Abu Ja’far At-Thahawi
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Al-‘Allamah Hujjatul Islam Abu Ja’far Al-Warraq Ath-Thahawi-di Mesir-berkata: “Inilah penuturan keterangan tentang aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, menurut mahdzab para ahli fiqih Islam: Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit Al-Kufi, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim Al-Anshari dan Abu Abdillah Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani Ridwanallahu ‘alaihim ajma’in, beserta pokok-pokok keagamaan yang mereka yakini dan mereka gunakan untuk beribadah kepada Allah Rabbil ‘alamin.”1
1. Kami menyatakan tentang tauhid kepada Allah, berdasarkan keyakinan semata-mata berkat taufiq Allah: Sesungguhnya Allah itu Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya.
2. Tiada sesuatupun yang menyamai-Nya.
3. Tiada sesuatupun yang dapat melemahkannya.
4. Tiada yang berhak untuk diibadahi selain diri-Nya.
5. Yang Maha Terdahulu tanpa berawal, yang Maha Kekal tanpa pernah berakhir.
6. Tak akan pernah punah ataupun binasa.
7. Tak ada sesuatupun yang terjadi, melainkan dengan kehendak-Nya.
8. Tak dapat digapai oleh pikiran, tak juga dapat dicapai oleh pemahaman.
9. Tidak menyerupai makhluk-Nya.
10. Yang Maha Hidup tak pernah mati, yang Maha Terjaga dan tak pernah tertidur.
11. Mencipta tanpa merasa membutuhkan (kepada ciptaan-Nya), membagi rezeki tanpa mengharapkan imbalan.
12. Mematikan tanpa gentar dan Membangkitkan (setelah mati) tanpa kesulitan.
13. Dia telah memiliki sifat-sifat itu semenjak dahulu, sebelum mencipta. Dengan terciptanya para makhluk, tak bertambah sedikitpun sifat-sifat-Nya. Yang selalu tetap dengan sifat-sifatNya semenjak dahulu tanpa berawal, dan akan terus kekal dengan-Nya, sifat-sifat-Nya selamanya.
14. Nama-Nya Al-Khaliq sebagai Pencipta, tidaklah disandang-Nya baru setelah Dia menciptakan makhluk-makhluk-Nya. Dan namanya Al-Bari (Yang Menjadikan) tidaklah diambil baru seusai Dia menjadikan hamba-hamba-Nya.
1 Mukaddimah ini dikutip dari matan Al-Aqidah Ath-Thahawiyah dengan syarah dan komentar Syaikh Al-Albany
15. Dia-lah pemilik sebutan Al-Rabb (Pemelihara), dan bukanlah Dia Marhub atau yang dipelihara. Dia juga pemilik sebutan Al-Khaliq dan bukanlah Dia sebagai makhluk.
16. Sebagaimana Dia adalah Dzat yang menghidupkan segala yang mati (Al-Muhyi), Dia-pun berhak atas sebutan itu, dari sebelum menghidupkan mereka. Demikian juga Ia berhak menyandang sebutan Al-Khaliq sebelum menciptakan mereka.
17. Untuk itulah, Dia-pun berkuasa atas segala sesuatu, sementara segala sesuatu itu berharap kepada-Nya. Segala urusan bagi-Nya mudah, dan Dia tidaklah membutuhkan sesuatu. Firman-Nya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura : 11).
18. Dia menciptakan makhluk dengan ilmu-Nya.
19. Dia menentukan takdir atas mereka.
20. Dia menuliskan ajal kematian bagi mereka.
21. Tiada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya sebelum Dia menciptakan mereka. Bahkan Dia mengetahui apa yang akan mereka kerjakan, juga sebelum menciptakan mereka.
22. Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk ta’at dan melarang mereka melakukan maksiat.
23. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan takdir dan kehendak-Nya, sedangkan kehendak-Nya itu pasti terlaksana. Tidak ada kehendak bagi hamba-Nya melainkan memang apa yang dikehendaki-Nya. Apa yang Dia kehendaki, pasti terjadi. Dan apa yang tidak Dia kehendaki tak akan terjadi.
24. Dia memberi petunjuk siapa saja yang Dia kehendaki, memelihara dan mengayominya karena keutamaan-Nya. Dia juga menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, menghinakan seseorang dan menghukumnya berdasarkan keadilan-Nya.
25. Seluruh makhluk berada di bawah kendali kehendak Allah di antara kemurahan, keutamaan, dan keadilan-Nya.
26. Dia mengungguli musuh-musuh-Nya dan tak tertandingi oleh lawan-lawan-Nya.
27. Tak seorang pun mampu menolak takdir-Nya, menolak ketetapan hukum-Nya, atau mengungguli urusan-Nya.
28. Kita mengimani semua itu, dan kita pun meyakini bahwa segalanya datang daripada-Nya.
29. Sesungguhnya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba-Nya yang terpilih, Nabi-Nya yang terpandang, dan Rasul-Nya yang diridlai.
30. Sesungguhnya beliau adalah penutup para Nabi ‘Alaihimu As-Sallam.
31. Dia pemimpin orang-orang bertakwa.
32. Dia penghulu para Rasul.
33. Kekasih Rabb sekalian alam.
34. Segala pengakuan sebagai Nabi sesudah beliau adalah kesesatan dan hawa nafsu.
35. Beliau diutus kepada golongan jin secara umum dan kepada segenap umat manusia, dengan membawa kebenaran, petunjuk dan cahaya yang terang.
36. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah Kalamullah; berasal dari-Nya sebagai ucapan yang tak diketahui kaifiyah (bagaimana)nya, diturunkan kepada Rasul-Nya sebagai wahyu. Diimani oleh kaum mukminin dengan sebenar-benarnya. Mereka meyakininya sebagai kalam Ilahi yang sesungguhnya. Bukanlah sebagai makhluk sebagaimana ucapan hamba-Nya. Barangsiapa yang mendengarnya (mendengar bacaan Al-Qur’an) dan menganggap itu sebagai ucapan makhluk, maka ia telah kafir. Allah sungguh telah mencelanya, menghinanya, dan mengancamnya dengan Naar (Neraka) Saqar. Allah berfirman:
“Aku akan memasukkan ke dalam (Naar) Saqar.” (QS. Al-Muddatsir: 26).
Allah mengancam mereka dengan Naar Saqar tatkala mereka mengatakan:
“Ini (Al-Qur’an) tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (QS. Al-Muddatsir : 25).
Dengan itu kita pun mengetahui bahwa Al-Qur’an itu adalah kalam (ucapan) Pencipta manusia dan tidak menyerupai ucapan manusia.
37. Barangsiapa yang mensifati Allah dengan kriteria-kriteria manusia, maka dia sungguh telah kafir. Barangsiapa yang memahami hal ini niscaya dia dapat mengambil pelajaran. Akan dapat menghindari ucapan yang seperti perkataan orang-orang kafir, dan mengetahui bahwa Allah dengan sifat-sifat-Nya tidaklah seperti makhluk-Nya.
38. Melihat Allah adalah hak pasti (benar adanya) bagi Ahli Jannah (penduduk surga) tanpa dapat dijangkau oleh ilmu manusia, dan tanpa manusia mengetahui bagaimana memahami hal itu sebagaimana dinyatakan Rabb kita dalam Al-Qur’an:
“Wajah-wajah (orang mukmin) pada waktu itu berseri-seri. Mereka betul-betul memandang kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23).
Pengertian (sebenar)nya, adalah sebagaimana yang dikehendaki dan diketahui oleh Allah. Setiap hadits shahih yang diriwayatkan dalam persoalan itu, pengertian sesungguhnya adalah sebagaimana yang dikehendaki Allah. Tidak pada tempatnya kita terlibat untuk mentakwilkannya dengan pendapat-pendapat kita, atau menduga-duga saja dengan hawa nafsu kita.
39. Sesungguhnya seseorang tidak akan selamat dalam agamanya, sebelum ia berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, dan menyerahkan ilmu yang belum jelas baginya kepada orang yang mengetahuinya.
40. Sesungguhnya Islam hanyalah berpijak di atas pondasi penyerahan diri dan kepasrahan kepada Allah.
41. Barangsiapa yang mencoba mempelajari ilmu yang terlarang, tidak puas pemahamannya untuk pasrah, maka ilmu yang dipelajarinya itu akan menutup jalan baginya untuk memurnikan tauhid, menjernihkan ilmu pengetahuan dan membetulkan keimanan.
42. Maka menjadilah ia orang yang terombang-ambing antara keimanan dan kekufuran, pembenaran dan pendustaan, pengikraran dan pengingkaran. Selalu kacau, bimbang, tidak bisa dikatakan ia membenarkan dan beriman, tidak juga dapat dikatakan kafir dan ingkar.
43. Tidak sah keimanan seseorang yang mengimani bahwa penghuni jannah akan memandang Rabb mereka, yang semata-mata ditegakkan di atas prasangka (keragu-raguan) menganggapnya sebagai ‘praduga’ atau takwil dengan pemikirannya. Karena penafsiran ‘penglihatan’ itu, dan juga penafsiran segala pengertian yang disandarkan kepada Rabb, haruslah tanpa mentakwilkannya dan dengan kepasrahan diri. Itulah sandaran dien/keyakinan kaum muslimin.
44. Barangsiapa yang tidak menghindari penafian Asma’ dan shifat Allah atau menyerupakanNya dengan makhluk-Nya, dia akan tergelincir dan tak akan dapat memelihara kesucian diri.
45. Sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tersifati dengan sifat Wahdaniyah (Maha Tunggal), tersifati dengan sifat Fardaniyah (ke-Maha Esa-an). Tak seorangpun dari hamba-Nya yang menyamai sifat-sifat tersebut.
46. Maha suci diri-Nya dari batas-batas dan dimensi makhluk atau bagian dari makhluk, anggota tubuh dan perangkat-Nya. Dia tidak terkungkungi oleh enam penjuru arah yang mengungkungi makhluk ciptaan-Nya.
47. Mi’raj (naiknya Nabi ke Sidratul Muntaha) adalah benar adanya. Beliau telah diperjalankan dan dinaikan (ke langit) dengan tubuh kasarnya (jasmani) dalam keadaan sadar, dan juga ke tempat-tempat yang dikehendaki Allah di atas ketinggian. Allah-pun memuliakan beliau dan mewahyukan kepadanya apa yang hendak Dia wahyukan.
“Tidaklah hatinya mendustakan apa yang dilihatnya.” (QS. An-Najm: 11).
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam atas diri beliau di dunia dan di akhirat.2
48. Haudh (telaga) Al-Kautsar yang dijadikan Allah kemuliaan baginya -dan pertolongan bagi umatnya- adalah benar adanya.
49. Syafa’at yang diperuntukkan Allah bagi mereka adalah benar adanya sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadits.
50. Perjanjian yang diikatkan Allah atas diri Adam dan anak cucunya (sebelum mereka dilahirkan-pent.) adalah benar adanya.
51. Semenjak zaman yang tak berawal, Allah telah mengetahui jumlah hamba-Nya yang akan masuk Jannah dan yang akan masuk Naar secara keseluruhan. Jumlah itu tak akan bertambah atau berkurang. Demikian juga halnya perbuatan-perbuatan mereka yang telah Allah ketahui apa yang akan mereka perbuat itu (juga tak akan berubah).
52. Setiap pribadi akan dimudahkan menjalani apa yang sudah menjadi kodratnya, sedangkan amalan-amalan itu (dinilai) bagaimana akhirnya. Orang yang bahagia adalah orang yang berbahagia dengan ketentuan kodratnya. Demikian juga orang yang celaka adalah yang celaka dengan ketentuan kodratnya.
53. Asal dari takdir adalah rahasia Ilahi yang tak diketahui hamba-hamba-Nya. Tak dapat diselidiki baik oleh malaikat yang dekat dengan-Nya, ataupun Nabi yang diutus-Nya. Memberat-beratkan diri menyelidiki hal itu adalah sarana menuju kehinaan, tangga keharaman, dan mempercepat penyelewengan. Waspadai dan waspadailah seluruh pendapat-pendapat, pemikiran-pemikiran, dan bisikanbisikan tentang takdir tersebut. Sesungguhnya Allah menutupi ilmu tentang takdir-Nya agar tidak diketahui makhluk-Nya dan melarang mereka untuk mencoba menggapainya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya:
“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiyaa’: 23).
Barangsiapa yang bertanya: “Kenapa Dia lakukan itu?”, berarti ia menolak hukum AlQur’an. Barangsiapa menolak hukum Al-Qur’an, berarti ia termasuk orang-orang kafir.
54. Inilah sejumlah persoalan yang dibutuhkan oleh orang-orang yang hatinya terang dari kalangan para wali Allah. Itulah derajat orang-orang yang sudah mendalam ilmunya. Karena ilmu itu ada dua macam, yaitu: ilmu yang dapat digapai makhluk (ilmu agama-pent.) dan ilmu yang terselubung baginya (ilmu ghaib). Mengingkari ilmu yang pertama berarti kekufuran. Dan mengaku-aku memiliki ilmu yang kedua juga kekufuran. Keimanan itu hanyalah terpatri dengan menerima ilmu yang harus digapai manusia, dan menghindarkan diri dari mencari ilmu yang terselubung.
55. Kita juga mengimani adanya Al-Lauh Al-Mahfudz, Al-Qalam, dan segala yang tercatat di dalamnya.
56. Seandainya seluruh makhluk bersepakat terhadap suatu urusan yang telah Allah tetapkan untuk terjadi, agar urusan itu batal, mereka tak akan mampu untuk mengubahnya. Sebaliknya seandainya mereka berkumpul menghadapi urusan yang telah Allah tetapkan untuk tidak terjadi, agar urusan itu terjadi, merekapun tidak akan mampu mengubahnya. Qalam (catatan) Allah telah ditetapkan untuk segala sesuatu yang akan terjadi sampai datangnya Hari Kiamat.
57. Sesuatu yang -ditakdirkan- tidak akan menimpa seorang hamba, maka tidak akan menimpanya. Dan yang akan mengenainya, maka tidak akan meleset.
58. Hendaknya seorang hamba tahu bahwa ilmu Allah telah mendahului segala sesuatu yang akan terjadi pada makhluk-Nya. Dia telah menentukan takdir yang baku yang tak bisa berubah. Tak ada seorang makhluk pun baik di langit maupun di bumi yang dapat membatalkan, meralatnya, menghilangkannya, mengubahnya, menggantinya, mengurangi, ataupun menambahnya.
59. Itulah buhul ikatan keimanan dan dasar-dasar ma’rifat dan pengakuan terhadap ke-Esa-an dan ke-Rububiyyah-an Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana yang difirmankan dalam Al-Qur’an:
“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan : 2).
Dan firman-Nya: “Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (QS. Al-Ahzab : 38).
60. Maka celakalah orang yang betul-betul menjadi musuh Allah dalam persoalan takdir-Nya. Dan mengikutsertakan hatinya yang sakit untuk membahasnya.3 Karena lewat praduganya ia telah mencari-cari dan menyelidiki ilmu ghaib yang merupakan rahasia tersembunyi. Akhirnya ia kembali dengan membawa dosa dan kedustaan.
61. ‘Arsy dan Kursiy-Nya adalah benar adanya.
62. Dia tidak membutuhkan ‘Arsy-Nya itu dan apa yang ada di bawahnya. Dia menguasai segala sesuatu dan apa-apa yang ada di atasnya. Dan Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk menguasai segala sesuatu.
63. Kita juga menyatakan dengan penuh keimanan dan penyerahan diri bahwa sesungguhnya Allah telah menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagai kekasih-Nya, dan mengajak Nabi Musa ‘alaihis salam untuk berbicara dengan sebenar-benarnya.
64. Kita mengimani para Malaikat, para Nabi, dan kitab-kitab yang diturunkan kepada para Rasul. Kita pun bersaksi, bahwa mereka berada di atas kebenaran yang nyata.
65. Kita menyebut mereka yang (shalat) menghadap kiblat kita dengan (sebutan) kaum muslimin dan kaum mukminin selama mereka mengakui apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan membenarkan segala apa yang beliau ucapkan dan beritakan.
66. Kita tidak mempergunjingkan Allah dan tidak membantah (ajaran) dien Allah.
67. Kita tidak menyanggah Al-Qur’an, dan bersaksi bahwa ia adalah Kalam Rabbul ‘Alamin, diturunkan dengan perantaraan Ruhul Amin (Malaikat Jibril), lalu diajarkan kepada Penghulu para Nabi yaitu Muhammad shallallahu 'alaihi wa ‘ala alaihi ajma’in (salaaman tasliman katsiran). Ia adalah Kalam Ilahi yaitu yang tak akan dapat diserupakan dengan ucapan makhlukmakhluk-Nya. Kita pun tidak mengatakannya sebagai makhluk dan (dengan itu) tidak akan menyelisihi Jama’ah kaum muslimin.
68. Kita tidak mengafirkan Ahli Kiblat (kaum muslimin) hanya karena suatu dosa, selama dia tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang dihalalkan. Namun kita juga tidak mengatakan bahwa dosa itu sama sekali tidak berbahaya bagi orang yang melakukannya selama ia masih beriman.
69. Kita mengharapkan agar orang-orang yang berbuat fajir dari kalangan mukminin dapat diampuni dosa-dosa mereka dan dimasukkan Jannah karena rahmat-Nya, namun kita tidak menganggap mereka aman dari siksa-Nya.
70. Merasa aman dari siksa, atau putus asa dari ampunan Allah, keduanya dapat mengeluarkan dari Islam. Jalan yang benar bagi orang Islam adalah antara keduanya
71. Seorang hamba hanya akan keluar dari keimanannya kalau ia mengingkari apa yang telah ia imani.
72. Iman adalah [pembenaran dalam hati], pengakuan dengan lidah, dan pembuktian dengan (amalan) anggota badan.
73. Seluruh yang diriwayatkan dengan shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berupa ajaran syari’at adalah benar adanya.
74. Iman itu adalah satu bentuk. Pemilik keimanan tersebut dilihat dari asal imannya4 adalah sama. Keutamaan di antara mereka diukur dengan ketakwaan, rasa takut kepada Allah, menghindari hawa nafsu, dan melakukan sesuatu yang lebih utama.
75. Kaum mukminin seluruhnya adalah wali-wali Ar-Rahman.
76. Yang paling mulia di antara mereka adalah yang paling taat dan paling ittiba’ dengan ajaran Al-Qur’an.
77. Pengertian Iman adalah: Beriman kepada Allah, para Malaikat, Kitab-Kitab-Nya, para RasulNya, Hari Akhir, dan Takdir baik maupun buruk, manis maupun pahit. Dan bahwa kesemuanya berasal dari Allah.
78. Kita mengimani semua itu. Kita tidak membeda-bedakan seorang pun di antara para Rasul. Kita membenarkan mereka semua beserta apa yang mereka bawa.
79. Para pelaku dosa besar di kalangan umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (bisa) masuk Naar, namun mereka tak akan kekal di dalamnya kalau mereka mati dalam keadaan bertauhid. Meskipun mereka belum bertaubat namun mereka menemui Allah (mati) dengan menyadari dosa mereka. Mereka diserahkan kepada kehendak dan keputusan Allah. Kalau Dia menghendaki, maka mereka dapat diampuni dan dimaafkan dosa-dosa mereka dengan keutamaan-Nya, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla:
“Dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 48, 116).
Dan jikalau Dia menghendaki, mereka diadzab-Nya di Naar dengan keadilan-Nya. Kemudian Allah akan mengeluarkan mereka dari dalamnya dengan rahmat-Nya dan syafa’at orang yang berhak memberi syafa’at di kalangan hamba-Nya yang ta’at. Lalu mereka pun diangkat ke Jannah-Nya. Hal itu karena Allah adalah Wali bagi siapa yang berma’rifah kepada-Nya, maka Dia pun tidak menjadikan keadaan mereka di dunia dan di akhirat sama seperti mereka yang tidak berma’rifah kepada-Nya. Yaitu mereka yang luput, tak mendapatkan petunjuk-Nya, dan tidak dapat memperoleh hak kewalian-Nya. Wahai Dzat yang menjadi Wali bagi Islam dan pemeluknya, teguhkanlah kami bersama Islam sehingga kami datang menghadap ke haribaan-Mu.
80. Kami menganggap sah shalat (jama’ah) di belakang Imam, baik yang shalih maupun yang fasik dari kalangan Ahli Kiblat. Dan menshalatkan siapa saja yang meninggal di antara mereka.
81. Kita tak dapat memastikan mereka, masuk Jannah atau Naar.
82. Kita tak bisa bersaksi bahwa mereka itu kafir, musyrik, maupun munafik, selama semua itu tidak tampak nyata dari diri mereka. Kita menyerahkan rahasia hati mereka kepada Allah Ta’ala.
83. Kita tidak boleh mengangkat pedang (berperang/menumpahkan darah) terhadap seorang pun dari ummat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kecuali terhadap mereka yang wajib diperangi.
84. Kita juga tidak membolehkan memberontak terhadap pemimpin-pemimpin dan Ulul ‘Amri kita, meskipun mereka berbuat lalim. Kita tidak menyumpahi mereka dan tidak berlepas diri dengan tidak taat kepada mereka. Kita berkeyakinan bahwa mentaati mereka sepanjang dalam ketaatan kepada Allah adalah wajib, selama mereka tidak menyuruh berbuat maksiat. Kita tetap mendoakan kebaikan untuk mereka dan agar mereka dikaruniai kebaikan jasmani maupun rohani.
85. Kita tetap mengikuti As-Sunnah dan Al-Jama’ah, menghindari sesuatu yang aneh, perselisihan (yang didasari menyelisihi Al-Jama’ah-pent.) dan menghindari perpecahan.
86. Kita mencintai orang yang adil dan menjaga amanah serta membenci orang yang zhalim dan khianat.
87. Terhadap sesuatu yang masih samar ilmunya bagi kita, kita mengucapkan Allahu A’lam.
88. Kita berpendapat disyari’atkannya mengusap khuff (sepatu) baik di waktu mukim maupun safar (bepergian). Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa riwayat.
89. Jihad dan ibadah haji dilakukan bersama Ulul ‘Amri, baik yang shalih maupun yang fasik, hingga hari kiamat. Keduanya tak dapat dibatalkan dan dirusak oleh segala sesuatu.
90. Kita mengimani para Malaikat yang Mulia, pencatat amal manusia. Sesungguhnya Allah telah menjadikan mereka sebagai pengawas bagi kita.
91. Kita juga mengimani Malaikat Maut yang diberi tugas mencabut nyawa para makhluk hidup.
92. Kita pun mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya dan juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabb dan agamanya berdasarkan riwayat-riwayat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam serta para sahabat Ridwanullahu ‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman Jannah atau kubangan-kubangan Naar.
93. Kita juga mengimani Hari Ba’ats dan balasan amal perbuatan pada hari kiamat, kita juga mengimani pendedahan (penyingkapan) amal perbuatan, hisab, pembacaan catatan amal, ganjaran baik dan siksa, shirat dan al-mizan di Hari Kiamat.
94. Jannah dan Naar adalah dua makhluk Allah yang kekal, tak akan punah dan binasa. Sesungguhnya Allah telah menciptakan keduanya sebelum penciptaan makhluk lain dan Allah-pun menciptakan penghuni bagi keduanya.
95. Barangsiapa yang dikehendaki-Nya untuk masuk Jannah, maka itu adalah keutamaan dariNya. Dan barangsiapa yang dikehendaki-Nya untuk masuk Naar, maka itu adalah keadilan dari-Nya. Masing-masing akan beramal sesuai dengan apa yang menjadi ketetapan dari-Nya dan akan kembali kepada apa yang menjadi kodratnya. Kebaikan dan keburukan seluruhnya telah ditetapkan atas hamba-hamba-Nya.
96. Kemampuan, yang dengan wujudnya datang kewajiban amal adalah semacam taufik yang bukan merupakan kriteria mahkluk. Adapun kemampuan dalam arti kesehatan tubuh, potensi, kekuatan, dan selamatnya diri dari bermacam musibah, adalah persiapan sebelum melakukan amalan. Dengan itulah hukum tersebut digantungkan, sebagaimana yang difirmankan Allah:
“Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sebatas kesanggupannya.“ (QS. Al-Baqarah: 286).
97. Amal perbuatan hamba adalah makhluk Allah, namun juga hasil usaha hamba itu sendiri.
98. Allah hanya membebani mereka sebatas yang mereka mampu. Dan mereka pun memang tidak akan mampu melainkan sebatas apa yang dibebankan Allah atas mereka. Itulah pengertian kalimat Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kita mengatakan: tiada jalan bagi seorang hamba dan tidak pula ia memiliki kebebasan beraktivitas, dan beranjak meninggalkan maksiat melainkan dengan pertolongan Allah. Dan seorang pun tidak memiliki kekuatan untuk melaksanakan dan bertahan dalam ketaatan kepada Allah, melainkan dengan taufik-Nya.
99. Segala sesuatu berlaku menurut kehendak, ilmu, keputusan dan takdir-Nya. Dia berbuat sekehendak-Nya, namun tidaklah sekali-kali Dia mendzhalimi hamba-Nya.
“Tidaklah Dia ditanya tentang apa yang Dia perbuat, tetapi merekalah yang akan ditanya tentang (apa yang mereka perbuat).” (QS. Al-Anbiyaa’: 23).
100. Do’a dan sedekah orang yang hidup dapat bermanfaat bagi mereka yang sudah mati.
101. Allah Ta’ala mengabulkan segala do’a dan memenuhi segala kebutuhan hamba-Nya.
102. Dia-lah yang memiliki segala sesuatu namun tidak dimiliki oleh sesuatu. Tidak sekejappun (hamba-hamba-Nya) lepas dari rasa butuh kepada-nya. Barangsiapa yang merasa tak butuh kepada Allah sekejappun, dia telah kafir dan termasuk orang yang binasa.
103. Allah Subahanahu wa Ta’ala juga Murka dan Ridhla, namun tidak menyerupai satupun dari makhluk-Nya.
104. Kita mencintai para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, namun tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antaranya. Tidak juga kita bersikap meremehkan terhadap seorang pun dari mereka. Kita membenci siapa-siapa yang membenci mereka dan siapa-siapa yang menyebutkan mereka dengan kejelekan. Kita pun hanya menyebut mereka dalam kebaikan. Mencintai mereka adalah pengamalan ad-dien (agama), keimanan, dan ihsan. Sementara membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan melampaui batas.
105. Kita mengakui kekhalifahan sepeninggal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang pertama adalah Abu Bakr As-Shiddiq radliyallahu 'anhu sebagai sikap mengutamakan dan mengunggulkan dirinya atas semua umat Islam.
106. Kemudian ‘Umar bin Al-Khattab radliyallahu 'anhu.
107. Setelah itu ‘Utsman bin ‘Affan radliyallahu 'anhu.
108. Kemudian ‘Ali bin Abi Thalib radliyallahu 'anhu.
109. Merekalah yang disebut dengan Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun dan para imam yang mendapat petunjuk.
110. Sepuluh orang sahabat yang disebut-sebut Nabi dan diberi kabar gembira sebagai penghuni Jannah, kita akui sebagai penghuni Jannah berdasarkan persaksian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan perkataan beliau yang benar. Mereka adalah: Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah [bin ‘Ubaidillah], Az-Zubeir [bin Al-Awwam], Sa’ad [bin Abi Waqqas], Sa’id [bin Zaid], Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abu ‘Ubaidah Al-Jarrah --orang tepercaya umat ini-- radliyallahu 'anhum.
111. Barangsiapa yang membaguskan ucapannya terhadap para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, istri-istri beliau yang bersih dari segala noda, serta anak cucu beliau yang suci dari segala najis, maka orang itu telah selamat dari kemunafikan.
112. Para ‘ulama As-Salaf terdahulu [para sahabat-pent.] dan yang sesudah mereka dari kalangan Tabi’in adalah pelaku kebaikan dan ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ushul. Mereka semuanya harus disebutkan kebaikannya. Barangsiapa yang menjelek-jelekkan mereka, maka dia tidak berada di atas jalan mereka (para sahabat).
113. Kita tidak mengutamakan salah seorangpun di antara para wali Allah di atas seorang Nabi ‘Alaihi As-Sallam. Bahkan kita mengatakan bahwa seorang saja dari para Nabi itu lebih utama dibanding seluruh para wali.
114. Kita mengimani adanya karomah-karomah mereka dan segala riwayat tentang mereka yang dinukil dari para perawi yang tepercaya.
115. Kita juga mengimani adanya tanda-tanda hari kiamat berupa keluarnya Ad-Dajjal dan turunnya Nabi ‘Isa ‘Alaihis Sallam dari langit. Kita juga mengimani terbitnya matahari dari barat dan keluarnya Ad-Daabbah [salah satu tanda kiamat yaitu binatang yang dapat berbicara seperti manusia-pent.] dari kediamannya.
116. Kita tidak mempercayai (ucapan) dukun maupun peramal, demikian juga setiap orang yang mengakui sesuatu yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah serta Ijma’ kaum muslimin.
117. Kita meyakini bahwa Al-Jama’ah adalah haq dan kebenaran, sementara Al-Furqah adalah penyimpangan dan siksaan.
118. Ad-Dien (agama) Allah di langit dan di bumi hanyalah satu, yaitu dienul Islam, Allah berfirman:
“Sesungguhnya agama (yang diridhlai) di sisi Allah hanyalah Al-Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19).
Dia juga berfirman: “Dan telah Aku ridlai Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3).
Dan Islam itu berada di antara sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan, antara menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk dan menafikkan (meniadakan) sifat-sifat itu, antara Jabriyah (kaum yang bersandar kepada takdir saja) dan Al-Qadariyah (kaum yang menolak takdir), dan antara yang merasa aman dari siksa Allah dan yang putus asa dari rahmat Allah.
119. Inilah agama dan keyakinan kami lahir maupun batin. Kami berlepas diri --dengan kembali kepada Allah-- dari setiap yang menyelisihi apa yang kami sebutkan dan kami jelaskan. Kita memohon kepada Allah untuk menetapkan diri kita di atas keimanan, mematikan kita dengan keyakinan itu, memelihara kita dari pengaruh hawa nafsu yang bermacam-macam, dan dari pendapat-pendapat yang beraneka ragam, dan mahdzab-mahdzab yang jelek, seperti: Mu’tazilah, Al-Jahmiyyah, Al-Jabriyyah, Al-Qadariyyah, dan lain-lain, dari kalangan mereka yang menyelisihi Al-Jama’ah dan bersanding dengan kesesatan. Kita berlepas diri dari mereka. Dan mereka menurut kami adalah orang-orang sesat dan jahat. Wa billahi Al-‘Ishmatu wa At-Taufiq.
Senin, 08 Juli 2013
Minggu, 07 Juli 2013
Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yang mereka itu para Huffadh (yang hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :
“Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!”
Berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).
Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya :
“sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.
Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal yang baru, sungguh semua yang Bid;ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).
Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.
Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik baik Bid’ah!” (Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.
Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873). Siapakah yang salah dan tertuduh?, siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?
Dikutip dari : Buku KENALILAH AQIDAHMU, oleh HABIBANA MUNZIR AL MUSAWA, Hal. 5-6.
“Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!”
Berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).
Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya :
“sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.
Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal yang baru, sungguh semua yang Bid;ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).
Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.
Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik baik Bid’ah!” (Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.
Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873). Siapakah yang salah dan tertuduh?, siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?
Dikutip dari : Buku KENALILAH AQIDAHMU, oleh HABIBANA MUNZIR AL MUSAWA, Hal. 5-6.
Sabtu, 06 Juli 2013
BID'AH HASANAH DIPERBOLEHKAN NABI SAW
Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah. Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw :
“Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.
Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat :
“ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM…”, yang artinya “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”,
Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam,
Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain turun, masalah hutang dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram, maka membuat kebiasaan baru yang baik boleh boleh saja.
Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan...dst”, inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah.
Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yang ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah).
Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.
Dikutip dari : Buku KENALILAH AQIDAHMU, oleh HABIBANA MUNZIR AL MUSAWA, Hal. 4-5.
Baca juga Menyikapi Bid’ah
“Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.
Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat :
“ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM…”, yang artinya “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”,
Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam,
Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain turun, masalah hutang dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram, maka membuat kebiasaan baru yang baik boleh boleh saja.
Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan...dst”, inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah.
Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yang ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah).
Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.
Dikutip dari : Buku KENALILAH AQIDAHMU, oleh HABIBANA MUNZIR AL MUSAWA, Hal. 4-5.
Baca juga Menyikapi Bid’ah
Jumat, 05 Juli 2013
MENGAMALKAN TAUHID DENGAN SEBENAR-BENARNYA DAPAT MENYEBABKAN MASUK SURGA TANPA HISAB
Firman Allah :
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh pada kebenaran), dan sekali-kali ia bukanlah termasuk orang-orang mempersekutukan(Tuhan).” (QS. An Nahl:120).
“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun)”. (QS. Al Mu’minun:59).
Husain bin Abdurrahman berkata: “Suatu ketika aku berada di sisi Sa'id bin Zubair, lalu ia bertanya: “siapa di antara kalian melihat bintang yang jatuh semalam? kemudian aku menjawab: “aku”, kemudian kataku:
“ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak sedang melaksanakan shalat, karena aku disengat kalajengking”, lalu ia bertanya kepadaku: “lalu apa yang kau lakukan? aku menjawab: “aku minta diruqyah (10)”, ia bertanya lagi: “apa yang mendorong kamu melakukan hal itu? aku menjawab: “yaitu: sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy Sya’by kepada kami”, ia bertanya lagi: “dan apakah hadits yang dituturkan kepadamu itu? aku menjawab: “dia menuturkan hadits kepada kami dari Buraidah bin Hushaib:
“Tidak boleh Ruqyah kecuali karena ain (11) atau terkena sengatan”.Sa'id pun berkata: “sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu Abbas menuturkan hadits kepada kami dari Rasulullah , beliau bersabda:
“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku: bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya, tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku: mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu." kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orangorang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu? Ada diantara mereka yang berkata: "barangkali mereka itu orang-orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata: "barangkali mereka itu orang-orang yang dilakhirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.
Kemudian Rasulullah keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda:
“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathayyur (12) dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada tuhan mereka." kemudian Ukasyah bin Muhshan berdiri dan berkata: mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul bersabda: “ya, engkau termasuk golongan mereka”, kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata: mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasul menjawab: “Kamu sudah kedahuluanUkasyah.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Kandungan bab ini:
1. Mengetahui adanya tingkatan-tingkatan manusia dalam bertauhid.
2. Pengertian mengamalkan tauhid dengan semurnimurninya.
3. Pujian Allah kepada Nabi Ibrahim, karena beliau tidak pernah melakukan kemusyrikan.
4. Pujian Allah kepada tokoh para wali Allah (para shahabat Rasulullah) karena bersihnya diri mereka dari kemusyrikan.
5. Tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya ditempeli dengan besi yang panas, dan tidak melakukan tathayyur adalah termasuk pengamalan tauhid yang murni.
6. Tawakkal kepada Allah adalah sifat yang mendasari sikap tersebut.
7. Dalamnya ilmu para sahabat, karena mereka mengetahui bahwa orang-orang yang dinyatakan dalam hadits tersebut tidak akan mendapatkan kedudukan yang demikian tinggi kecuali dengan adanya pengamalan.
8. Semangatnya para sahabat untuk berlombalomba dalam mengerjakan amal kebaikan.
9. Keistimewaan umat Islam dalam kwantitas dan kwalitasnya.
10.Keutamaan para pengikut Nabi Musa.
11.Umat-umat terdahulu telah ditampakkan kepada Nabi Muhammad .
12.Setiap umat dikumpulkan sendiri-sendiri bersama para Nabinya.
13.Sedikitnya orang-orang yang mengikuti ajakan para Nabi.
14.Nabi yang tidak mempunyai pengikut akan datang sendirian pada hari kiamat.
15.Manfaat dari pengetahuan ini adalah tidak silau dengan jumlah yang banyak dan tidak kecil hati dengan jumlah yang sedikit.
16.Diperbolehkan melakukan ruqyah disebabkan terkena ain dan sengatan.
17.Luasnya ilmu para ulama salaf, hal itu bisa diketahui dari ucapan Sa'id bin Zubair: “Sungguh telah berbuat baik orang yang mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi…”, dengan demikian jelaslah bahwa hadits yang pertama tidak bertentangan dengan hadits yang kedua.
18.Kemuliaan sifat para ulama salaf, karena ketulusan hati mereka, dan mereka tidak memuji seseorang dengan pujian yang dibuat-buat.
19.Sabda Nabi: “Engkau termasuk golongan mereka” adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian Beliau.
20.Keutamaan Ukasyah.
21.Penggunaan kata sindiran (13).
22.Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad.
___________________________________
(10)Ruqyah, maksudnya di sini, ialah: penyembuhan dengan bacaan ayat ayat Al qur’an atau doa doa.
(11)Ain, yaitu: pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang, melalui pandangan matanya. Disebut juga penyakit mata.
(12)Tathayyur ialah: merasa pesimis, merasa bernasib sial, atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja
(13)Karena beliau bersabda kepada seseorang: “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah”, dan tidak bersabda kepadanya: “Kamu tidak pantas untuk dimasukkan ke dalam golongan mereka".
Dikutip dari : KITAB TAUHID Karya : SYEKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB; Penerjemah : M. YUSUF HARUN, MA. Hal. 30-36.
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh pada kebenaran), dan sekali-kali ia bukanlah termasuk orang-orang mempersekutukan(Tuhan).” (QS. An Nahl:120).
“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun)”. (QS. Al Mu’minun:59).
Husain bin Abdurrahman berkata: “Suatu ketika aku berada di sisi Sa'id bin Zubair, lalu ia bertanya: “siapa di antara kalian melihat bintang yang jatuh semalam? kemudian aku menjawab: “aku”, kemudian kataku:
“ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak sedang melaksanakan shalat, karena aku disengat kalajengking”, lalu ia bertanya kepadaku: “lalu apa yang kau lakukan? aku menjawab: “aku minta diruqyah (10)”, ia bertanya lagi: “apa yang mendorong kamu melakukan hal itu? aku menjawab: “yaitu: sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy Sya’by kepada kami”, ia bertanya lagi: “dan apakah hadits yang dituturkan kepadamu itu? aku menjawab: “dia menuturkan hadits kepada kami dari Buraidah bin Hushaib:
“Tidak boleh Ruqyah kecuali karena ain (11) atau terkena sengatan”.Sa'id pun berkata: “sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu Abbas menuturkan hadits kepada kami dari Rasulullah , beliau bersabda:
“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku: bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya, tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku: mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu." kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orangorang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu? Ada diantara mereka yang berkata: "barangkali mereka itu orang-orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata: "barangkali mereka itu orang-orang yang dilakhirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.
Kemudian Rasulullah keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda:
“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathayyur (12) dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada tuhan mereka." kemudian Ukasyah bin Muhshan berdiri dan berkata: mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul bersabda: “ya, engkau termasuk golongan mereka”, kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata: mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasul menjawab: “Kamu sudah kedahuluanUkasyah.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Kandungan bab ini:
1. Mengetahui adanya tingkatan-tingkatan manusia dalam bertauhid.
2. Pengertian mengamalkan tauhid dengan semurnimurninya.
3. Pujian Allah kepada Nabi Ibrahim, karena beliau tidak pernah melakukan kemusyrikan.
4. Pujian Allah kepada tokoh para wali Allah (para shahabat Rasulullah) karena bersihnya diri mereka dari kemusyrikan.
5. Tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya ditempeli dengan besi yang panas, dan tidak melakukan tathayyur adalah termasuk pengamalan tauhid yang murni.
6. Tawakkal kepada Allah adalah sifat yang mendasari sikap tersebut.
7. Dalamnya ilmu para sahabat, karena mereka mengetahui bahwa orang-orang yang dinyatakan dalam hadits tersebut tidak akan mendapatkan kedudukan yang demikian tinggi kecuali dengan adanya pengamalan.
8. Semangatnya para sahabat untuk berlombalomba dalam mengerjakan amal kebaikan.
9. Keistimewaan umat Islam dalam kwantitas dan kwalitasnya.
10.Keutamaan para pengikut Nabi Musa.
11.Umat-umat terdahulu telah ditampakkan kepada Nabi Muhammad .
12.Setiap umat dikumpulkan sendiri-sendiri bersama para Nabinya.
13.Sedikitnya orang-orang yang mengikuti ajakan para Nabi.
14.Nabi yang tidak mempunyai pengikut akan datang sendirian pada hari kiamat.
15.Manfaat dari pengetahuan ini adalah tidak silau dengan jumlah yang banyak dan tidak kecil hati dengan jumlah yang sedikit.
16.Diperbolehkan melakukan ruqyah disebabkan terkena ain dan sengatan.
17.Luasnya ilmu para ulama salaf, hal itu bisa diketahui dari ucapan Sa'id bin Zubair: “Sungguh telah berbuat baik orang yang mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi…”, dengan demikian jelaslah bahwa hadits yang pertama tidak bertentangan dengan hadits yang kedua.
18.Kemuliaan sifat para ulama salaf, karena ketulusan hati mereka, dan mereka tidak memuji seseorang dengan pujian yang dibuat-buat.
19.Sabda Nabi: “Engkau termasuk golongan mereka” adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian Beliau.
20.Keutamaan Ukasyah.
21.Penggunaan kata sindiran (13).
22.Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad.
___________________________________
(10)Ruqyah, maksudnya di sini, ialah: penyembuhan dengan bacaan ayat ayat Al qur’an atau doa doa.
(11)Ain, yaitu: pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang, melalui pandangan matanya. Disebut juga penyakit mata.
(12)Tathayyur ialah: merasa pesimis, merasa bernasib sial, atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja
(13)Karena beliau bersabda kepada seseorang: “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah”, dan tidak bersabda kepadanya: “Kamu tidak pantas untuk dimasukkan ke dalam golongan mereka".
Dikutip dari : KITAB TAUHID Karya : SYEKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB; Penerjemah : M. YUSUF HARUN, MA. Hal. 30-36.
Langganan:
Postingan (Atom)