan mengembalikan apa apa yg hilang darinya dihari itu, dan barangsiapa yg membacanya disore hari maka Allah akan mengembalikan apa apa yg hilang darinya di malam hari (hilang darinya bisa berupa pahala yg tercabut, rizki yg tertahan dll) (HR Abu Dawud)
Dari Nabi saw yg bersabda : “Barangsiapa yg berkata dipagi hari 3X : Audzubillahissami’il’aliim minassyaythaanirrajiim, dan diteruskan dengan 3 ayat terakhir surat Alhasyr, (Law Anzalna… dst) maka Allah wakilkan baginya 70.000 malaikat yg bershalawat untuknya hingga sore, jika ia wafat dihari itu maka ia wafat sebagai syahid, barangsiapa yg membacanya di sore hari maka mendapat manzilah itu pula (hadits hasan gharib)
barangsiapa yg berkata: salamun ala nuhin fil alamiin…dst, maka ia tak akan disengat kalajengking dan Ular” (Alkassyaaf wal bayaan lil Imam Attsa’labiy)
Dari Abu Hurairah ra : “datang seorang lelaki kepada nabi saw dan berkata : wahai Rasulullah, aku semalam disengat kalajengking.., maka Rasul saw bersabda : Jika kau berdoa di sore hari (atau pagi) : Audzu bikalimatillahittammaati min syarri maa khalaq, maka tak akan menyakitimu” (HR Muslim), pada riwayat Ibn Sunniy dijelaskan 3X
Diriwayatkan oleh Ibn Sunniy dan Attirmidziy, dari Utsman bin Affan ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Tiadalah seorang hamba berdoa dipagi setiap hari dan sore setiap petang : Bismillahilladzi….(dst) sebanyak 3X maka ia tak akan diganggu sesuatu” berkata Imam Tirmidziy hadits ini hasan shahih, dan ini lafadh riwayat Tirmidzy, dan pada lafadh riwayat Abu Dawud : Barangsiapa yg membacanya maka ia tak akan mendapat musibah yg datang tiba tiba/dikagetkan musibah.
Dari Ibn Abbas ra barangsiapa yg berdoa : Allahumma Inniy Ashbahtu….dst, 3X dipagi hari dan di sore hari, maka merupakan kepastian bahwa Allah swt akan menyempurnakan baginya hari itu (HR Ibnussunniy dari Ibn Abbas ra)
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad Jayyid (baik) dan ia tidak mendhoifkannya, dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yg berdoa ketika pagi atau sore : Allahumma Inniy Ashbahtu Usyhiduka…dst, maka Allah bebaskan seperempatnya dari neraka, jika ia membacanya 2X maka Allah bebaskan setengah tubuhnya dari neraka, jika ia membacanya 3X maka Allah bebaskan tiga perempat tubuhnya dari neraka, barangsiapa membacanya 4X maka Allah bebaskan ia dari neraka. (Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari)
Dari Muhammad bin Annadhr ra berkata : Berkata Adam as : “Wahai Tuhan, aku disibukkan pekerjaanku, maka ajarilah aku sesuatu yg menjadi perpaduan pujian dan tasbih”, maka Allah swt wahyukan padanya : “Wahai Adam, jika dipagi hari maka ucapkanlah 3X : Alhamdulillahi…dst. Maka Itu adalah kumpulan pujian dan Tasbih. (Addurrul Mantsur Lilhafidh Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy, dan adzkar shabah wal masa’ Linnawawiy).
Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yg berucap di pagi hari dan sore : Radhiina…, kecuali telah berhak Allah meridhoinya” (HR sunan Abu Dawud).
Dijelaskan pada Attarghiib wattarhiib bahwa dzikir ini jika dibaca 3X dipagi hari dan sore maka akan menjaga dari gangguan Jin. َ
Dari Abu Darda ra : barangsiapa dipagi hari atau sore membaca Hasbiyallah…dst 7X, maka Allah akan melindunginya dari apa apa yg dirisaukannya, apakah ia membacanya dengan kesungguhan atau tidak dengan kesungguhan(HR Abu Dawud)
Dari Anas ra bahwa Rasulullah saw berdoa dengan doa doa ini jika pagi dan sore : Allahumma inniy as’aluka…dst, sungguh seorang hamba tak tahu apa yg akan menimpanya dipagi atau sore” (Musnad Abi Ya’la Almuushiliy)
Diriwayatkan pada shahih Bukhari dari syaddad bin Aus ra dari nabi saw yg bersabda : “Pemimpin semua Istghfar adalah : Allahumma anta rabbiy…dst, jika dibaca saat sore lalu ia wafat di malam itu maka ia masuk sorga, jika dibaca dipagi hari lalu ia wafat hari itu maka ia masuk sorga".
Diriwayatkan oleh Imam Ibn Sunniy, dari Thalq bin Hubaib yg berkata : telah datang seorang lelaki kepada Abu darda ra bahwa rumahmu telah terbakar, maka berkata Abu Darda ra : rumahku tidak akan terbakar!, tiada Allah swt akan menjatuhkan hal itu karena kalimat kalimat yg kudengarkan dari Rasul saw, barangsiapa yg membacanya dipagi hari maka ia tak akan terkena musibah hingga petang, barangsiapa mengucapkannya di akhir petang maka tak akan terkena musibah hingga pagi, yaitu Allahumma anta Rabbiy…dst. Dan diriwayatkan pada jalur lainnya dari seorang lelaki dari sahabat Nabi saw bahwa orang itu datang lagi pada Abu Darda ra dengan mengabarkan hal kebakaran rumahnya, maka Abu Darda ra menjawab : Tidak terbakar, karena Aku dengar dari Rasul saw bahwa barangsiapa yg membaca dipaginya kalimat kalimat ini maka tak akan terkena ia, tidak pula keluarganya, tidak pula hartanya, hal hal yg tak disukainya”, maka kami bersama sama menjenguk rumahnya, sungguh telah terbakar sekitar rumahnya, dan rumahnya tak disentuh api.
Dari anas ra : bersabda Rasulullah saw pada Fathimah Azzahra ra : kiranya tak ada yg menghalangimu dari apa apa yg kuajarkan agar kau membaca dipagi hari dan sore hari : Yaa Hayyu Yaa Qayyum…dst.(hadits hasan) (Al Adzkar Imam Nawawi)
Rasul saw masuk ke masjid, maka terlihatlah seorang lelaki dari Anshar yg bernama Abu Umamah ra, maka bersabda Rasulullah saw : Wahai Abu Umamah, mengapa kulihat maku duduk di masjid di selain waktu shalat..?”, ia menjawab : “gundah.. aku dijerat hutang wahai Rasulullah..”, maka bersabda Rasulullah saw : ”maukah kau kuajari kalimat yg jika kau ucapkan maka Allah akan menghilangkan gundahmu dan terselesaikan hutangmu?”, maka Abu Umamah ra : “ajari aku wahai Rasulullah..”, maka Rasul saw bersabda : “Jika di pagi harimu dan sore harimu ucapkanlah : Allahumma inniy…dst. Maka berkata Abu Umamah ra : kulakukan itu maka Allah menghilangkan gundahku dan dan terselesaikan hutangku” (Hadits hasan). (Al Adzkar Imam Nawawi)
Berkata Ibn Umar ra : bahwa Nabi saw tak pernah meninggalkan doa doa ini ketika pagi dan sore, Allahumma inniy… dst Berkata Imam Hakim hadits ini sanadnya Shahih. (Al Adzkar Imam Nawawi)
Berkata hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhum, dari Samurah bin Jundub ra : maukah kukabarkan hadits dari Rasulullah saw yg kudengar berkali kali, dan dari Abubakar ra berkali kali, dan dari Umar ra berkali kali?, Barangsiapa dipagi hari membaca : Allahumma…dst. Tiadalah ia minta sesuatu pada Allah swt kecuali diberi Nya. (Ma’jamul Ausath Al Imam Tabrani)
Dan bahwa Rasulullah saw jika dipagi hari berdoa : Ashbahna ala….dst. (Al Adzkar Imam Nawawi)
Dan dari Nabi saw bahwa jika pagi beliau saw berdoa : Allahumma bika ….dst
Dan jika sore : Allahumma bika amsayna…dst (Berkata Imam Tirmidziy hadits hasan. . (Al Adzkar Imam Nawawi)
Dan kami riwayatkan pada Sunan Abu Dawud dengan sanad yg tidak didhoifkannya dari Malik Al Asy’ariy ra bahwa Sungguh Rasulullah saw bersabda : Jika kalian dipagi hari maka ucapkanlah : Ashbahna….dst, dan jika sore maka ucapkanlah pula seperti itu” (Al Adzkar Imam Nawawi)
Dan kami riwayatkan oleh Sunan Abu Dawud dengan sanad baik, dan ia tak mendhoifkannya, dari Abdullah bin Ghannaam Albayadhiy ra : Sungguh Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa berdoa di pagi hari : Allahumma Maa Ashbaha biy….dst (Al Adzkar Imam Nawawi)
Dari Juwairiyah ra : Sungguh Nabi saw keluar menuju shalat subuh dan Juwayriyah berdzikir di tempat sujudnya, lalu Rasul saw pulang selepas dhuha, dan Juwairiyah ra masih duduk di tempatnya, lalu Rasul saw bersabda :”kau masih duduk disini sejak subuh tadi?”, maka Juwairiyah berkata : betul, maka Rasul saw : “Aku sudah berdzikir sesudahmu dengan hanya 4 kalimat saja 3X, jika ditimbang maka lebih berat dari semua dzikirmu sedari tadi, ucapkanlah : Subhanallah…. Dst. (Riyadhusshalihin oleh Imam Annawawiy)
Dari hadits abu Hurairah ra sabda Rasulullah saw : Subhanallahil ‘adhiim….dst, diriwayatkan Imam Muslim dan Imam 4, dari hadits Ibn Abbas ra. (Ma’arijul Qabul).
Dari Aisyah binti sa’ad bin Abi Waqqash ra dari ayahnya, bahwa ia masuk bersama Rasulullah saw pada seorang wanita dihadapannya terdapat banyak biji atau batu untuk menghitung berdzikir, maka Rasul saw bersabda : Kuberitahu engkau dengan yg lebih mudah dari itu/lebih afdhal?, maka ucapkanlah Subhanallah adada maa…dst, dan Allahu Akbar seperti itu pula, dan Alhamdulillah seperti itu pula, dan Laa ilaha Illallah seperti itu pula, dan Laa haula walaa quwwata illa billahil aliyyil adhim seperti itu pula” (Syi’bul iman oleh Imam Albaihaqiy).
Dari Abu Hurairah ra, Sungguh Rasulullah saw bersabda : “Laa ilaaha illallahu wahdahu…dst, dalam suatu hari 100X, maka baginya pahala membebaskan 10 orang budak, dan dituliskan 100 pahala, dan dihapus darinya 100 dosa, dan ia dijaga dari syaitan di hari itu hingga sore, dan tiadalah orang lain yg mempunyai amal lebih darinya di hari itu kecuali yg beramal lebih banyak dari itu” (Shahih Bukhari dan shahih Muslim) Dalam dzikir ini Imam Haddad meringkasnya 1X saja namun diakhiri dg kalimat : “adada kulli dzarrah alf marrah” (sebanyak setiap debu, 1000X).
Langganan:
Postingan (Atom)