Senin, 20 Mei 2013

Respon Quest - Islam memundurkan peradaban Manusia

APAKAH ISLAM MEMUNDURKAN PERADAPAN MANUSIA ??

Opini semacam ini, pernah diajukan pihak diluar islam. Ia menganggap bahwa Islam zaman ini tidak seperti zaman ketika Islam maju dimasa silam.. dengan perbandingan rill yang dianggapnya SESUAI DENGAN FAKTA YANG ADA.

Benarkah opini tsb benar adanya ??

Tanggapan saya :

Pemilik opini merasa opininya adalah benar, tanpa melihat sejarah yang ia yakini sebelumnya. Ia meyakini bahwa Islam pernah maju dimasa lalu... itu artinya pernyataan bahwa ISLAM MENGIKUTI PERKEMBANGAN ZAMAN adalah KENYATAAN YANG TELAH TERBUKTI sejak dahulu kala.... jika kita mengacu pada awal diturunkannya Al-Qur'an sampai sekarang ini, adakah informasi atau berita dari Al-Qur'an yang OUT OF HISTORY ??

Al-Qur'an dan Islam jelas sangat memajukan peradaban manusia dengan segala informasi mengenai aturan dan hukum juga berita2 yg sudah terbukti seperti pengakuan-nya (si empunya opini).

Bukti-bukti bahwa Islam & Alquran memajukan peradaban manusia dalam aspek ASTRONOMI

• PENCIPTAAN SEMESTA
Asal mula alam semesta digambarkan dalam Al Qur'an dalam ayat berikut:

"Dia adalah Pencipta langit dan bumi. (Al Qur'an, 6:101)

Informasi ini diberikan dalam Al Qur'an adalah dalam perjanjian penuh dengan temuan ilmu pengetahuan kontemporer. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan besar yang terjadi dalam waktu singkat. Acara ini, yang dikenal sebagai "The Big Bang" membuktikan bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik. Kalangan ilmiah modern bersepakat bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan rasional dan dapat dibuktikan dari awal alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada. Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana baik materi, atau energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara metafisik, materi, energi, dan waktu itu semua diciptakan. Fakta ini, yang baru saja ditemukan ahli fisika modern, diberitakan kepada kita dalam Al Qur'an 1.400 tahun lalu. Daerah coklat gelap mewakili radiasi Cahaya daerah coklat latar belakang adalah daerah merah muda dingin ringan merah muda daerah gelap panas adalah tempat terpanas Sensor sensitif di papan satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan oleh NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi Big Bang. Penemuan ini merupakan bukti terjadinya peristiwa Big Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan

• MENGEMBANGNYA ALAM SEMESTA

Dalam Al Qur'an, yang diturunkan 14 abad yang lalu pada saat ilmu astronomi masih primitif, perluasan alam semesta digambarkan seperti ini:

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuatan (Kami)dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (Al Qur'an, 51:47)

Kata "langit", sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di berbagai tempat dalam Al Qur'an dengan makna ruang dan alam semesta. Di sini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain, dalam Al Qur'an ia mengungkapkan bahwa alam semesta "mengembang". Dan ini adalah sangat kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan masa ini.

Sampai awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang berlaku dalam dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa "alam semesta memiliki sifat konstan dan telah ada sejak waktu tak terbatas". Penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan teknologi modern, bagaimanapun, telah mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan bahwa ia selalu "mengembang".

Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia Georges Lemaitre secara teoritis menghitung bahwa alam semesta dalam gerakan konstan dan bahwa itu adalah memperluas. Fakta ini dibuktikan juga oleh data observasi pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, American astronom, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Auniverse mana semuanya terus bergerak menjauh dari segala sesuatu yang lain tersirat alam semesta terus berkembang. Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memverifikasi bahwa alam semesta terus berkembang.

Fakta ini dijelaskan dalam Al-Qur'an saat itu masih belum diketahui kepada siapa pun. Hal ini karena Al Qur'an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Penguasa seluruh alam semesta

•PEMISAHAN LANGIT & BUMI

Ayat lain tentang penciptaan langit adalah sebagai berikut:

"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (Al Qur'an, 21:30)

Kata ratq diterjemahkan sebagai "dijahit" berarti "dicampur dalam masing-masing, dicampur" Dalam kamus bahasa Arab. Hal ini digunakan untuk merujuk dua zat berbeda yang membentuk keseluruhan. Ungkapan "Kami pisahkan" adalah fataqa kata kerja dalam bahasa Arab dan menyiratkan bahwa sesuatu datang menjadi dengan merobek atau menghancurkan struktur ratq. Tumbuhnya biji dari tanah adalah salah satu tindakan yang kata kerja ini diterapkan. Mari kita lihat pada ayat lagi dengan pengetahuan ini dalam pikiran. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi berada pada subjek pertama dengan status ratq. Mereka dipisahkan (fataqa) dengan satu keluar dari yang lain. Menariknya, bila kita ingat saat-saat pertama dari Big Bang, kita melihat bahwa satu titik termasuk semua materi di alam semesta. Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk "langit dan bumi" yang tidak dibuat, dimasukkan dalam titik ini dalam kondisi ratq. Hal ini meledak keras, menyebabkan masalah untuk f menciptakan struktur seluruh alam semesta. ataqa dan dalam proses Ketika kita membandingkan ekspresi dalam ayat dengan temuan-temuan ilmiah, kita melihat bahwa mereka berada dalam perjanjian sempurna satu sama lain. Yang cukup menarik, temuan ini tidak tiba di sampai abad ke-20


• ORBIT ( Garis edar)

Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur'an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

"Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (Al Qur'an, 21:33)

Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:

"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (Al Qur'an, 36:38)

Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al Qur'an ini telah ditemukan melalui
pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana. Keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini, dinyatakan dalam Al Qur'an sebagai berikut:

"Demi langit yang mempunyai jalan-jalan." (Al Qur'an, 51:7)

Terdapat sekitar 200 milyar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah "berenang" sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya. Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan. Dapat dipastikan bahwa pada saat Al Qur'an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Karenanya, saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa "dipenuhi lintasan dan garis edar" sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Akan tetapi, hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita dalam Al Qur'an yang diturunkan pada saat itu: karena Al Qur'an adalah firman Allah.

• ATAP YANG TERPELIHARA

Dalam Al Qur'an, Allah mengarahkan perhatian kita kepada sifat yang sangat menarik tentang langit:

"Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya." (Al Qur'an, 21:32)

Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20. Atmosfir yang melingkupi bumi berperan sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan. Dengan menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka jatuh ke bumi dan membahayakan makhluk hidup. Atmosfir juga menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan kehidupan. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan agar ditembus oleh sinar-sinar tak berbahaya dan berguna, - seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet tepi, dan gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar ultraviolet tepi, yang hanya sebagiannya menembus atmosfir, sangat penting bagi fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar sinar ultraviolet kuat yang dipancarkan matahari ditahan oleh lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spektrum ultraviolet yang mencapai bumi.

Fungsi pelindung dari atmosfir tidak berhenti sampai di sini. Atmosfir juga melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang angkasa, yang mencapai sekitar 270 derajat celcius di bawah nol. Tidak hanya atmosfir yang melindungi bumi dari pengaruh berbahaya. Selain atmosfir, Sabuk Van Allen, suatu lapisan yang tercipta akibat keberadaan medan magnet bumi, juga berperan sebagai perisai melawan radiasi berbahaya yang mengancam planet kita. Radiasi ini, yang terus- menerus dipancarkan oleh matahari dan bintang-bintang lainnya, sangat mematikan bagi makhuk hidup. Jika saja sabuk Van Allen tidak ada, semburan energi raksasa yang disebut jilatan api matahari yang terjadi berkali-berkali pada matahari akan menghancurkan seluruh kehidupan di muka bumi.

Dr. Hugh Ross berkata tentang perang penting Sabuk Van Allen bagi kehidupan kita: Bumi ternyata memiliki kerapatan terbesar di antara planet-planet lain di tata surya kita. Inti bumi yang terdiri atas unsur nikel dan besi inilah yang menyebabkan keberadaan medan magnetnya yang besar. Medan magnet ini membentuk lapisan pelindung berupa radiasi Van-Allen, yang melindungi Bumi dari pancaran radiasi dari luar angkasa. Jika lapisan pelindung ini tidak ada, maka kehidupan takkan mungkin dapat berlangsung di Bumi. Satu-satunya planet berbatu lain yang berkemungkinan memiliki medan magnet adalah Merkurius - tapi kekuatan medan magnet planet ini 100 kali lebih kecil dari Bumi. Bahkan Venus, planet kembar kita, tidak memiliki medan magnet. Lapisan pelindung Van-Allen ini merupakan sebuah rancangan istimewa yang hanya ada pada Bumi. (http://www.jps.net/bygrace/index. html

Taken from Big Bang Refined by Fire by Dr. Hugh Ross, 1998. Reasons To Believe, Pasadena, CA.)

Energi yang dipancarkan dalam satu jilatan api saja, sebagaimana tercatat baru-baru ini, terhitung setara dengan 100 milyar bom atom yang serupa dengan yang dijatuhkan di Hiroshima. Lima puluh delapan jam setelah kilatan tersebut, teramati bahwa jarum magnetik kompas bergerak tidak seperti biasanya, dan 250 kilometer di atas atmosfir bumi terjadi peningkatan suhu tiba-tiba hingga mencapai 2.500 derajat celcius. Singkatnya, sebuah sistem sempurna sedang bekerja jauh tinggi di atas bumi. Ia melingkupi bumi kita dan melindunginya dari berbagai ancaman dari luar angkasa. Para ilmuwan baru mengetahuinya sekarang, sementara berabad-abad lampau, kita telah diberitahu dalam Al Qur'an tentang atmosfir bumi yang berfungsi sebagai lapisan pelindung.

Energi yang dipancarkan oleh sebuah letusan pada Matahari sungguh amat dahsyat sehingga sulit dibayangkan akal manusia: Letusan tunggal pada matahari setara dengan ledakan 100 juta bom atom yang pernah dijatuhkan di Hiroshima. Bumi terlindungi dari pengaruh merusak akibat pancaran energi ini.

• BENTUK BULAT BUMI

"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam..." (Al Qur'an, 39:5)

Dalam Al Qur'an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai "menutupkan" dalam ayat di atas adalah "takwir"..Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala. Keterangan yang disebut dalam ayat.tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi.

Pernyataan ini hanya benar jika bumi berbentuk bulat. Ini berarti bahwa dalam Al Qur'an, yang telah diturunkan di abad ke-7, telah diisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat. Namun perlu diingat bahwa ilmu astronomi kala itu memahami bumi secara berbeda. Di masa itu, bumi diyakini berbentuk bidang datar, dan semua perhitungan serta penjelasan ilmiah didasarkan pada keyakinan ini. Sebaliknya, ayat ayat Al Qur'an berisi informasi yang hanya mampu kita pahami dalam satu abad terakhir. Oleh karena Al Qur'an adalah firman Allah, maka tidak mengherankan jika kata-kata yang tepat digunakan dalam ayat ayatnya ketika menjelaskan jagat raya.

• LANGIT YANG MENGEMBALIKAN

Ayat ke-11 dari Surat Ath Thaariq dalam Al Qur'an, mengacu pada fungsi "mengembalikan" yang dimiliki langit.

"Demi langit yang mengandung hujan." (Al Qur'an, 86:11)

Kata yang ditafsirkan sebagai "mengandung hujan" dalam terjemahan Al Qur'an ini juga bermakna "mengirim kembali" atau "mengembalikan". Sebagaimana diketahui, atmosfir yang melingkupi bumi terdiri dari sejumlah lapisan. Setiap lapisan memiliki peran penting bagi kehidupan. Penelitian mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan ini memiliki fungsi mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka terima ke ruang angkasa atau ke arah bawah, yakni ke bumi. Sekarang, marilah kita cermati sejumlah contoh fungsi "pengembalian" dari lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi tersebut. Lapisan Troposfir, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan. Lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa. Ionosfir, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh. Lapisan magnet memantulkan kembali partikel-partikel radioaktif berbahaya yang dipancarkan Matahari dan bintang-bintang lainnya ke ruang angkasa sebelum sampai ke Bumi.

Sifat lapisan-lapisan langit yang hanya dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut, telah dinyatakan berabad-abad lalu dalam Al Qur'an. Ini sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur'an adalah firman Allah.

Masih banyak bukti-bukti bahwa Islam memajukan peradaban. Dan pemilik opini bahwa Islam memundurkan peradaban manusia, hanya opini yang berlandaskan ketidak tahuan dan ketidak sukaan-nya pada Islam.

Semoga manfaat,

Sumber : Al-Qur'an & Astronomi, HARUN YAHYA (Miracle of the Qur'an)

Sirah Nabawiyah Jahiliyah dan sisa-sisa Hanifiyah


Ini juga merupakan muqaddimha penting yang harus dikaji sebelum memasuki pembahasan-pembahasan Sirah dan pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya. Sebeb, masalah ini mengandung suatu hakekat yang sering dipalsukan oleh musuh-musuh Islam.

Secara singkat hakekat tersebut ialah, bahwa Islam hanylaah merupakan kelanjutan dari hanifiyah yang dibawa oleh abu Al-Anbiya ( Bapak para Nabi), Ibrahim as. Hakekat ini secara tegas telah dinyatakan oleh kitab Allah di banyak tempat, antara lain :

„Dan berjihadlah pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kami dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama sesuatu kesempitan. (Ikutilah) agama (millah) orangtuamu Ibrahim. Dia ( Allah) telah menamai kamis ekalian orang-orang Muslim dari dahulu .......“ QS al-Hajj : 78

„Katakanlah „Benar (apa yang difirmankan ) Allah. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus (hanif), dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.“ QS Ali Imran : 95

Bangsa Arab adalah anak-anak Ismail as. Karena itu, mereka mewarisi millah dan minhaj yang pernah dibawa oelh bapak mereka. Millah dan minhaj yang menyerukan Tauhid alLah, beribadah kepada-Nya, mematuhi hukum-hukum-Nya, mengagungkan tempat-tempat suci-Nya, khususnya Baitul Haram, menghormati Syiar-syiar-Nya dan mempertahankannya.

Setelah beberapa kurun waktu, mereka mulai mencampur-adukkan kebenaran yang diwarisinyaitu dengan kebatilan yang menyusup kepada mereka. Seperti semua ummat dan bangsa, apabila telah dikuasai kebodohan dan dimasuki tukang-tukang sihir dan ahli kebatilan, maka masuklah kemusyrikan kepada mereka.

Mereka kembali menyembah berhala-berhala. Tradisi-tradisi dan kebejatan moral pun tersebar luar. Akhirnya mereka juh dari cahaya tauhid dan ajaran hanifiyah. Selama beberapa abad mereka hidup dalam kehidupan jahiliyah sampai akhirnya datang bi’tsah Muhammad saw.

Orang yang pertama kali memasukkan kemusyrikan kepada mereka dan mengajak mereka menyembah berhala adalah Amr bun Luhayyi bin Qam’ah, nenek moyang Bani Khuza’ah.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits at-Thamimy : Shalih as-Sman menceritakan kepadanya, bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata : „ Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda kepada Aktsam bin Jun al-Khuza’i , „Wahai Aktsam , aku pernah melihat Amr bin Luhayyi bin Qam’ah bin Khandaf ditarik usus-ususnya ke dalam neraka. Aku tidak melihat seorangpun mirip (Wajahnya) dengannya kecuali kamu.“ Lalu Aktsam berkata ,“Apakah kemiripan rupa tersebut akan membahayakan aku , ya Rasulullah ?“ Rasulullah saw menjawab,“Tidak sebab kamu Mu’min, sedangkan dia kafir. Sesungguhnya dia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Ismail as. Kemduian dia membuat patungpatung , memotong telinga binatang utnuk dipersembahkan kepada Thogut-thogut, menyembelih binatang untuk Tuhan-tuhan mereka, membiarkan unta-unta untuk sesembahan, dan memerintahkan tidak menaiki unta tertentu, karena keyakinan kepada berhala.“

Ibnu Hisyam meriwayatkan bagaimana Amr bin Luhayyi ini memarukkan penyembahan berhala kepada bangsa Arab. Ia berkata :“Amr bin Luhayyi keluar Mekkah ke Syam untuk suatu keperluannya. Ketika sampai di Ma’ab, di daerah balqa, pada waktu itu tempat tersebut terdapat anak keturunan ‘amliq bin Laudz bin Sam bin Nuh, dia melihat mereka menyembah berhala-berhala, lalu Amr bin Luhayyi berkata kepada mereka, „Apakah berhala-berhala yang kamu sembah ini ?“ Mereka menjawab,“ Ini adalah berhala-berhala yang kami sembah. Kami minta hujan kepadanya , lalu kami diberi hujan. Kami minta pertolongan kepadanya, lalu kami ditolong.“ Kemudian Amr bin Luhayyi berkata lagi,“Bolehkah kamu berikan satu berhala kepadaku untuk aku bawa ke negeri Arab agar mereka (juga) menyembahnya ?“ Maka merekapun memberi satu berhala ynag bernama Hubal. Lalu dibawanya pulang ke Mekkah dan dipasanglah berhala tersebut. Kemudian ia memerintahkan orang-orang untuk menyembah dan menghormatinya.

Demikianlah penyembahan berhala dan kemusyrikan telah tersebar di jazirah Arabia. Mereka telah meninggalkan aqidah Tauhid dan mengganti agama Ibrahim. Juga Ismail dan yang lainnya. Akhirnya , mereka mengalami kesesatan meyakini berbagai keyakinan yang keliru,d an melakuan tindakan-tindakan yang buruk, sebagaimana ummat-ummat lainnya.

Mereka melakukan itu semua karena kebodohan , keummiyan dan keinginan membalas dendam terhadap kabilah-kabilah dan bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya.

Meskipun demikian, di antara mereka masih terdapat orang-orang walaupun sedikit, yang berpegang teguh dengan aqidah tauhid dan berjalan sesuai ajaran hanifiyah , meyakini hari kebangkitan, mempercayai bahwa Allah akan memberi pahala kepada orang-orang yang taat dan menyiksa orang-orang yang berbuat maksiat, membenci penyembahan berhala ynag dilakukan oleh orang-orang Arab, dan mengecam kesesatan pikiran dan tindakan-tindakan buruk lainnya. Di antara sisa-sisa hanifiyah ini yang terkenal antara lain : Qais bin Sa’idah alAyahdi, Ri’ab asy-Syani dan pendeta Bahira.

Selain itu, dalam tradisi-tradisi mereka juga masih terdapat sisa-sisa prinsip-prinsip agama yang hanif dan syiar-syiarnya, kendatipun kian lama kian berkurang. Karenaitu kejahiliyahan mereka, dalam hal dan kadar tertentu, masih tershibghah (terwarnai) oelh pengaruh, prinsip-prinsip dan syiar-syiar hanifiyah. Sekalipun syiar-syiar dan pirnsip-prinsip tersebut hampir tidak nampak dalam kehidupan mereka, kecuali sudah dalam bentuknya yang tercemar. Seperti memuliakan Ka’bah, thawaf, haji, umrah, wuquf di Arafah dan berkurban. Semua itu merupakan syari’at dan warisan peribadatan sejak Nabi Ibrahim as. Tetapi mereka melaksanakannya tidak sesuau dengan ajaran yang sebenarnnya. Banyak hal yang sudah ditambahkan, seperti talbiyah haji dan umrah. Kabilah Kinanah dan Quraisy talbiyahnya mengucapkan : „Aku sambut (seruan-Mu) ya Allah, aku sambut (seruan-Mu). Aku sambut (seruan-Mu), tiada sekutu kecuali sekutu yang memang (pantas) bagi-Mu, yang Engkau dan dia miliki."

Setelah talbiyah ini, mereka membaca talbiyah yang mentauhidkan-Nya, dan memasuki Ka’bah dengan membawa berhala-berhala mereka.

Sebagai kesimpulan bahwa pertumbuhan sejarah Arab hanya berlangsung dalam naungan hanifiyah samhah yang dibawa oleh abul Anbiya , Ibrahim as . Pada mulanya kehidupan mereka disinari oelh aqidah tauhid, cahaya petunjuk dankeimanan. Kemudian sedikit demi sedikit bangsa Arab menjauhi kebenaran tersebut. Dlaam kurun waktu cukup lama, akhirnya kehdiuapn mereka berbalik dalam kehidupan yang penuh dengan kegelapan, kemusyrikan, dan kesesatan-kesesatan pemikiran. Kendatipun kebenaran rambu-rambu yang lama masih bergeliat dalam perjalanan sejarah mereka secara amat lamban, semakin lama bertambah lemah dan berkurang pendukungnya.

Ketika cahaya ad-Din al-Hanif merebak kembali dengan bi’tsah penutup para Nabi ( Muhammad saw), wahyu Illahi datang menyentuh segala kegepalan dan kesesatan yang telah berkarat selama rentang jaman tersebut. Kemudian menghapuskan dan menyinarinya dengan cahaya iman, tauhid, dan prinsip-prinsip keadilan, di samping menghidupkan kembali sisa-sisa hanifiyah yang ada.

Perlu ditegaskan di sini, bahwa apa yang kami tetapkan ini merupakan suatu hal yang sangat jelas bagi orang yang membaca sejarah dan memepelajari Islam. Tetapi untuk masa sekarang ini kita terpaksa membuang banyak waktu untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat aksiomatik dan hal-hal yang sudah jelas. Karena adanya sebagian orang yang mengalahkan keyakinan-keyakinan mereka sekedar memperturutkan hawa nafsunya.

Ya, orang-orang seperti ini hidup tanpa mempedulikan bhwa tindakan memperturutkan hawa nafsu tersebut hanya akan membelenggu akalnya dengan rantai-rantai perbudakan dan perbudakan pemikiran. Setiap roang pasti mengetahui betapa besar perbedaan antara orang yang meletakkan hawa nafsunya di belakang aqidahnya, dan orang yang meletakkan aqidahnya di belakang hawa nafsunya.

Sebagian orng mengatakan : bahwa kendatipun apa yang kami kemukakan di atas sudah jelas, maka jahiliyah sudah mulai menyadari jalan terbaik yang harus diikutinya, tidak lama sebelum bi’tsah Rasulullah saw. Pemikiran-pemikiran Arab sudah mulai menentang kemusyrikan, penyembahan berhala dan segala khurafat jahiliyah. Puncak kesadaran dan revolusi ini tercermin dengan bi’tsah Muhammad saw dan dakwahnya yang baru.

Makna dari pemikiran ini, bahwa sejarah jahiliyah semakin terbuka kepada hakekathakekat tauhid atau sinar hidayah. Yakni semakin jauh dari jaman Ibrahim as. Mereka semakin dekat dengan prinsip-prinsip dan dakwahnya, sehingga mencapai titik puncaknya pada bi’tsah Rasulullah saw.

Setiap pengkaji dan pembahas yang objektif pasti mengetahui bahwa masa diutusnya Rasulullah saw merupakan masa jahiliyah yang paling jauh dari hidayah dakwah Rasulullah saw , jika dibandingkan dengan masa-masa yang lain. Reruntuhan rambu-rambu hanifiyah pada bangsa Arab di masa bi’tsah Nabi saw yang tercermin pada percikan-percikan kebencian kepada berhala dan keengganan untuk menyembahnya, atau keengganan menolak nilai-nilai Islam. Sisa-sia reruntuhan ini, tidak mencapai sepersepuluh dari apa ang muncul dengan jelas dalam kehiduapn mereka beberapa abad sebelumnya. Sesuai dengan arti nubuwwah dan bi’tsah oleh orang-orang tersebut, semestinya bi’tsah nabi saw terjadi beberapa abad sebelumnya.

Ada pula sementara orang yang mengatakan bahwa ketika Muhammad saw tidak mampu menghapuskan sebagian besar kebiasan, tradisi, ritual dan keyakinan yang ada pada bangsa Arab, maka dia berusaha emmberikan baju agama kepada semua hal tersebut dan menampilkannya dalam bentuk taklifaht Ilahiyah. Dwengan ungkapan lain, Muhammad hanya menambah kepada sejumlah keyakinan ghaibiyah bangsa Arab, suatu riqabah ‘ulya (pengawasan tertinggi) ynag berujud Illah ynag Maha Kuasa atas segala hal yang dikehendakinya. Sesudah Islam, bangsa Arab masih terus meyakini sihir, jin, dan kepercayaan-kepercayaan serupa. Sebagaimana halnya mereka masih melakukan thawaf di Ka’bah emmuliakan dan menunaikan ritual-ritual, serta syiar-syiar tertentu yang tidak jauh berbeda dari yang dahulu mereka lakukan.

Tuduhan mereka ini sesungguhnya beranjak dari dua dipothesa. Pertama , bahwa Muhammad saw bukanlah Nabi, kedua bahwa sisa-sisa hanifiyah dari jaman Nabi Ibrahim ang terdapat ditengah-tengah kehidupan bangsa Arab yang kita bahas tadi, hanylaah kreasi mereka belaka, dan tradisi yang mereka ciptakan sendiri. Penghormatan kepada Ka’bah dan pengagungannya bukanlah pengaruhdari abul Al Anbiyah, Ibrahim as, tetapi hanyalah merupakan sesuatu yang diciptakan oleh sejumlah lingkungan Arab. Dengan demikian, ia hanyalah salah satu dari sejumlah tradisi bangsa Arab yang beraneka ragam.

Untuk mempertahankan kedua hipotesa tersebut, mereka terpaksa menolak semau bukti dan data sejarah yang akan membatalkan hipotesa dan menyatakan kepalsuannya

Tetapi sebagaimana diketahui, penarian suatu hakekat itu tidak mungkin dapat dicapai oleh seseorang selama dia tidak mau menempuh jalan yang menuju kepadanya, kecuali dalam batas hipotesa yang dengan apriori telah dibuatnya sebelum melakukan pembahasan apapun. Tidak perlu dijelaskan , bahwa pembahasan hanya seperti salah satu bentuk permainan yang lucu.

Kita tidak bisa menolak sma sekali pemikiran tentang adanya bukti-bukti kenabian Muhammad asw yang beraneka ragam, seperti fenomena wahyu, mu’jizat al-Quran, dan fenomena kesucian dakwahnya dengan dakwah para nabi terdahulu bersama sejumlah sifat dan akhlaknya , hanya karena kita harus menerima hipotesa bahwa Muhammad bukan Nabi.

Kita juga tidak bisa menolak pemikiran sejarah yang menyatakan bahwa Ibrahim as telah membangun Ka’bah yang mulia atas perintah dan wahyu dari Allah swt. Kita tidak bisa menolak pemikiran sejarah yang menyatakan bahwa para Nabi secara berantai telah berdakwah kepada tauhidullah, meyakini masalah-masalah ghaib yang berkaitan dengan hari kemudian (kebangkitan), pembalasan, surga dan neraka yang telah disebutkan oleh nash-nash kitab Samawi terdahulu, dan telah dibenarkan oleh sejarah dan semua generasi, hanya karena kita harus menerima suatu hipotesa yang menyatakan bahwa apa yang disebut sisa-sisa jaman Ibrahim pada masa jahiliyah itu tidak lain hanyalah tradisi-tradisi yang diciptakan oleh pemikir bangsa Arab dan Muhammad saw hanya datng untuk mengecatnya dengan cat agama.

Perlu diketahui , bahwa orang-orang yang mengeluarkan tuduhan semacam itu tidak memiliki bukti dan dalil-dalil sama sekali. Mereka hanya mengemukakan dan melontarkan lontaran-lontaran pemikiran yang tidak ilmiah sama sekali.

Jika anda memerlukan contohnya, bacalah kitab Sistem pemikiran agama yang ditulis oleh seorang orientalis Inggris kesohor H:A:R Gibb. Di dalam buku ini Anda dapat mencium bau fanatisme buta terhadap orang-orang terebut. Fanastisme aneh yang saling emndorong seseorang untuk menghindari faktor-faktor kehormatannya sendiri dan berlagak pilon terhadap segudang dalil dan bukti yang nyata, hanya supaya tidak memaksanya untuk menerimanya.

Sistem pemikiran agama di dalam Islam, menurut pandangan Gibb, tidaklah berbeda dengan berbagai kepercayaan pemikiran-pemikiran tresendal yang ada dalam diri bangsa Arab. Muhammad telah merenungkan kemudian mengubah bagian-bagian yang diubahnya. Untuk hal-hal yang tidak dapat dihindarinya, dia telah menutupinya dengan kain agama Islam. Kemudian tidak lupa mendukungnya dengan suatu kerangka pemikiran dan sikap-sikap agama yang cocok. Di sinilah dia menghadapi kemusyrikan besar. Karena dia ingin membangun kehidupan agma ini ubkan hanya untuk bangsa Arab, tetapi untuk semua bangsa dan ummat . Maka dia tegakkan kehidupan agama ini dalam sistem al-Quran.

Itulah inti pemikiran Gibb di dalam bukuna tersebut. Jika Anda baca dari awal hingga akhir. Anda tidak akan menemukan suatu argumen pun yang dikemukakannya. Dan jika anda perhatikan pendapat yang dilontarkannya, anda tidak meragukan lagi bahwa pada waktu menulis dia telah membesi-tuakan segala potensi intelektualnya, dan sebagai gantinya digunakan daya khayalnya sepuas-puasnya

Nampaknya ketika menulis pengantar terjemahan Arabnya, dia telah membayangkan bagaimana para pembaca akan menyerang pemikiran-pemikirannya yang telah menghina Islam tersebut. Sehingga dia berkelit dengan mengatakan :“ Sesungguhnya pemikiran-pemikiran yang terkandung dalam buku ini bukanlah hasil pemikiran penuls, tetapi merupakan pemikiranpemikiran yang sebelum ini telah dikemukakan oleh para pemikir dan pakar kaum Muslim, yang terllau banyak untuk dikemukakan di sini, Tetapi cukup saya sebutkan salah seorang di antara mereka ,yaitu : Syaikh Syah Waliyullah ad-Dahlawi.

Kemudian Gibb mengutipkan suatu naskah dri kitab Syaikh Waliyullah ad-Dahlawi, Hujjatu al-Lah Balighah ( I:122). Nampaknya dia menyangka tak seorangpun dari pembaca akan memeriksa teks kitab tersebut, lalu dengan sengaja dia ubah dan palsukan teks telah yang diubah dan dipalsukan oleh Gibb adalah : „Sesungguhnya Nabi Muhammad saw diutus dalam suatu bi’tsah yang meliputi bi’tsah lainya. Yang pertama kepada Bani Israil. Bi’tsah ini mengharuskan agar materi syari’atnya berupa syiar-syiar, cara ibadat dan segi-segi kemanfaatan yang ada pada mereka. Sebab syari’at hanylaah merupakan perbaikan terhadap apa yang ada pada mereka. Bukan pembebanan dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui sama sekali

Padahal teks yang terdapat di dalam Hujjatul-Lah Balighah secara utuh adalah seagaiberikut :
„Ketahuilah, bahwa Nabi Muhammad saw diutus dengan membawa hanifiyah Isma’il untuk meluruskan kebengkokan , membersihkan kepalsuannya dan memancarkan sinarnya. Firman Allah:“Millah orang tuamu Ibrahim.“ Karena itu dasar-dasar millah tersebut harus diterima dan sunnah-sunnahnya harus ditetapkan. Sebab Nabi saw diutus pada sautu kaum yangmasih terdapat pada mereka sisa sunnah yang terpimpin. Jadi tidak perlu mengubahnya atau menggantinya. Bahkan wajib menetapkannya, karena hal itu lebih disukai oelh mereka, dan lebih kuat bila dijadikan hujjah atas mereka. Anak-anak keturunan Isma’il mewarisi ajaran bapak mereka (isma’il)“. Mereka melaksanakan sari’at tersebut sampai datang Amr bin Luhayyi yang memasukkan pemikiran-pemikiran ynag sesat dan menyesatkan. Ia ( Amr bin Luhayyi) mensyariatkan penyembahan berhala dan kepercayaan-kepercayaan sesat sama sekali. Sejak itulah agama menjadi rusak. Yang benar bercampur aduk dengan yang batil, sehingga kehidupan mereka dikuasai oelh kebodohan, kerusakan dan kemusyrikan.

Kemudian Allah swt mengutus Nabi Muhammad saw untuk meluruskan kebengkokan mereka dan memperbaiki keruskan mereka. Lalu Rasulullah saw meninjau syariat mereka. Apa yang sesuai dengan ajaran Isma’il atau syiar-syiar Allah ditetapkannya. Apa yang sudah rusak atau diubah atau termasuk syiar kemusyrikan atau kebatilan, dibatalkan dan dicatatnya pembatalan tersebut.

Tidak syak lagi bahwa kami tidak mengemukakan pendapat pembahas ini untuk dibahas dan didiskusikan. Adalah sia-sia mendiskusikan omong kosong seperti ini. Tetapi kami bermaksud agar para pembaca mengetahui sejauh mana fanatisme buta ini mempengaruhi seseorang. Hal inilah yangingin penulis ingatkan. Yaitu, sejauh manakah metodologi dan objektifitas pembahasan ilmuwan barat yang oelh sebagian orang diagung-agungkan itu.

Dari uraian terdahulu jelaslah bagaimana kaitan antara Islam dan pemikiran jahiliyah yang berkembang di kalangan orang Arab seblum kedatangan Islam. Dan dapat diketahui pula bagaimana kaitan antara masa jahiliyah dan millah hanifiyah yang telah dibawa oelh Ibrahim as.

Dari sini dapat diketahui pula mengapa Rasulullah saw banyak menetapkan tradisitradisi dan prinsip-prinsip yang sebelumnya teleh berkembang di kalangan orang Arab. Tetapi pada waktu yang sama , Rasulullah saw juga menghapuskan dan memerangi lainnya.

Dengan demikian kami telah cukup menjelaskan beberapa muqoddimah ynag diperlukan untuk melakukan kajian terhadap essensi Sirah Nabawiyah dan mengistinbath fiqh dan pelajaran-pelajarannya.

Pada kajian-kajian mendatang. Anda akan mendpatkan bukti dan penjelasan yang menegaskan apa yang telah kami kemukakan di atas.

__________
Sumber : Sirah Nabawiyah, hal. 10-16.

Respon Quest - Nama Nabi Adam yang muncul tiba-tiba

NAMA NABl ADAM YANG MUNCUL TIBA-TIBA

Ini menjadi salah satu dari sekian dalih para penghujat islam dalam meruntuhkan iman seorang muslim. Saya pernah menemui pertanyaan ini, "kenapa nama Adam muncul tiba-tiba dalam Al-Qur'an"??

Tanggapan :

Dalam surah Al-Baqarah ayat 31

"Dan dia mengajarkan kepada ADAM....."

Memang nama Adam dalam Al-Qur'an muncul begitu saja tanpa keterangan sebab dinamakannya Adam, tapi itu tidak menjadikan hal inibsebagai dalih ketidak sempurnaan Al-Qur'an. Karena Al-Qur'an bukanlah novel yang harus menjelaskan secara detail, apa-apa saja yang ada pada seseorang, atau tempat, atau setia sudut2 yang memang itu tidak perlu..!!

Satu hal yang menjadi salah satu dari sekian cara mereka untuk merenggut keislaman seorang muslim adala dengan mengajukan pertanyaan diatas..

Lalu bagaimana, memberikan pengertian tentang ini ??

Dalam bahasa Arab dan juga Ibrani "Adam" berarti; Tanah, Manusia, atau Cokelat muda.

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Adam

Dari makna kata Aslinya seperti diatas, pastinya kita bisa memahami mengapa manusia pertama disebut Adam oleh Allah.. karena memang manusia pertama diciptakan dari pada Tanah, dan pada umumnya warna tanah adalah cokelat muda,, itulah hal yang harus kita tahu,

Jujur saya katakan ini adalah tuduhan murahan dari nonmuslim yang selalu
mencari2 pembenaran ajarannya dan mencari2 kesalahan Al-Quran. Jika mereka memahami konsep bahasa Al-Quran, konteks masa Al-Quran, dan juga risalah dalam Al-Quran, serta diperuntukan kepada siapa Al-Quran. Insya Allah mereka akan mengerti bahwa Al-Quran adalah sempurna.

Minggu, 12 Mei 2013

Perjanjian Lama dan Sains

Dr. Maurice Bucaille mengungkapkan bahwa Bibel memiliki banyak kontradiksi dengan fakta Sains Modern, Perjanjian Lama pun Perjanjian Baru. Salah satu kontradiksi itu terdapat pada Perjanjian Lama yakni kitab Kejadian.

Ada tiga persoalan yang dipaparkan oleh Dr. Maurice Bucaille mengenai kontradiksi didalam kitab kejadian dengan Sains modern,

1). Penciptaan alam dan tahap-tahapnya.
2). Waktu penciptaan alam dan waktu timbulnya manusia di atas bumi.
3). Riwayat banjir Nuh.

1. Penciptaan Alam

Sebagai yang telah dikatakan oleh R. P. de Vaux, Kitab Kejadian bermula dengan dua riwayat mengenai penciptaan alam. Oleh karena itu kita perlu menyelidiki kedua riwayat itu secara terpisah untuk mengetahui kesesuaiannya dengan penyeiidikan-penyelidikan ilmiah.

RIWAYAT PERTAMA

Riwayat pertama memenuhi fasal I dan ayat-ayat pertama dari fasal II. Riwayat ini merupakan contoh yang sangat menonjol tentang ketidak tepatan ilmiah. Kita perlu melakukan kritik sebaris demi sebaris. Teks yang kita muat di sini adalah teks menurut terjemahan Lembaga Bibel Yerusalem, (Ecole Biblique de Yerusalem).

Dalam bahasa Indonesia, diambil dari Al Kitab cetakan Lembaga Alkitab Indonesia tahun 1962. (Rasjidi).

Fasal 1, ayat 1 dan 2,

1. "Bahwa pada mula pertama dijadikan Allah akan langit dan bumi.

2. Maka bumi itu lagi campur baur adanya, yaitu suatu hal yang ketutupan kelam kabut; maka Roh Allah melayang-layang diatas muka air itu."

Kita dapat menerima bahwa pada tahap bumi belum diciptakan, apa yang kemudian menjadi alam yang kita ketahui sekarang masih tenggelam dalam kegelapan, akan tetapi tersebutnya adanya air pada periode tersebut hanya merupakan alegori (kiasan) belaka mungkin sekali ini adalah terjemahan suatu mitos. Kita akan melihat dalam bagian ketiga dari buku ini bahwa pada tahap permulaan dari terciptanya alam yang terdapat adalah gas. Maka disebutkannya air di situ adalah suatu kekeliruan.

Ayat 3 sampai 5

3. "Maka firman Allah: Hendaklah ada terang. Lalu terangpun jadilah.

4. Maka dilihat Allah akan terang itu baiklah adanya, lalu diceraikan Allah terang itu dengan gelap.

5. Maka dinamai Allah akan terang itu siang dan akan gelap itu malam. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang pertama

Cahaya yang menerangi alam adalah hasil daripada reaksi kompleks yang terjadi pada bintang-bintang. Hal ini akan kita bicarakan pada bagian ketiga daripada buku ini. Pada tahap penciptaan alam yang kita bicarakan sekarang, menurut Bibel, bintang-bintang belum diciptakan, karena sinar di langit baru disebutkan dalam ayat 14 dari Kitab Kejadian, yaitu sebagai ciptaan pada hari keempat, untuk "memisahkan siang daripada malam," "untuk menerangi bumi." Dan ini semua betul. Tetapi adalah tidak logis untuk menyebutkan efek (sinar) pada hari pertama, dengan menempatkan penciptaan benda yang menyebabkan sinar (bintang-bintang) tiga hari sesudah itu. Lagipula menempatkan malam dan pagi pada hari pertama adalah alegori (kiasan) semata-mata, karena malam dan pagi sebagai unsur hari tak dapat digambarkan kecuali sesudah terwujudnya bumi dan beredarnya di bawah sinar planetnya yaitu matahari.

Ayat 6 sampai 8

6. "Maka firman Allah: Hendaklah ada suatu bentangan pada sama tengah air itu supaya diceraikan dengan air.

7. Maka dijadikan Allah akan bentangan itu serta diceraikanlah air yang di bawah bentangan itu dengan air yang di atas bentangan. Maka jadilah demikian.

8. Lalu dinamai Allah akan bentangan itu langit. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang kedua."

Mitos air diteruskan dalam ayat-ayat tersebut dengan memisahkan air menjadi dua lapisan, di tengahnya adalah langit. Dalam riwayat Banjir Nabi Nuh, langit membiarkan air menanjak, dan air itu kemudian jatuh ke tanah. Gambaran bahwa air terbagi menjadi dua kelompok tak dapat diterima secara ilmiah.

Ayat 9 sampai 13

9. "Maka firman Allah: Hendaklah segala air yang di bawah langit itu berhimpun kepada satu tempat, supaya kelihatan yang kekeringan itu; maka jadilah demikian.

10. Lalu dinamai Allah akan yang kekeringan itu darat, dan akan perhimpunan segala air itu dinamainya laut; maka dilihat Allah itu baiklah adanya.

11. Maka firman Allah: Hendaklah bumi itu menumbuhkan rumput dan pokok yang berbiji dan pohon yang berbuah-buah dengan tabiatnya yang berbiji dalamnya di atas bumi itu; maka jadilah demikian.

12. Yaitu ditumbuhkan bumi akan rumput dan pokok yang berbiji dengan tabiatnya dan pohon-pohon yang berbuah-buah yang berbiji dalamnya dengan tabiatnya; maka dilihat Allah itu baiklah adanya

13. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang ketiga."

Fakta bahwa pada suatu periode dalam sejarah bumi, ketika bumi ini masih tertutup dengan air, terjadi bahwa daratan-daratan mulai muncul, adalah suatu hal yang dapat diterima secara ilmiah. Akan tetapi bahwa pohon yang mengandung biji-biji bermunculan sebelum terciptanya matahari (yang menurut Kitab Kejadian, baru tercipta pada hari keempat), dan juga bahwa siang dan malam silih berganti sebelum terciptanya matahari, hal tersebut sama sekali tak dapat dipertahankan.

Ayat 14 sampai 19

14. "Maka firman Allah: Hendaklah ada beberapa benda terang dalam bentangan langit supaya diceraikannya siang dengan malam dan menjadi tanda dan ketentuan masa dan hari dari tahun.

15. Dan supaya ia itu menjadi benda terang pada bentangan langit akan menerangkan bumi; maka jadilah demikian.

16. Maka dijadikan Allah akan kedua benda terang yang besar itu, yaitu terang yang besar itu akan memerintahkan siang dan terang yang kecil akan memerintahkan malam, dan lagi segala bintang pun.

17. Maka ditaruh Allah akan dia dalam bentangan langit akan memberi terang di atas bumi. 18. Dan akan memerintahkan siang dan malam dan akan menceraikan terang itu dengan gelap maka dilihat Allah itu baik adanya.

19. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang ke empat."

Di sini gambaran yang diberikan oleh pengarang Injil dapat diterima. Satu-satunya kritik yang dapat kita lemparkan terhadap ayat-ayat tersebut adalah tempat dan letaknya dalam hikayat penciptaan alam seluruhnya. Bumi dan bulan telah memisahkan diri daripada matahari; menempatkan penciptaan matahari dan bulan sesudah penciptaan bumi adalah bertentangan dengan hal-hal yang sudah disetujui secara pasti dalam ilmu pengetahuan mengenai tersusunnya alam bintang-bintang.

Ayat 20 sampai 23

20. "Maka firman Allah: Hendaklah dalam segala air itu menggeriak beberapa kejadian yang bernyawa dan yang sulur menyulur, dan hendaklah ada unggas terbang di atas bumi dalam bentangan langit

21. Maka dijadikan Allah akan ikan raya yang besar-besar dan segala binatang sulur menyulur yang menggeriak dalam air itu tetap dengan tabiatnya, dan segala unggas yang bersayap dengan tabiatnya, maka dilihat Allah itu baik adanya.

22. Maka diberkati Allah akan dia, firmannya: Jadilah biak dan bertambah kamu dan damaikanlah air yang di dalam laut itu dan hendaklah segala unggas itupun bertambah-tambah di atas bumi.

23. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang kelima."

Ayat-ayat tersebut mengandung hal-hal yang tak dapat diterima.

Timbulnya binatang-binatang, menurut Kitab Kejadian, bermula dengan binatang-binatang laut dan burung-burung. Menurut Bibel, adalah pada hari keesokannya bahwa bumi dihuni oleh binatang-binatang (kita akan melihatnya dalam ayat-ayat selanjutnya); Sudah terang bahwa asal kehidupan itu dari laut; kita akan membicarakan hal tersebut pada bagian ketiga daripada buku ini. Setelah adanya kehidupan di laut, daratan dihuni oleh binatang-binatang. Di antara binatang-binatang yang hidup diatas bumi, ada suatu jenis reptil (binatang melata) yang dinamakan pseudo suchiens yang hidup pada periode kedua dan yang dikirakan menjadi asal burung-burung. Beberapa sifat-sifat biologis yang bersamaan menguatkan sangkaan ini. Tetapi binatang-binatang darat tidak disebutkan oleh Kitab Kejadian, kecuali pada hari ke enam, setelah munculnya burung-burung, oleh karena itu maka urutan munculnya binatang darat dan burung-burung tak dapat diterima.

Ayat 24 sampai 31

24. "Maka firman Allah: hendaklah bumi itu mengeluarkan kejadian yang hidup dengan tabiatnya yaitu daripada yang jinak dan yang menjalar dan yang liar, tiap-tiap dengan tabiatnya, maka jadilah demikian.

25. Maka dijadikan Allah akan segala binatang yang liar di atas bumi itu dengan tabiatnya, dan segala binatang yang jinak pun dengan tabiatnya dan segala binatang yang menjalar di atas bumipun dengan tabiatnya, maka dilihat Allah itu baiklah adanya.

26. Maka firman Allah: Baiklah kita menjadikan manusia atas peta dan atas teladan kita supaya diperintahkannya segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang di udara dan segala binatang yang jinak dan seisi bumi dan segala binatang melata yang menjalar di tanah.

27. Maka dijadikan Allah akan manusia itu atas petanya yaitu atas peta Allah dijadikannya ia, maka dijadikannya mereka itu laki-laki dan perempuan.

28. Maka diberkati Allah akan keduanya serta firmannya kepadanya: berbiaklah dan bertambah-tambahlah kamu dan penuhilah olehmu akan bumi itu dan taklukkanlah dia, dan perintahkanlah segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang di udara dan segala binatang yang menjalar di atas bumi.

29. Lagi firman Allah: bahwa sesungguhnya Aku telah memberikan kamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji-biji di atas seluruh muka bumi dan segala pohon yang berbuah dengan berbiji itu akan makananmu.

30. Tetapi akan segala binatang liar yang di bumi dan segala binatang yang menjalar di atas bumi, yang ada nyawa hidup dalamnya, maka Aku mengaruniakan segala tumbuh-tumbuhan yang hijau akan makanannya maka jadilah demikian.

31. Maka dilihat Allah akan tiap-tiap sesuatu yang dijadikannya itu, sesungguhnya amat baiklah adanya. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang ke enam."

Ini adalah gambaran selesainya penciptaan alam. Dalam gambaran itu pengarang menyebutkan segala makhluk yang hidup yang tidak disebutkan sebelumnya, dan mengingatkan kepada bahan makanan yang bermacam-macam yang diperuntukkan bagi manusia dan binatang. Kesalahannya, sebagai yang telah kita lihat, adalah dalam menempatkan munculnya binatang-binatang darat sesudah burung-burung. Tetapi munculnya manusia di atas bumi di tempatkan secara benar sesudah munculnya makhluk-makhluk hidup yang lain. Riwayat penciptaan alam selesai dengan tiga ayat pertama dari fasal II.

1. "Demikianlah sudah dijadikan langit dan bumi serta dengan segala isinya.

2. Maka pada hari yang ke tujuh setelah sudah disampaikan Allah pekerjaannya yang telah diperbuatnya itu, maka berhentilah ia pada hari yang ke tujuh itu dari pekerjaannya, yang telah diperbuatnya.

3. Maka diberkati Allah akan hari yang ke tujuh itu serta disucikannya karena dalamnya ia berhenti dari pekerjaannya, yang telah diperbuatnya, akan menyempurnakan dia.

4. Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan langit dan bumi

Ayat mengenai hari ketujuh ini memerlukan komentar:

Pertama mengenai arti kata-kata. Teks tersebut adalah terjemahan dari Lembaga Bibel Yerusalem.

Ayat pertama berbunyi: "Demikianlah sudah dijadikan langit dan bumi serta dengan segala isinya." Perkataan terakhir dalam bahasa Perancis terjemahan Lembaga Al Kitab Yerusalem berbunyi "avec toute leur armee,' yang artinya, dengan segala bala tentaranya.

Ayat kedua mengandung kata, berhentilah ia daripada pekerjaannya. Yang dimaksudkan adalah beristirahatlah, sebagai terjemahan Ibrani "chabbat." Dan sampai hari ini, hari Sabtu merupakan hari istirahat bagi orang Yahudi. Sudah terang bahwa "istirahat" yang dilakukan Tuhan setelah bekerja keras selama enam hari adalah suatu legenda, akan tetapi legenda itu ada tafsirannya.

Kita harus ingat bahwa riwayat penciptaan Tuhan yang kita bicarakan di sini berasal dari tradisi sakderdotal atau tradisi pendeta-pendeta, yakni tradisi yang ditulis oleh para pendeta atau juru tulis yang merupakan pewaris spiritual dari Yehezkiel, nabi Bani Israil pada waktu pengasingan di Babylon, pada abad VI SM. Kita mengetahui bahwa para pendeta mengolah versi Yahwist dan Elohist daripada Kitab Kejadian, menyusunnya menurut selera mereka, dan menurut adat kebiasaan mereka yang mementingkan segi hukum sebagai diterangkan oleh R.P. de Vaux. Kita telah membicarakan segi ini pada lain tempat.

Teks Yahwist tentang penciptaan alam adalah lebih tua beberapa abad daripada teks Sakerdotal, dan tidak menyebutkan bahwa Tuhan beristirahat setelah bekerja keras enam hari seperti yang disebut oleh penulis teks Sakerdotal. Penulis teks Sakerdotal membagi waktu penciptaan alam dalam hari-hari yang disamakan dengan hari-hari seminggu yang biasa serta menekankan istirahat hari Sabtu yang mereka rasa harus dipertahankan kepada pengikut-pengikut mereka dengan mengatakan bahwa Tuhanlah yang pertama menghormati hari Sabtu itu. Dengan bertitik tolak dari segi praktis ini, maka riwayat penciptaan alam disajikan dengan logika keagamaan yang semu, yang hasil-hasil penyelidikan ilmiah membuktikannya sebagai khayalan belaka.

Menyelipkan hari ke tujuh (daripada hari-hari satu minggu) dalam tahap-tahap penciptaan alam dengan maksud agar para pengikut agama menghormati hari Sabtu seperti yang dilakukan oleh pengarang sumber Sakerdotal, tak dapat dipertahankan secara ilmiah. Pada waktu sekarang, semua orang tahu bahwa terciptanya alam, termasuk di dalamnya bumi tempat hidup kita telah terjadi dalam tahap waktu yang sangat panjang, yang penyelidikan ilmiah belum dapat memastikan walaupun secara "kurang lebih." Hal ini akan kita bicarakan dalam bagian ketiga daripada buku ini, yakni pada waktu kita membicarakan tentang penciptaan alam menurut Al Qur-an.

Seandainya riwayat penciptaan alam selesai pada malam hari yang ke 6, dan tidak menyebutkan hari ke tujuh atau Sabat waktu Tuhan beristirahat, atau seandainya kita tafsirkan enam hari di Perjanjian Lama itu sebagai enam periode seperti yang tersebut dalam Al Qur-an, riwayat Sakerdotal tetap tak dapat diterima karena urutan periode-periode tersebut sangat kontradiksi dengan dasar-dasar ilmiah yang elementer. Dengan begitu maka riwayat Sakerdotal merupakan konstruksi imaginatif yang lihay yang mempunyai suatu tujuan, dan tujuan itu bukan untuk memberitahukan suatu kebenaran.

Riwayat kedua tentang penciptaan alam yang termuat dalam Kitab Kejadian sesudah riwayat pertama, dengan tanpa peralihan (transisi) dan tanpa komentar, tidak menjadi sasaran kritik yang dilancarkan terhadap riwayat pertama. Kita harus ingat bahwa riwayat ini berasal dari periode yang jauh lebih kuno, kira-kira 3 abad.

Riwayat ini pendek sekali, akan tetapi membicarakan juga penciptaan manusia dan surga dunia di samping membicarakan penciptaan bumi dan langit secara sangat singkat. Beginilah bunyinya:

Fasal 2, 4b-7

4. "Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan langit dan bumi.

5. Pada masa itulah belum ada tumbuh-tumbuhan di atas bumi dan tiada pokok bertunas di padang, karena belum lagi diturunkan Tuhan Allah hujan kepada bumi dan belum ada orang akan membelakan tanah itu.

6. Melainkan naiklah uap dari bumi serta membasahkan segala tanah itu.

7. Maka dirupakan Tuhan Allah akan manusia itu daripada debu tanah dan dihembuskannya nafas hidup ke lubang hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi suatu nyawa yang hidup adanya."

Itulah; riwayat Yahwist yang terdapat dalam Bibel yang kita miliki sekarang.

Apakah riwayat ini yang kemudian ditambah dengan riwayat Sakerdotal, memang dari permulaan adalah sangat singkat? Tak ada orang yang dapat mengatakan bahwa teks Yahwist pernah dipotong, dan tak ada pula orang yang dapat mengatakan bahwa beberapa baris yang kita miliki itu merupakan segala sesuatu yang termuat dalam teks yang lebih kuno daripada Bibel mengenai penciptaan alam. Sesungguhnya riwayat Yahwist tersebut tidak menyebutkan terbentuknya bumi dan langit.

Riwayat tersebut hanya memberi gambaran bahwa ketika Tuhan menciptakan manusia, tak terdapat pohon-pohonan di atas bumi (belum pernah ada hujan), meskipun air yang datang dari dalam bumi menutupi dataran bumi. Teks selanjutnya memberi konfirmasi karena ayat 8 mengatakan: "Maka diperbuat Tuhan Allah pula suatu taman dalam Eden, di sebelah Timur, maka di sanalah ditaruhnya akan manusia yang telah dirupakannya itu."

Dengan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa pohon-pohonan tumbuh pada waktu yang sama dengan diciptakannya manusia. Ini secara ilmiah tidak benar, manusia muncul di atas bumi lama setelah tumbuh-tumbuhan ada, walaupun kita tidak tahu berapa juta tahun perbedaan antara dua kejadian itu.

Itulah satu-satunya kritik yang dapat dilontarkan kepada teks Yahwist. Dengan tidak mengatakan bahwa manusia diciptakan Tuhan bersamaan dengan diciptakannya alam dan bumi, dua hal yang dikatakan oleh teks Sakerdotal sebagai dua hal yang terjadi dalam satu minggu, teks Yahwist terhindar dari kritik berat yang dilontarkan orang terhadap teks Sakerdotal

( Bibel, Qur'an, dan Sains Modern, hal. 41-48)